Puisi Penyesalan Karya Chairil Anwar

Syair dan puisi Chairil Anwar yang dimuat dalam koleksi ini hanyalah puisi-puisi polos Chairil Anwar, ditambah dengan dua buah sajak saduran. Tembang yang tadinya sonder titel, dalam antologi ini diberi judul guna kemujaraban praktis (misalnya buat melajukan pengutipan.

Sistematika penulisan pusparagam tembang Chairil Anwar ini disusun secara kronologis (tahun). Dengan begitu, pembaca dapat melihat jalan sajak-sajak dan puisi Chairil Anwar pecah awal hingga penutup.

Sendang yang digunakan kerjakan merumuskan antologi ini adalah: (1) Chairil Anwar,
Dahanam Campur Debu
(Jakarta: Pembangunan, (1966), (2) Chairil Anwar,
Kerikil Drastis dan Yang Terampas dan Yang Tersayat
(Jakarta: Dian Rakyat, (1981), (3) Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Luhur,
Tiga Mengaung Takdir
(Jakarta: Balairung Pustaka, 1950), (4) H.B. Jassin (ed.),
Chairil Anwar Otak Angkatan 45
(Jakarta: Argo Agung, (1983), dan (5) H.B. Jassin (ed.),
Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang
(Jakarta: Auditorium Pustaka, (1975).

Tembang Chairil Anwar 1942

Nisan

untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima barang apa start
Tidak kutahu sepadan itu atas tepung
dan duka maha tuan bertakhta.

Oktober 1942

PENGHIDUPAN

Lautan maha dalam
mukul dentur selama
nguji tenaga pematang kita

mukul dentur selama
hingga hancur remuk redam Arti Bahgia
katai setumpuk
batal dilindung, mansukh dipupuk.

Desember 1942

Sajak Chairil Anwar 1943

Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
empunya hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Bukan gentar. Antiwirawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa sirep.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang berpalu
Asisten merek menyerbu.

Sekali berjasa
Sudah lalu itu mati.

Modern

Bagimu Provinsi
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda

Biarpun dalam ajal baru tercapai
Jika spirit harus merasai.

Beradab.
Serbu.
Serbu.
Terjang.

Februari 1943

TAK SEPADAN

Aku kira:
Beginilah nanti karenanya
Kau kawin, melahirkan dan berbintang terang
Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.

Dikutuk sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu membengang.

Makara baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

Februari 1943

SIA-SIA*

Pengunci kali itu kau datang
Mengapalkan karangan kembang
Mawar abang dan melati putih:
Talenta dan suci.
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Buruk perut? Keduanya enggak mencerna.

Sehari itu kita bersama.
Enggak hampir merayapi.

Ah! Hatiku yang tak mau menjatah
Mampus kau dikoyak koyak sepi.

Tawar*

Pengunci boleh jadi itu kau datang
Membawa kembang berkarang
Ros merah dan melati putih
Darah dan Polos
Kau tebarkan depanku
Serta pandang nan memastikan: untukmu.

Suntuk kita sekelas termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Bosor makan? Kita empat mata tak mencerna

Sehari kita bersama. Lain hampir menghampiri

Ah! Hatiku yang lain mau memberi
Mampus kau dikoyak koyak sunyi.

Februari 1943

Invitasi*

Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar waktu ini
Di ruang legah lapang
Mari rangah pun
Sapta belas masa kembali
Mengayuh proporsional gandengan
Kita jalani ini urut-urutan

Ria bahgia
Bukan acuh apa-segala
Gembira girang
Biar hujan nomplok
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar sangar sekali lagi.

Februari 1943

Koteng

Hidupnya tambah tenang, tambah kosong
Malam barang apa lagi
Ia menjerit merembah
Dicekik kesenyapan kamarnya

Sira membenci. Dirinya pecah segala
Yang minta perempuan cak bagi kawannya
Bahaya dari tiap tesmak. Mendekat juga
Privat ketakutan-menanti engkau menyebut satu etiket

Kaget ia terduduk. Siapa menegur itu?
Ah! Lembam lesu beliau tersedu: Ibu! Ibu!

Februari 1943

PELARIAN

I

Tak tertahan lagi
remang miang sengketa di sini

Dalam lari
Dihempaskannya bab keras tak berhingga.

Hancur-luluh sepi tahu-tahu
Dan paduan dua spirit.

II

Dari kelam ke malam
Tertawa-nyengir malam menerimanya
Ini batu baru tercampung n domestik gelita
“Mau apa? Menyedapkan hati dan pelupa,
Aku ada! Pilih saja!
Bujuk dibeli?
Ataupun sungai sunyi?
Mari! Mari!
Turut cuma!”

Tak kuasa …terengkam
Sira dicengkam lilin lebah.

Februari 1943

SUARA MALAM

Manjapada badai dan topan
Manusia mengingatkan “Kebakaran di Hutan”*
Bintang sartan ke mana
Buat rukun dan reda?
Ranah.
Barang kali ini sengap kaku saja
dengan ketenangan selama beraduk
mengatasi suka dan duka
kekebalan terhadap abu dan nafsu.
Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di asal lautan
jemu dipukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan kerumahtanggaan Tiada
dan sekali akan berorientasi cahaya.
……………………………………………………
Ya Allah! Badanku terbakar – segala samar.
Aku telah melewati batas.
Kembali? Pintu tertutup dengan gigih.

Februari 1943

AKU*

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang‘kan merayu
Lain pula kau

Tak perlu sedan sedan itu

Aku ini binatang jalang
Berusul kumpulannya terusir

Meski anak bedil menembus kulitku
Aku setia meradang menyepak

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Sebatas hilang pedih haur

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu periode lagi

Maret 1943

Baca teks dan makna puisi “Aku” karya Chairil Anwar di sini.

Kehidupan*

Kalau sampai waktuku
kutahu tak sendiri ‘kan merayu
Tidak pula kau

Tak teradat sedu sedu itu!

Aku ini fauna jalang
Berpunca kumpulan terusir

Cak agar peluru menembus kulitku
Aku tunak meradang menerjang

Luka dan dapat kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih dan bidadari.

Dan aku akan bertambah enggak perduli
Aku mau semangat seribu hari lagi.

Maret 1943

Syariat

Masing-masing senja ia lalu depan rumahku
Intern busana tebal bubuk-abu

Seorang jerih menggalas.
Banyak menangkis palu.

Bungkuk jalannya – Lesu
Pucat lesi mukanya – Lesu

Orang menyebut satu etiket jaya
Memahfuzkan kerjanya dan jasa

Melecut supaya terus ini padanya

Tapi mereka memaling. Dia sedemikian itu kurang tenaga

Pekik di angkasa: Perwira muda
Pagi ini bersinar bukan masa

Tulat, kau dinanti-dimengerti!

Maret 1943

Taman

Ujana memiliki kita berdua
tak pesek luas, kerdil saja
satu lain kehilangan bukan dalamnya.
Bakal kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tidak berpuluh rona
Padang rumputnya tak berbanding permadani
kecil-kecil subtil dipijak suku.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
intern yojana n kepunyaan berdua
Kau kembang, aku tawon
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh rawi taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Maret 1943

LAGU BIASA

Di teras apartemen bersantap kami kini berhadapan
Yunior berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra hayat sudah selam berselam

Masih saja bertimbang pandang
Privat lakon purwa
Orkes meningkah dengan “Carmen” juga.

Ia mengerling. Ia ketawa

Dan rumput kering terus menyala
Ia bersabda. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari

Saat orkes memulai “Ave Maria”
Kuseret ia ke sana.…

Maret 1943

KUPU Lilin batik DAN BINIKU

Sambil bersengketa adv amat
mengebu abuk.

Kupercepat langkah. Enggak noleh ke pinggul
Menggermang ini luka-termengung sekali lagi terpandang

Barah ternganga

Melayang pikiran ke biniku
Besar yang belum terduga
Cak agar kian kami tujuh tahun bercampur

Kelihatannya tak setahuku
Engkau menipuku.

Maret 1943

PENERImAAN

Jikalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh lever

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan nan dulu lagi
Seumpama kembang sari mutakadim terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Seandainya kau kepingin kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943

KESABARAN

Aku lain boleh tidur
Bani adam ngomong, kera nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam kritik bertalu-talu
Di sebelahnya jago merah dan abu

Aku hendak berbicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! bukan jadi apa-segala!
Ini dunia malas disapa, ambil perduli

Keras membeku air siapa
Dan hidup bukan spirit lagi

Kuulangi yang dulu sekali lagi
Sewaktu bertutup kuping, berpicing mata
Menunggu reda yang teradat tiba

Maret 1943

PERHITUNGAN

Banyak coret belum buntung saja
Satu rumah kecil kalis dengan bola lampu merah remaja caya

Langit tahir binar dan purnama raya…
Sudah itu tempatku enggak tentu di mana.

Sekilap rukyat serupa dua klewang bergeseran

Telah itu berlepasan dengan sedikit heran
Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi…!?

Kini aku meringkih dalam lilin batik sunyi.

16 Maret 1943

KENANGAN

buat Karinah Moordjono

Kadang
Di antara jeriji itu itu saja
Mereksmi memberi dandan
Benda usang dilupa
Ah! tercebar rasanya diri
Membubung tingkatan atas kini
Sekeceng
Cuma. Lumat rangup ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Pun di itu itu doang
Jiwa bertanya; Dari buah
Hidup kan banyakan ambruk ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan wasilah menyia-nyia

19 April 1943

RUMAHKU

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala apa nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku sesat jalan tak dapat perkembangan

Bivak kudirikan momen senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku berbunga unggun-onggok sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak juga meraih sore

Supaya berlarat-larat perkenalan awal manis sembayan

Jika menagih nan satu.

27 April 1943

Nihil*

kepada Sri

Antap di luar. Senyap menekan-mendesak.
Lurus dogmatis pohonan. Tak bersirkulasi
Sampai ke puncak. Sunyi memagut,
Tak satu kuasa melepas-cabut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Mati.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Setakat binasa segala. Belum apa-barang apa
Awan bertuba. Setan menderam
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Nol*

kepada Sri yang selalu syak

Sepi di asing, sepi menekan-mendesak
Lurus-kaku pohonan. Bukan bersirkulasi
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Tak suatu kuasa-kosen melepas diri
Barang apa menanti. Menanti-menanti.
Sepi.
Dan ini menanti penghabisan mencekik
Memberat-mencengkung punda
Udara bertuba
Sungkap-luruh segala. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.

Maret 1943

KAWANKU DAN AKU*

Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan menyembur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

Siapa berfirman-kata…?
Kawanku doang rangka tetapi
Karena dera mengelucak tenaga

Dia menyoal j am berapa?

Sudah larut sekali
Hilang terendam segala makna Dan gerak tidak punya keefektifan.

KAWANKU DAN AKU*

kepada L.K. Bohang

Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut.
Hujan angin mencurat badan.

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.

Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.

Kelihatannya berbicara?

Kawanku hanya rangka namun
Karena dera mengelucak tenaga.

Dia bertanya jam berapa!

Telah larut sekali
Sampai hilang segala makna
Dan gerak tak memiliki arti.

5 Juni 1943

Berakhir

Kita musti bererak
Sebelum kicau murai berderai.

Sesak kita harap sreg malam ini.

Sopan belum puas pasrah-menyerah
Talenta masih berbusah-busah.

Terlalu kita harap sreg lilin batik ini.

Kita musti bercerai
Biar syamsu ‘kan menembus maka dari itu malam di tameng

Dua kontinen buat bentur-membentur.
Merah kesumba kaprikornus murni kapur.

Bagaimana?
Kalau IDA, mau turut mengabur
Enggak lautan caya tempatmu menghambur.

7 Juni 1943

AKU

Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak
Cumbu buatan suatu biduan
Kujauhi pandai agama serta tombak-katanya.

Aku hidup
Dalam jiwa di mata tampak mengalir
Dengan lincah melebar, barah maliau
Dan kadang satu senyum kukucup minum dalam dahaga.

8 Juni 1943

CERITA

kepada Darmawidjaya

Di pasar baru mereka
Lalu mengada-menggaya.

Merintih sudah kesal
Bukan sempat apa dibuat

Jiwa satu n partner lucu
Kerumahtanggaan hidup, dalam tuju.

Plontos diselimuti lebat
Sama segala mengerjakan-buat.

Tapi kadang pun boleh
Ini renggang terus terapat.

9 Juni 1943

DI MESJID

Kuseru namun
Sira Sehingga datang sekali lagi

Kami pun bermuka muka.

Seterusnya Ia bernyala nyala dalam dada.
Segala resep memadamkannya

Bersimpah keringat diri yang bukan bisa diperkuda

Ini ruang
Wadah kami berperang

Binasa membinasa
Satu menista lain gila.

29 Mei 1943

SELAMAT Tinggal*


perempuan….

Aku bercermin
Ini muka penuh jejas
Mungkin punya?

Kudengar seru menderu
– privat hatiku? –
Barang apa hanya desas?

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta

Ah…!!

Segala menguat, apa mengental
Segala apa tak kukenal

Selamat tinggal…!!!

SELAMAT TINGGAL*

Aku ki mawas
Bukan bikin ke pesta

Ini muka penuh luka
Mungkin punya?

Kudengar seru-menderu
– dalam hatiku? –
Segala hanya kabar angin?

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta

Ah…!!!

Segala melebat, segala mengental
Segala tak kukenal….

Selamat sangat…!!!

12 Juli 1943

MULUTMU MENCUBIT DI MULUTKU*

Mulutmu mencubit di mulutku
Menggelegak benci sekilas itu
Mengapa merihmu tak kucekik kembali
Ketika kecil-kecil-perih kau meluka??

12 Juli 1943

Permusuhan

Berdiri tersentak
Terbit impi aku bengis dielak

Aku samar muka
Bulan bersinar sedikit tak nampak

Tangan meraba ke asal bantalku
Keris berdaki kugenggam di hulu

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Aku mencari
Mendadak ranah kuhendak berbekas di jari

Aku mencari
Diri burai dari lever

Bulan bersinar adv minim tak kelihatan

13 Juli 1943

MERDEKA

Aku ingin nonblok dari segala apa
Merdeka
Lagi dari Ida

Susunan
Aku beriman pada kualat dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah kumamah

Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang

Tapi masa ini
Hidupku terlalu sepi
Sepanjang tak antara badai
Kalah memenangi

Ah! J iwa yang menggapai-raih
Cak kenapa jika beranjak dari sini
Kucoba n domestik mati.

14 Juli 1943

KITA GUYAH LEMAH*

Kita guyah lenyai
Sekali tetak pasti rebah
Apa keluh dan jeritan
Kita pendam dalam keseharian

Ayo tegak merentak
Diri sekeliling kita senggak
Ini malam purnama akan menembus gegana.

22 Juli 1943

JANGAN KITA DI SINI Cak jongkok*

Jangan kita di sini nongkrong
Tuaknya gaek, sedikit pula
Sedang kita ingin berkendi-kendi
Terus, terus tinggal…!!

Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris
Pelayannya kita dilayani dayang-gadis
Udara murni, bibir merah, riol sepi purwa
Ozon, semangat, kau masih ketawa??

24 Juli 1943

1943

Racun berada di teguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam darah dalam bisul
Malam berawan membelam
Urut-urutan kaku harfiah.
Putus
Opium.
Tumbang
Tanganku menadah terpenggal
Melemah
Terbenam
Hilang
Mandek.
Lahir
Samar muka
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum.
Mengguruh
Memfokus.
Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Sangar
Tandas
Rata
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Tertuju.

1943

ISA


kepada nasrani sejati

Itu Tubuh
mengucur talenta
menyembur bakat

rubuh
patah

mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku ki belajar n domestik darah

terbayang sorot di mata
masa bertukar rupa ini raksasa

mengatup luka
aku bersuka

Itu Tubuh
menyembur darah
mengucur pembawaan

12 November 1943

DOA

kepada pemeluk loyal

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menamai namaMu

Biar susah bukan main menghafal
Kau penuh seluruh

cayaMu panas kudrati
tinggal kerdip lilin di kelam tenang

Illah

aku hilang bentuk
remuk

Rabi aku mengembara di provinsi asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tak bisa berpaling

13 November 1943

Puisi Chairil Anwar 1944

SAJAK Kalis*

Bersandar plong tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu berdelan kutat senda

Sepi menyanyi, malam privat mendoa tiba
Meriak durja air balong jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik berjoget seluruh aku

Hidup dari hidupku, gerbang mangap
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau pembawaan mengalir berbunga luka
Antara kita Mati datang tidak membelah….

Puisi Masif*

buat tunanganku Mirat

bersandar puas tari warna pelangi
kau depanku bertudung makao senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu bergelombang bergulat senda

sepi menyanyi, lilin lebah dalam mendoa tiba
meriak roman air tebat nasib
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik ibing seluruh aku

nasib dari hidupku, pintu termengung
selama matamu bagiku menengadah
selama kau talenta berputar dari luka
antara kita Mati datang lain membelah…

Kerjakan Miratku, Ratuku! kubentuk dunia seorang,
dan kuberi nyawa segala yang dikira orang mati di bendera ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan usia internal tubuhku…

18 Januari 1944

Kerumahtanggaan KERETA

Internal kereta.
Hujan abu menebal jendela

Semarang, Solo…, kian dempet hanya
Menangkup tunggang.

Menggerung purnama.
Caya menyayat mulut dan mata.
Menunggik kereta. Menjengking semangat,

Sayatan terus ke dada.

15 Maret 1944

SIAP-SEDIA


kepada angkatanku

Tanganmu kemudian hari tegang kaku,
Jantungmu lusa berdebar berhenti,
Tubuhmu nanti berpadu alai-belai,
Tapi kami sederap menukar,
Terus memahat ini Tugu,

Matamu nanti kaca namun,
Mulutmu nanti habis bicara,
Darahmu nanti mengalir nongkrong,
Tapi kami sederap mengganti,
Terus berdaya ke Umum Jaya.

Suaramu akan datang sengap ditekan,
Namamu lusa gagap hilang,
Langkahmu kelak enggan ke depan,
Tapi kami sederap mengganti,
Bersatu bertamadun, ke Kemenangan.

Darah kami menggiurkan selama,
Badan kami tertempa jamur,
Jiwa kami gagah perkasa,
Kami akan mewarna di angkasa,
Kami pengiring ke Bahgia nyata.

Perseroan, persekutuan dagang
Menepis fit angin terasa
Silam menderu menyapu gegana
Terus menembus surya cahaya
Memancar berpencar ke penjuru segala apa
Riang menggelombang sawah dan wana

Barang apa menyala nyala!
Apa menunukan nyala!

Kawan, kawan
Dan kita kumat dengan kesedaran
Mencucuk menerang sampai belulang.
Maskapai, kawan

Kita bergoyang-goyang cenangkas ke Dunia Panah!

1944

Puisi Chairil Anwar 1945

KEPADA PENYAIR BOHANG

Suaramu bertanda derita laut senyap…

Sang Mati ini padaku masih berbicara


Karena dia camar, di mulutnya membusah


Dan rindu yang ingin memerahi barang apa

Si Ranah ini matanya terus menanya!

Kelana enggak bersejarah
Berjalan kau terus!
Sehingga tidak sano
Begitu berlumuran bakat.

Dan gundah juga menengadah
Mengawasi gayamu melangkah
Mendayu suara potol:
“Aku saksi!”

Bohang,
Jauh di dasar jiwamu
bertampuk suatu manjapada;
menguyup rintik satu-satu
Kaca berpokok dirimu pula. . ..

1945

LAGU Suit*

Laron pada senyap
Terbakar di tali api bohlam
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Heran! ini raga yang sejauh arik
Habis hangus di jago merah matamu
‘Ku kayak lain adv pernah saja.

II

Aku nyana
Beginilah nanti karenanya:
Kau rangkaian, berputra dan berbahagia
Menengah aku menjajap serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta,
Tak suatu juga gapura mendelongop.

Makara baik kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan segala apa-apa,
Aku terpanggang tinggal rangka

25 November 1945

MALAM

Berangkat berawan
belum buntu malam,
kami masih saja tanggang

– Thermopylae? –
– jagal tidak dikenal? –
tapi esok
sebelum siang membentang
kami telah tergenang hilang….

1945

Syair Chairil Anwar 1946

SEBUAH KAMAR

Sebuah sirkulasi udara menerimakan kamar ini sreg dunia.
Bulan yang bersinar ke kerumahtanggaan
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”

Ibuku terpicing kerumahtanggaan tersedu,
Kerubungan tangsi sepi buruk perut,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap khalayak tersalib di provokasi!

Sekeliling dunia basmi diri!
Aku harap adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka subur
di luar hitungan: Kamar demikian ini,
3 x 4 m, bersisa sempit lakukan meniup nyawa!

1946

KEPADA Perupa AFFANDI

Seandainya, ‘ku habis-habis prolog, enggak lagi
berani memasuki rumah sendiri, terdiri
di hilir penuh kupak,

adalah karena kesementaraan segala apa
yang mencap tiap benda, pula pula terasa
mati kan datang merusak.

Dan tangan ‘kan preskriptif, batik berhenti,
kepanikan berpenyakitan, kecemasan impi;
berilah aku wadah di menara hierarki,
di mana kau seorang meninggi

atas keramaian dunia dan tikai,
lagak lahir dan kelancungan cipta,
kau memaling dan memuja
dan gelap-terkatup bintang sartan terbuka!

1946

DENGAN MIRAT*

Kamar ini makara sarang penghabisan
di malam yang hilang batas

Aku dan engkau saja menjengkau
rakit hitam.

‘Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran pitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau
mengikut kembali bayangan itu?

8 Januari 1946

CATETAN TH. 1946

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
Mainan cahya di air hilang bentuk intern kabut,
Dan suara yang kucintai ‘teko memangkal mengelus.
Kupahat gangguan nisan sendiri dan kupagut.

Kita – ketek diburu – hanya meluluk sebagian bersumber sandiwara sekarang
Enggak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang
Lahir seorang besar dan tergenang beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.

Dan kita lusa tiada epilepsi pula diburu
Jika bedil mutakadim disimpan, cuma kenangan berduli;
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir adv pernah.
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu gosok,
Catat karena kertas gersang, tenggorokan kering abnormal mau basah!

1946

Lakukan ALBUM D.S.

Koteng putri sekali lagi menyanyi
Lagu derita di pantai yang jauh,
Pelaut bersunyi-sunyi di laut biru, bermula
Mereka yang mutakadim pangling bersuka.

Suaranya pergi terus meninggi,
Kami yang mendengar meluluk tunggang
Menyenggol belai si gadis pecah pipi
Dan pakaian putihnya sebagian dari mimpi.

Kami rasa bahagia tentu ‘kan tiba,
Matros mujur dekapan di bandar
Dan di wilayah kelabu nan berhiba
Penduduknya bersinar juga, boleh harapan.

Lagu merdu! apa mengertikah adikku kecil
nan menangis mengiris hati
Bahwa pelarian akan terus sangat terpencil,
Juga di daerah jauh itu syamsu lain lagi?

1946

NOCTURNO

(fragment)

……………………………………………………….

Aku menyeru – tapi tidak satu suara
membalas, belaka senyap di beku udara.
Kerumahtanggaan diriku terbujur keinginan,
lagi tak bernyawa.
Mimpi yang penghabisan minta tenaga,
Terpenggal kapak, sia-sia berkekuatan,
Dalam cekikan hatiku

Terhempas…
Menginyam abu dan abu
Dari tinggalannya suatu lagu.
Ingatan puas Mangkat yang menghantu.
Dan demam nan belakang hari membikin normatif….

……………………………………………………….

Pena dan penyair keduanya mati,
Berpalingan!

1946

Narasi BUAT DIEN TAMAELA

Beta Pattiradjawane
Nan dijaga datu-datu
Tetapi satu.

Beta Pattiradjawane
Kikisan laut
Berpembawaan laut.

Beta Pattiradjawane
Saat lahir dibawakan
Datu dayung sampan.

Beta Pattiradjawane, menjaga pangan pala.
Beta api di rantau. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta mempunyai nama.

Internal mati malam ganggang ibing
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Silakan meronggeng!
mari beria!
ayo berlupa!

Awas jangan buat beta marah
Beta bikin pala lengang, perempuan kaku
beta kirim datu-datu!

Beta ada di lilin lebah, ada di siang
Irama jeruji dan jago merah membakar pulau.…

Beta Pattiradjawane
Yang dijaga datu-datu
Saja suatu.

1946

Makrifat Berasal LAUT

Aku memang benar tolol ketika itu,
kepingin lagi membikin hubungan dengan kau;
lupa pelaut tiba-mulai bisa koteng di laut pilu,
berujuk kembali dengan tujuan biru.

Di tubuhku ada luka sekarang,
bertambah pesek sekali lagi, mengeluar bakat,
di bekas dulu kau cium napsu dan garang;
sekali lagi aku pun habis litak serta menunduk.

Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi.
Pembatasan sekadar tambah menyatukan kenang.
Dan tawa gila pada whisky tercermin tenang.

Dan kau? Apakah kerjamu berdoa dan memuji,
Atau di antara mereka juga terdampar,
Burung sepi pagi musim di sisi sangkar?

1946

Petang DI PELABUHAN Boncel

buat Sri Ajari

Ini kali enggak cak semau yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada kisah
kayu serta temali. Kapal, sekoci tiada berlaut
menghembus diri kerumahtanggaan mempercaya cak hendak berpaut

Gerimis mempercepat suram. Ada lagi kelepak elang
menyinggung muram, desir waktu lari berenang
menemu usap asal akanan. Enggak mengalir
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada sekali lagi. Aku sendiri. Berjalan
menelusuri semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari tepi laut keempat, sedu intiha bisa terdekap.

1946

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
amoi manis, saat ini iseng sendiri.

Perahu melancar, bulan memancar,
di gala kukalungkan ole-ole untuk si tabo.
angin kondusif, laut terang, tapi terasa
aku bukan ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, kontan berkata:
“Tujukan sekoci ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Kok Ajal menyebut suntuk
Sebelum sempat berpagut dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku lengang, dia nyenyat iseng sendiri.

1946

“BETINA”-NYA AFFANDI

Betina, jika di barat nanti
menjadi gelap
turut tenggelam terkadang
juga yang mengendap,
di mukamu tinggal main-main Sukma dan Mati.

Matamu menentang sebentar dulu!
Kau tidak gamang, umur kau sintuh, kau sekaan,
sekarang senja gosong, adv amat abu…
Dalam tubuhmu ramping masih susul-menyusul
Upik dan Laki.

1946

Keadaan

………………………………………………..
Tidak perempuan! nan hidup dalam diri
masih lincah mengelit mulai sejak pelukanmu gemas gelap,
bersikeras mencari kehijauan laut lain,
dan berada lagi di kapal adv amat berlanggar,
kano setir pada angin,
alat penglihatan terikat plong bintang yang menanti.
Sesuatu yang mengepak kembali menandungkan
Tai Po dan rahsia laut Ambon
Begitulah perempuan! Tetapi suatu garis kabur
bisa dituliskan
dengan pelarian kebuntuan senyuman

Cirebon 1946

Terbit Anda

buat K.

Jangan salahkan aku, kau kudekap
bukan karena setia, lewat pergi gemerencing ketawa!
Sebab dara susah memecahkan
keterharuan penghidupan yang ‘cerek dibawakan
padanya…

Ucap namaku! ‘ku nomplok pun ke kamar
Yang kautandai lampu merah, kaktus di sirkulasi udara,
Tidak tahu buat berapa lama, tapi pasti di senja taksa
Rambutku ikal bersinar, kau senapsu dulu kuhela

Sementara biarkan ‘ku hidup nan sudah
dijalinkan internal rahsia…

Cirebon 1946

KEPADA Serikat

Sebelum Ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkeram berbunga belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang privat dada darah serta rasa,

belum bertugas kecewa dan gentar belum cak semau,
tidak tengung-tenging menginjak-mulai bisa lilin lebah membenam,
jib abang terkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan saat ini di sini:
Ajal yang menjajarkan kita, pun mencekik diri sendiri!

Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah mayapada ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan puas siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi segala apa yang kau perbuat,
Hilang sonder peninggalan, sonder kerabat.
Enggak minta ampun atas segala dosa,
Enggak menjatah pamit pada mungkin hanya!
Jadi
silakan kita putuskan kembali:
Ajal yang menyedot kita, ‘ketel merasa angkasa sepi,
Pun konsorsium, sebaris pula:
Tikamkan pedangmu sebatas ke hulu
Puas barangkali yang mengairi kemurnian madu!!!

30 November 1946

Belas kasih TAHU

Bukan maksudku mau berbagi nasib,
spirit yakni kesunyian masing-masing.
Kupilih kau berbunga nan banyak, tapi
sepemakan kita telah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,

Kita berdekap ciuman bukan jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak boleh lama bersama
Ini sekali lagi kutulis di kapal, di laut lain bernama!

1946

Puisi Chairil Anwar 1947

SORGA*

kerjakan Basuki Resobowo

Seperti ibu + nenekku juga
tambah tujuh anak cucu yang dahulu
aku mohon pula supaya sampai di sorga
yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
dan lebur bidari beremak

Tapi suka-suka suara mengukur dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya
berkering dari kuyup laut dramatis,
gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa boleh mengatakan pasti
di situ memang memang terserah bidari
suaranya berat mengangkangi sebagai halnya Nina, punya kerlingnya Polos?

Malang, 25 Februari 1947

Sajak BUAT BASUKI RESOBOWO*

Adakah jauh avontur ini?
Cuma selenggang! – Coba sekiranya bisa lebih!
Lantas bagaimana?
Pada daun ranggas tanya sendiri,
Dan setimbang lagu melembut jadi melodi!

Segala tinggal makara label indra penglihatan?
Lihat pada betina tidak sekali lagi menengadah
Atau bayu sayu, bintang menghilang!

Juga jalan ini berapa lama?
Bisa seabad… aduh sekerdip sekadar!
Perjalanan karna apa?
Cak bertanya rumah asal yang bisu!
Keturunanku yang beku di tasik!

Suka-suka yang menggamit?
Ada yang kehilangan?
Ah! jawab sendiri!
Aku terus gelandangan….

28 Februari 1947

DUA SAJAK Buat BASUKI RESOBOWO*

I

Adakah jauh avontur ini?
Namun selenggang! – Coba kalau bisa lebih!
Lantas bagaimana?
Lega patera gugur tanya sendiri,
Dan setara lagu melembut jadi melodi!

Barang apa adv amat kaprikornus stempel ain?
Tatap pada betina tidak lagi menengadah
Atau bayu sayu, bintang menghilang!

Lagi jalan ini berapa lama?
Boleh sezaman… aduh sekerdip sekadar!
Perjalanan karna apa?
Tanya flat asal yang bisu!
Keturunanku yang beku di situ!

Suka-suka yang menggamit?
Suka-suka yang kehabisan?
Ah! jawab sendiri Aku terus gelandangan….

II

Seperti ibu + nenekku juga
tambah tujuh keturunan yang lampau
aku minta lagi supaya sampai di sorga
yang pengenalan Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
dan bertarai bidari beribu

Tapi ada suara mengeti internal diriku,
kesatria mencemooh: Bisakah kiranya
berkering berpangkal kuyup laut biru,
gamitan berpunca tiap pelabuhan gimana?
Pun siapa boleh mengatakan pasti
di situ memang terserah bidan’
Suaranya berat menzinahi begitu juga Nina, punya kerlingnya Jati?

Malang, 28 Februari 1947

MALAM DI PEGUNUNGAN

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Bintang sartan pucat kondominium dan dogmatis pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

TUTI ARTIC

Antara bahagia sekarang dan tubin ngarai terbuka,
Adikku yang pun keenakan jilat es artic;
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan buah dada + coca cola.
Isteriku dalam kursus: kita hentikan jam berdetik.

Kau pintar benar bercium, terserah karangan suntuk terasa
– ketika kita bersepeda kuantar kau pulang –
Panas darahmu, bukan main lekas kau bintang sartan dara,
Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.

Pilihanmu saban hari mengundang, saban siapa bertukar;
Besok kita bersanggit jalan, lain kenal tahu:
Sorga hanya permainan sejenak.

Aku juga seperti kau, semua lekas mangkat
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang taajul kaprikornus pudar.

1947

Puisi Chairil Anwar 1948

Persepakatan DENGAN BUNG KARNO

Mari! Bung Karno kasi tangan mari kita lakukan ikrar
Aku telah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang atas apimu, digarami maka dari itu lautmu

Pecah mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan ki berjebah rapat di sisimu
Aku sekarang jago merah aku kini laut

Bung Karno! Kau dan aku suatu zat suatu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

1948

SUDAH DULU LAGI*

Sudah lalu lagi terjadi begini
Jari tidak bakal teranjak berasal petikan bedil
Jangan pertanyaan mengapa jari cari tempat di sini
Aku tak senggang tanggal serta alasan lagi
Dan jangan pertanyaan siapa akan menyiapkan liang akhir
Yang akan terima pusaka: kedamaian antara runtuhan panggar
Sudah lalu habis sekali lagi, mutakadim dulu lagi
Jemari tidak bakal teranjak dari petikan bedil.

1948

INA MIA

Terbaring di rangkuman pagi
– perian plonco kaprikornus –
Ina Mia berburu
hati impi,
Teraba Ina Mia
jangat tujuan belaka
Ina Mia
menarik napas panjang
di tepi jurang
napsu
yang sudah lepas terhembus,
antara daun daunan mengelabu
kabut sayang lama, cinta hilang
Terasa gentar sejenak
Ina Mia menekan tapak di hijau jukut,
Kilangangin kincir ikut
– kuntum penghabisan yang mengipas –
Berpaling
kelihatan koteng serdadu menyeringkan langkah di tekongan.

1948

PERJURIT Didik MALAM*

pro Bahar + Rivai

Waktu jalan. Aku tidak tahu barang apa nasib waktu?
Pemuda-perjaka yang lincah yang tua-tua persisten, bermata tajam,
Mimpinya kemerdekaan tanda jasa bintangnya kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang bagak hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu lilin batik
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu….
Perian jalan. Aku tak tahu segala nasib waktu!

1948

PERJURIT Pelihara MALAM*

pro Bahar + Rivai

Waktu urut-urutan. Aku tak sempat segala apa kehidupan waktu
Pemuda-pemuda yang abilah yang tua-tua gentur, bermata drastis,
Mimpinya independensi medalion-bintangnya kepastian
ada di sisiku selama kau menjaga daerah yang senyap ini.

Aku suka pada mereka yang berani usia
Aku senang puas mereka nan masuk menemu lilin lebah
Malam nan berwangi mimpi, berlucut debu…
Waktu jalan. Aku tidak adv pernah apa nasib hari.

PUNCAK

Pondering, pondering on you, dean…

Minggu pagi di sini. Kelancaran ramai kota yang jatuh cinta
tambah penjoal dalam diri – diputar atau memutar –
terasa tertekan; kita berbaring buntak berpukas
Sehabis segala apa terucap di kelam tadi, kita adv amat kata sekarang.
Fertil 2000 m. jauh dari muka laut, silang siur pelabuhan,
jadi terserah pada perbandingan dengan
cemara kudus hijau, bisa jadi yang lugu mentah

Maka cintaku sayang, kucoba menjabat tanganmu
mendekap wajahmu yang asing, meraih bibirmu di balik rupa.
Kau terlompat dari ranjang, lari ke tingkap nan
masih mengandung kabut, dan kau lihat di sana, bahwa antara
cemara kalis hijau dan siapa dolok bersih hijau
mengembang juga soal silam, tanya lama, tanya.

1948

Buat GADIS RASID

Antara
daun-daun hijau
padang lapang dan terang
anak asuh-anak boncel tak bersalah, bau kencur bisa lari-larian
burung-titit merdu
hujan abu cegak dan menyebar
bangsa akil balig menjadi, baru bisa bilang “aku”
Dan
angin mencolok kering, tanah amung sangar
pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi Kita terapit, cintaku
– mengecil diri, kadang bisa mengisar setahap
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
mengidentifikasi gurun, minus ketemu, minus mendarat
– the only possible non-stop flight
Tidak membujur.

1948

Sepanjang BULAN MENYINARI DADANYA*

Selama rembulan menyinari dadanya bintang sartan pualam
ranjang padang asli tiada tenggat
sepilah panggil panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
Aku bukan lagi si cilik tidak tahu urut-urutan
di hadirat berpuluh lorong dan gang menimbang:
ini kancah terikat pada Ida dan ini ruangan “pas objektif”
Selama bulan menyinari dadanya makara pualam
ranjang padang putih tiada batas
sepilah panggil panggilan
antara aku dan mereka yang bertolak
Juga ibuku nan berjanji
enggak meninggalkan sampan.

Lihatlah cinta jingga luntur:
Dan aku yang memperbedakan
tinjauan mengabur, daun patera sekitar gugur
rumah tersembunyi dalam cemara rindang tinggi
pada jendela kaca tiada bayang datang mengambang
Gundu, gasing, kuda kudaan, kapal kapalan di zaman kanak,
Lihatlah gegares jingga seput:
Jikalau datang tubin badai ajaib
menggulingkan gundu, memutarkan gasing
memacu kuda kudaan, menghembus kapal kapalan
aku sudah bertambah dulu kaku.

1948

Puisi Chairil Anwar 1949

MIRAT MUDA, CHAIRIL Akil balig


di pegunungan 1943

Dialah, Miratlah, ketika mereka putri malu,
Menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah matanya menantang
yang suatu tajam dan jujur yang sisi.

Ketawa diadukannya giginya sreg
perkataan Chairil; dan menanya: Adakah, adakah
kau gelojoh mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah engkau kini, dapat katakan
dan tunjukkan dengan tentu di mana
menghidup jiwa, menghembus hidup
Liang jiwa-nyawa saling melongok. Dia rapatkan

Dirinya pada Chairil kian sehati;
hilang secepuh rikuh, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras,
memaksudkan tinggi tidak selangkah bubar
dengan sepi.

1949

Untuk NYONYA Lengkung langit.

Sudah terlampau puncak pada tahun nan lalu,
dan kini dia turun ke rendahan datar.
Tiba di puncak dan engkau sungguh bukan tahu,
Titit burung asing bermain keliling kepalanya
dan buah buah jenggala ganjil mencap rona sreg rok.

Sepanjang jalan dia terkenang akan jadi suatu
Atas puncak tinggi koteng
berjubah kilangangin kincir, mayapada di asal dan lebih sanding kematian
Tapi guru tinggal hampa, berangkat di puncak beliau sungguh tak tahu

Jalan yang dulu bukan akan dia tempuh kembali,
Lebih lanjut tidak suka-suka burung zakar asing, buah buah pandan ganjil

Jatuh terus. Sirep.
Datar lebar tak bertepi

1949

AKU BERKISAR ANTARA MEREKA

Aku berkisar antara mereka sejak tertekan
Bertukar rupa di pinggir urut-urutan, aku pakai alat penglihatan mereka
pergi masuk mengunjungi gelanggang bersenda:
kenyataan-kenyataan yang didapatnya.
(komidi gambar Capitol putar sinema Amerika,
lagu-lagu baru irama mereka berdansa)
Kami pulang tidak kena barang apa-segala
Walaupun Mangkat variasi rupa bintang sartan setangga
Terkumpul di halte, kami tunggu trem berpunca ii kabupaten
Yang mengalir di malam hari andai gigi musim.
Kami, timpang dan pincang, negatip intern janji kembali
Sandarkan tulang belulang lega bohlam kronologi saja,
Sedang tahun gempita terus bertutur.
Hujan abu menimpa. Kami tunggu trem dari kota.
Ah hati mati dalam lilin batik suka-suka doa
Bagi yang baca tulisan tanganku dalam comar mereka
Semoga segala sypilis dan segala kusta
(Cacat juga bertambah me bom elemen pula)
Ini buktikan tanda kebebasan kami bersama
Terimalah duniaku antara yang menyaksikan bisa
Kualami kelam malam dan mereka internal diriku kembali.

1949

Nan TERAMPAS DAN YAN G PUTUS*

kelam dan kilangangin kincir dahulu mempesiang din’ku,
menggigir juga urat kayu di mana sira yang kuingin,
lilin lebah tambah merasuk, rimba bintang sartan semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai sekali lagi deru dingin

aku berbenah dalam kamar, kerumahtanggaan diriku jikalau kau nomplok
dan aku bisa lagi campakkan kisah plonco padamu;
tapi kini hanya tangan nan bergerak lantang

tubuhku diam dan koteng, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

DERAI-DERAI Eru*

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan kaprikornus malam
suka-suka bilang dahan di aliran udara merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah lalu berapa waktu lain kanak pula
tapi dulu memang cak semau satu bahan
yang bukan dasar perkiraan sekarang

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari kerap sekolah rendah
dan tahu, ada nan tegar enggak diucapkan
sebelum pada risikonya kita menyerah

1949

AKU Mampu KEMBALI*

Aku berada pun. Banyak yang luar:
air bergerak silih warna, kapal-kapal, elang-elang
serta peledak yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari
lain.

Hanya
Kelengangan suntuk tetap saja.
Kian lengang aku di kelak-kelok jalan;
lebih lengang pula detik bakir antara
nan mengharap dan yang melepas.

Kuping kiri masih terpaling
ditarik merayang nan sekejap-sekejap seterang guruh.

1949

Sajak-Sajak Salutan Chairil Anwar

KEPADA PEMINTA-Minta

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Mengasihkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku kaprikornus beku.

Jangan juga kau bercerita
Sudah tercacar semua di wajah
Bisul meleleh dari luka
Serempak berjalan kau usap kembali.

Bersuara tiap kau melangkah
Menderam tiap kau memandang
Menetes berpangkal suasana kau datang
Sembarang kau merebah.

Mengganggu privat mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Meraum di telingaku.

Baik, baik aku akan mendatangi Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.

Juni 1943

KRAWANG-BEKASI

Kami yang sekarang terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak boleh teriak “Merdeka” dan angkat senjata juga.

Tapi siapakah nan tidak lagi mendengar dahanam kami,
terbayang kami maju dan berdegap lever?

Kami bicara padamu dalam hening di malam lengang
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetik
Kami mati muda. Yang silam benak diliputi bubuk.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba segala apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum barang apa-apa

Kami sudah serah kami n kepunyaan jiwa
Kerja belum selesai, belum dapat memperhitungkan arti 4-5 ribu sukma

Kami cuma tulang-tulang porak-poranda
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan kredit benak-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang bagi kemerdekaan kesuksesan dan harapan
atau bukan bagi segala apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak kembali bisa merenjeng lidah
Kaulah sekarang yang bersuara

Kami bicara padamu internal sunyi di malam sepi
Jika ada rasa nol dan jam tembok yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayit
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang tulang diliputi abu
Bermami kami terbaring antara Krawang-Bekasi.

1948


Sumber:


Muslihat “AKU INI Dabat JALANG, Koleksi sajak 1942-1949 Chairil Anwar”, Jakarta: Penerbit PT Gramedia Bacaan Utama Tempaan kedua desimal lima: Juni 2022.

Source: https://titikdua.net/puisi-chairil-anwar/