Dongeng Sebelum Tidur Untuk Pacar

Teryosha

Dongeng dari Rusia.

Jaman dahulu kala, di tepi hutan hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua. Karena tidak dikaruniai seorang anak asuh lagi mereka caruk merasa kesepian. Satu hari si Ayah menebang kayu di hutan dan membuatkan Ibu sebuah boneka gawang. Ibu sangat senang sekali, dia membuatkan rok untuk boneka itu, menggendongnya bahkan bersenandung meninabobokannya:

Tutuplah matamu nan indah, Teryosha,
Tidurlah anakku sayang!
Semua penis dan lauk,
Semua kelinci dan serigala
Mutakadim pulang ke paruh hutan,
Tidurlah anakku cerbak!

Lama-kelamaan, anak-anakan kayu nan dipanggil Teryosha itu semakin mirip manusia sampai alhasil dia menjelma menjadi seorang anak laki-suami yang cerdas. Ayah membuatkannya sebuah perahu boncel bercat putih dengan sepasang dayung bercelup merah. Teryosha menaiki berlepas tersebut dan berkata:

Perahu kecilku, lakukanlah apa yang kumau
Bawalah aku ketempat ikan berkumpul.

Kano kecil itu perlahan-lahan mulai berputar ke tengah wai, makin lama lebih jauh.
Sejak detik itu setiap tahun teryosha pergi memancing. Siang hari ibunya akan datang ke tepi sungai dengan membawa bersantap siang, lalu mulai bergamat menamai Teryosha:

Datang dan makanlah, Teryosha anakku,
Ibu bawakan susu, keju, roti dan madu!

Teryosha, mendengar suara ibunya dari kejauhan, akan segera menyadau perahunya ke wadah ibunya menunggu. Ibu akan cekut ikan nan ditangkapnya, memberinya makan siang, mengganti pakaiannnya, kemudian membiarkannya melaut lagi.

Seorang penyihir jahat melihat situasi itu dan menginjak mempelajari apa yang dilakukan ibu saat memanggil Teryosha. Dia kepingin sekali menyantap teryosha. Maka, suatu hari engkau datang ke tepi kali besar dan menginjak bernyanyi dengan suaranya nan sember:

Datang dan makanlah, Teryosha anakku,
Ibu bawakan susu, keju, roti dan sembayan!

Teryosha tahu bahwa itu bukanlah suara ibunya. Dia mewajibkan perahunya lakukan segera menyingkir palagan si penyihir. Penyihir jahat itu lalu pergi ke tempat juru besi dan memintanya buat menyangkal tenggorokannya sehingga dia bisa memiliki celaan selawa suara ibu teryosha. Si pandai metal menuruti kehausan si penyihir. Sangat si penyihir sekali lagi ke tepi batang air dan mulai bernyanyi memanggil Teryosha:

Hinggap dan makanlah, Teryosha anakku,
Ibu bawakan buah dada, keju, roti dan madu!

Kali ini Teryosha mengira kalau itu adalah suara ibunya, karena suaranya memang adv amat mirip. Dia mulai mendayung perahunya ke tepi sungai. Dengan mudah si penyihir menangkapnya, memasukkannya ke intern tas, dan membawanya ke tengah alas.

Di tengah hutan ada sebuah pondok tempat si penyihir silam bersama anak gadisnya yang bernama Alynoka. Penyihir menyuruh anaknya kobar oven dan memanggang Teryosha buat makan malam, lewat engkau memencilkan pula.
Alyonka tiba menyalakan api. Ketika jago merah membesar dan sudah sangat panas, sira menyuruh teryosha untuk berbaring di atas panggangan. Tapi Teryosha hanya duduk di atasnya, merentangkan tangan dan kakinya sehinggga Alyonka tidak dapat memasukkan panggangan tersebut ke dalam oven.
“Aku menyuruhmu menggeletak,” hardik alyonka.
“Aku tidak adv pernah bagaimana kaidah berbaring. Coba tunjukan padaku…”, jawab Teryosha.
“Berbaringlah seperti kucing dan kunyuk tidur,” kata alyonka.
“Kalau sejenis itu tunjukkan padaku, aku belum mengerti,” pinta Teryosha.
Alyonka tinggal berbaring di atas panggangan, dan Teryosha dengan cepat mendorongnya ke privat oven, menyelimuti dan menguncinya berdempetan-rapat. Engkau berlari keluar dan memanjat sebuah pohon oak tua lontok, karena dia melihat kedatangan si penyihir di kejauhan.

Penyihir itu sangat kelaparan, dia segera membuka bab oven dan melahap alyonka dengan rakusnya. Karena merasa besing dia keluar dan mulai berdendang :

Ku akan bermalas-malasan dan berbaring senyap,
Dengan daging Teryosha aku doyan dan kenyang!

Teryosha menjawab lirih dari atas tanaman oak:

“ Dengan daging Alyonka kamu kenyang! ”

“Ah, itu hanya suara kilangangin kincir,” pikir si penyihir, maka dia terus bergamat:

Ku akan bermalas-malasan dan berbaring mati,

Dengan daging Teryosha aku demen dan kenyang!

Dan Teryosha menjawab lagi: ” Dengan daging Alyonka kamu kenyang!”

Penyihir mendongak dan melihat Teryosha duduk di atas pohon. Beliau adv amat marah silam berlari ke pohon dan mengepas merobohkannya dengan cara menggigitnya. Dia terus kerakah pohon oak setakat persneling depannya terpotong.
Anda berlari ke pandai besi: “Buatkan aku gigi metal.”
Pandai besi membuatkan 2 gigi besi dan memasangkannya. Lalu si penyihir kerakah pohon oak pun.
Dia terus menggigiti pohon oak hingga 2 gigi bawahnya patah. Sira menunangi ahli metal membuatkannya dua gigi logam pun, nan lalu dipasangnya. Dahulu kembali menggigiti tanaman oak tersebut. Semakin lama semakin cepat, sampai pohon oak itu mulai bergoyang-goyang dan karib tumbang.
“Barang apa yang harus kulakukan?” pikir Teryosha.
Sekonyongkonyong ia mengawasi keropok belibis liar risau menyebelah, maka Teryosha memohon uluran tangan pada mereka:

Oh, kebalikan-antiwirawan baikku, angsa-belibis yang elok,
Tolong bawalah aku pulang ke tempat ibuku yang baik!

Tetapi angsa-bebek itu menjawab: “Nanti ada sekawanan angsa lagi yang terbang di pinggul kami, mereka lebih remaja dan lestari tinimbang kami, mereka pasti bisa membawamu”.
Penyihir yang mendengar jawaban sang dendang laut, tertawa sinis, dan menggigiti tumbuhan oak makin keras lagi.
Sekawanan angsa yang lain datang sekali lagi, Teryosha kembali memohon:

Oh, padanan-teman baikku, belibis-angsa nan cakap,
Tolong bawalah aku pulang ke tempat ibuku yang baik!

Tapi angsa-angsa itu menjawab: “Ada seekor anak angsa yang terbang di belakang kami, Engkau boleh membawamu pulang”
Tinggal adv minim kembali gigitan maka penyihir akan bisa menumbangkan pohon oak.
Tak berapa lama, seekor anak dendang laut terbang melintasi kepala Teryosha, sira kembali memohon:

Wahai anak angsa yang baik hati,
Bantu bawalah aku pulang ke ajang ibu yang kusayangi!

Angsa mulai dewasa itu merasa kasihan mematamatai Teryosha, maka dia pun merelakan Teryosha naik ke punggungnya. Dan mengirimkan Teryosha terbang meninggalkan si penyihir yang murka menuju rumah ibu Teryosha.
Akhirnya sampailah Teryosha dan belibis remaja di rumah orangtua Teryosha. Dari balik jendela engkau melihat Ibu Teryosha sedang menyajikan pancake, mengasihkan satu untuk ayah dan merenjeng lidah: “ini satu untukmu, dan suatu lagi untukku.”
“Dahulu mana buatku?” tanya Teryosha berusul luar rumah.
“Keluarlah dan lihat siapakah yang meminta pancake.” kata ibu kepada ayah.
Ayah keluar dan menemukan Teryosha, silam membawanya masuk. Ibu Teryosha sangat gembira melihatnya. Dia memeluk dan menciumi Teryosha yang terlampau dirindukannya.
Mereka menghadiahi si anak angsa rahim dan minuman yang banyak, dan membiarkannya nonblok di pekarangan sampai dia tumbuh lautan dan abadi. Saat ini dia siap memimpin setumpuk angsa cak bagi terbang, dan tidak perpautan mengalpakan Teryosa.

Ucapan Ajaib dari Peri

Dahulu, suka-suka seorang janda yang memiliki dua anak perempuan. Anak yang sulung bergaduk dan pemarah seperti ibunya, sedangkan nan bungsu manis dan litak lembut.

Sang ibu sangat memanjakan anaksulung nya yang punya sifat nan mirip dengannya, dan memperlakukan si bungsu dengan sangat buruk. Sang terakhir disuruhnya melakukan hamper semua pekerjaan di rumah. Salah satu semenjak tugas si buncit yang malang adalah berjalan kaki 1 kilometer jauhnya ke sebuah sumur dan mengirimkan pulang air internal sebuah beledi besar.

Pada suatu hari ketika si ragil medium mencekit air di mata air, sendiri wanita tua datang dan meminta air bikin mereguk.

“Tunggu sekeceng, akan kuambilkan air yang zakiah untuk Ibu,” kata si bungsu kepada wanita sepuh itu. Diambilnya air nan minimum jernih dan bersih, lalu diberikannya kepada wanita berida itu dengan menggunakan teko air agar boleh dengan mudah diminum.

Wanita tua nan sebenarnya yakni seorang peri itu berkata, “Kamu sangat etis dan demen menolong, makara akan kuberikan keheranan untukmu. Setiap alas kata nan kamu ucapkan akan mengeluarkan sekuntum anakan, godaan berlian, dan dur dari mulutmu.”

Si bontot tidak memaklumi maksud wanita gaek itu. Kamu tetapi tersenyum lalu berpamitan dan melanglang pulang.

Sesampainya di rumah, ibunya memarahinya karena berlebih lama menembang air. Sang keladak meminta absolusi kepada ibunya dan mengobrolkan kejadian yang kamu alami, bahwa engkau menolong koteng wanita tua yang kemudian memberinya keajaiban. Selama si bontot mendongeng, bunga-bunga, rayuan berlian dan mutu terus berjatuhan keluar pecah mulutnya.

“Jika begitu, aku harus menyuruh kakakmu memencilkan kesana.” Kata sang ibu. Lalu disuruhnya si wayan untuk pergi ke ain air dan apabila berdapat seorang wanita tua, disuruhnya si barap untuk bersikap baik dan menolongnya.

Sang wayan yang enggan tidak mau memencilkan berjalan tungkai sejauh itu. Tetapi dengan tegas, ibunya menyuruhnya menghindari, “Pergi kesana sekarang pun!!!” spontan menyelipkan wadah air mulai sejak perak ke dalam tas si sulung.

Sambil menyambung sang embung melanglang menuju sumber. Momen berangkat disana, kamu berpatut wanita tua itu. Tapi boleh jadi ini wanita wreda itu berpakaian indah seumpama seorang ratu. Lalu, wanita tua itu meminta mereguk kepada si barap.

“Apa beliau sangka aku datang sejauh ini sekadar untuk memberimu minum? Dan jangan pikir dia dapat minum dari palagan air perakku. Jikalau cak hendak minum cabut saja sendiri di mata air itu!” alas kata sang embung kepada wanita lanjut usia itu.

Karena sikapnya yang bernafsu, wanita tua nan sebenarnya sendiri peri itu mengutuknya. “Bakal setiap alas kata yang beliau ucapkan, seekor katak alias ular akan bertumbangan keluar berpokok mulutmu!”

Saat tiba di rumah, si embung mengobrolkan segala apa nan dialaminya kepada ibunya. Saat bercerita, beberapa ekor bedudak dan katak berluruhan keluar berpokok mulutnya.

“Astaga!”, teriak ibunya risi. “Ini semua gara-gara adikmu. Di mana dia?”

Sang ibu lalu pergi mengejar sang bungsu. Karena kengerian, si keladak lalu lari dan bersembunyi di hutan.

Sendiri Yang dipertuan yang sedang berburu terperanjat mematamatai seorang gadis yang sedang menangis sorangan di alas. Ketika Pangeran itu bertanya, dengan tersedan-sedan si keladak menceritakan apa yang terjadi. Saat berkisah, bunga-rente, mutiara serta provokasi berlian pun berjatuhan mulai sejak mulutnya.

Pangeran jebluk hati kepada kuntum nan baik itu. Dan Pangeran juga tahu ayahnya tidak akan keberatan mendapatkan seorang menantu yang baik begitu juga itu, lebih lagi dengan mutiara serta bujukan permata yang terus dihasilkannya. Maka Baginda pun membawa sang bungsu ke istana, lalu mereka menikah dan hidup bernasib baik.

Darurat itu di rumah, sikap si sulung menjadi semakin memuakkan, dan ia lagi terus menerus mengeluarkan kodok serta ular ari dari mulutnya, justru ibunya pun mengusirnya dari rumah.

Karena sira bukan tahu harus kemana dan lain ada seorangpun nan mau menampungnya karena sifatnya yang buruk, ditambah dengan berudu-katak dan ular-ular bakau yang terus keluar dari mulutnya, maka akhirnya ia lagi tinggal sendirian di tengah pangan.


Meresan Puas Jaran

Raja amat sayang dan bangga pada jaran hitamnya. Si Hitam tampak jantan dan anggun, bulunya berkilat dan ringkiknya lestari. Sekali-sekali Prabu mengendarainya keliling istana.

Suatu pagi, Raja mampir di kandang aswa yang terletak di pekarangan belakang istana. Sinuhun amat heran ketika melihat Mista, si penjaga kuda, madya menyuapi si Hitam. Di dekat tempat jukut ada baskom kecil, entah kebal cairan segala apa. Dan si Hitam bersantap suket dengan lahap.
“Wow, rupanya sang Hitam ini kuda manja. Bersantap saja disuapi!” komentar Aji. Segera Raja membungkuk, menjumut segenggam rumput dan mencoba menyuapi sang Hitam. Olala, si Hitam melengos, bukan kepingin disuapi Raja. Tanpa nyinyir, Sri paduka segera meninggalkan jaran kesayangannya. Hatinya marah, wajahnya merah padam.
“Kelewatan! Disuapi Syah, malah tidak mau! Si Hitam betul-betul sudah menghinaku!” cerca Paduka sambil berjalan timbrung ke internal kastil. “Jikalau kusuruh orang membuang sang Hitam ke hutan, tentu turunan-orang akan heran. Dan sang Mista pasti akan bercerita, bagaimana si Hitam menghinaku. Huh, namaku tentu akan kotor!” pikir Raja.

Di dalam keraton Tuanku menyibukkan diri membaca surat-kopi yang timbrung. Beliau berusaha melupakan perbuatan si Hitam yang tak mau beliau suapi. Namun hatinya tetap marah. Kepada siapa beliau harus bercerita? Saat makan malam, Pangeran makan dengan murung.

Selesai makan, risikonya emir enggak tahan lagi. Ia menceritakan keadaan pagi itu pada prameswari.
“Bayangkan, seekor jaran menolakku. Si Hitam tak mau kusuapi. Khusyuk aku merasa terhina!” ratap Prabu.

Permaisuri mendengarkan cerita Raja dengan serius habis berkata,
“Aaah, tak usah diambil lever. Mana tahu saja si Hitam mutakadim kenyang! Pergilah ke kandang dan coba berikan jukut saat si Hitam sedang lapar!”

Jawaban permaisuri sedikit menghibur frustasi di lever Paduka. Sekadar, Raja kukuh ingin luang, apa sebabnya si Hitam enggak kepingin makan rumput berusul tangannya. Kaisar akibatnya menyuruh Buntelan Kosim untuk memeriksa situasi ini. Pak Kosim adalah pemotong rambut raja. Raja sangat mempercayainya, sebab Pak Kosim ahli menjaga rahasia.
“Baiklah, Syah. Hamba akan mencari tahu, mengapa sang Hitam tidak mau makan rumput dari tangan Yamtuan. Hamba akan mengadakan programa potong rambut percuma cak bagi karyawan-karyawan istana. Tempatnya di depan kandang sang Hitam!” usul Pak Kosim.
Ratu sepakat, dan Bungkusan Kosim taajul membuka kios potong rambut di depan istal. Beberapa karyawan istana mulai berdatangan lakukan mencukur rambut mereka. Sambil mencukur Sampul Kosim mengecap gerak-gerik Mista, penjaga si Hitam. Setelah bukan ada kembali orang yang dicukur, Pak Kosim membereskan peralatannya.

Pak Kosim lalu menghadap Mista yang sedang menyuapi si Hitam. Engkau cekut segenggam rumput, memasukkannya ke dalam baskom kecil berisi cairan dan menyuapi si Hitam. Si Hitam menjawat rumput itu dengan lahap.
“Kuda spesifik, makannya disuapi oleh penjaga yang tersendiri pula!” puji Pak Kosim.
“Aah, Pak Kosim! Kudanya memang hebat. Penjaganya sih biasa belaka!” kata Mista merendah. Pak Kosim tersenyum,
“Jangan melembut. Akan kubuktikan kalau kau memang khas!” ujar Pak Kosim. Ia suntuk mengambil segenggam rumput, dan menyuapi si Hitam. Saja sang Hitam melengos. Pak Kosim tertawa, “Tuh, lihat sendiri! Si Hitam tidak mau kusuapi. Engkau hanya mau disuapi olehmu, penjaganya nan istimewa!” ucap Paket Kosim.

Mista tertawa juga. “Hahaha, kalau tahu caranya, si Hitam sih cak hendak saja disuapi kelihatannya sekali lagi. Buat si Hitam nan terdahulu bukan mana tahu yang menyuapinya. Yang penting rumputnya harus dicelup ke air madu dulu!” Mista mengklarifikasi. Ia mengambil segenggam jukut, mencelupkannya ke kerumahtanggaan air istri muda dan menyuapi sang Hitam.

Buntelan Kosim mengikuti jejak Mista. Ternyata moralistis! Si Hitam memakan rumput pecah tangan Bungkusan Kosim dengan lahap. Hati Pak Kosim pecah-bunga karena anda sudah berbuah menyeselaikan tugas dari Baginda.
“Apa pun, kalau tahu caranya kaprikornus mudah. Sekiranya belum tahu caranya ya susah!” kata Mista.

Pak Kosim bergegas mendatangi Sri paduka. Anda menjelaskan rahasia suket si Hitam. Sungguh lega hati raja.
“Hahaha, pongah sekali. Kok aku bisa tersinggung sreg kuda, hahaha…” tawa Raja di dalam lever.
Pak Kosim membujur sekantung uang emas. Ia pulang ke rumahnya dengan amat gembira.


Tasik Dewi

Dahulu kala, ada koteng pemuda yang tetampan dan jantan. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma bertualang sampai ke tengah hutan belantara. Ia jublek melihat aneka jenis usia di internal hutan. Engkau membangun sebuah rumah tanaman di sebuah dahan pohon yang lewat raksasa. Hidup di hutan damai dan damai. Setelah lama tinggal di alas, Awang Vitalitas diangkat menjadi penguasa provinsi itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang Semangat berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah beliau di sebuah haud yang jernih dan bening. Telaga tersebut terdapat di bawah pokok kayu yg rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai keberagaman pelir dan insek hidup dengan riangnya. “Hmm, bukan main indahnya danau ini. Ternyata hutan ini menyimpan keayuan yang asing biasa,” gemam Datu Awang Hidup.
Keesokan harinya, ketika Datu Awang Jiwa medium meniup serulingnya, anda mendengar suara minor riuh rendah di telaga. Di sekedup-sela tumpukan batu nan bercelah, Datu Awang Sukma mengintip ke arah tasik. Betapa terkejutnya Awang Roh ketika melihat ada 7 orang gadis cantik semenjana bermain air. “Mungkinkah mereka itu para bidadari?” pikir Awang Sukma. Sapta upik cakap itu tidak sadar jikalau mereka sedang diperhatikan dan tidak membilang selendang mereka nan digunakan untuk terbang, bertebaran di selingkung tasik. Keseleo satu selendang tersebut terletak di dekat Awang Sukma. “Weh, ini kesempatan yang baik kerjakan mendapatkan selendang di pohon itu,” gumam Datu Awang Sukma.

Mendengar suara dedaunan, para putri terkesiap dan segera mengambil selendang masing-masing. Saat ketujuh putri tersebut kepingin terbang, ternyata ada pelecok seorang putri yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu, Datu Awang Hayat buru-buru keluar pecah persembunyiannya. “Jangan takut empunya perawan, hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba,” bujuk Datu Awang Sukma. Putri Bungsu masih ragu menerima juluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak terserah khalayak enggak maka tidak ada jalan enggak untuk Putri Keladak kecuali menyepakati pertolongan Awang Sukma.

Datu Awang Nyawa lewat mengagumi kecantikan Nona Bontot. Demikian juga dengan Putri Buncit. Ia merasa bahagia berada di akrab koteng nan tampan dan gagah berani. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi junjungan istri. Setahun kemudian lahirlah sendiri kanak-kanak anyir perempuan yang cantik dan diberi tanda Kumalasari. Vitalitas keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia.

Saja, pada satu waktu seekor ayam hitam naik ke atas rangkiang dan mengais antah di atas permukaan rangkiang. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Mendadak matanya tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam jantan. “Apa kira-tebak isinya ya?” pikir Putri Buncit. Ketika bumbung dibuka, Dara Keladak tersentak dan berteriak gembira. “Ini selendangku!, seru Amoi Bontot. Selendang itu pun didekapnya rapat persaudaraan-erat. Perasaan kesal dan jengkel terpatok pada suaminya. Tetapi ia pun adv amat rajin pada suaminya.

Akhirnya Kuntum Bungsu membulatkan tekadnya kerjakan lagi ke kahyangan. “Kini saatnya aku harus kembali!,” katanya dalam hati. Putri Keladak taajul mengenakan selendangnya serampak menggendong bayinya. Datu Awang Sukma terpana melihat keadaan itu. Ia berbarengan mendekat dan minta pemaafan atas tindakan yang tidak terpuji yaitu menyembunyikan selendang Pemudi Bungsu. Datu Awang Sukma mengingat-ingat bahwa perceraian enggak bisa dielakkan. “Kanda, dinda minta peliharalah Kumalasari dengan baik,” perkenalan awal Putri Terakhir kepada Datu Awang Sukma.” Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke angkasa. “Jika anak kita mengangankan dinda, terimalah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke kerumahtanggaan bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan seruling. Pasti dinda akan taajul datang menemuinya,” ujar Putri Bungsu.

Putri Anak bungsu segera mengenakan selendangnya dan tiba-tiba terbang ke kahyangan. Datu Awang Spirit menap trenyuh dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa malapetaka.


Si Pelit

Seorang yang sangat pelit menguruk emasnya secara diam-diam di kancah yang dirahasiakannya di tamannya. Setiap hari dia pergi ke tempat dimana anda menimbuni emasnya, menggalinya dan menghitungnya pun suatu-persatu bagi memastikan bahwa tidak ada emasnya yang hilang. Dia sangat demap melakukan hal itu sehingga seorang penyamun nan mengawasinya, dapat menebak segala apa yang disembunyikan oleh sang Pelit itu dan suatu malam, dengan diam-diam pencuri itu menggali harta karun tersebut dan membawanya pergi.

Saat si Pelit mencatat kesuntukan hartanya, ia menjadi sangat dayuh dan putus asa. Dia mengerang-erang sambil berkejang rambutnya.

Satu orang pengelana kebetulan sangat di tempat itu mendengarnya menangis dan menyoal apa semata-mata nan terjadi.

“Emasku! oh.. emasku!” kata si Pelit, “seseorang telah merampok saya!”

“Emasmu! di privat lubang itu? Mengapa kamu menyimpannya disana? Mengapa kencana tersebut enggak kamu simpan di dalam rumah dimana kamu bisa dengan mudah mengambilnya ketika kamu ingin membeli sesuatu?”

“Membeli sesuatu?” teriak si Pelit dengan berang. “Saya tidak akan membeli sesuatu dengan emas itu. Saya malar-malar tidak pernah berpikir kerjakan berbelanja sesuatu dengan emas itu.” teriaknya lagi dengan marah.

Pengembara itu kemudian menjeput sebuah bujukan osean dan melemparkannya ke dalam gua harta karun yang sudah lalu hampa itu.

“Kalau begitu,” katanya juga, “tutup dan kuburkan alai-belai itu, nilainya seperti mana hartamu yang telah hilang!”

Harta yang kita miliki proporsional nilainya dengan kegunaan harta tersebut.


Sang Miskin Yang Tamak

Kisah Rakyat Riau

Alkisah di Riau pada jaman dulu kala hiduplah sekelamin junjungan istri yang sangat miskin. Mereka hidup serba kehabisan karena penghasilan mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Jangankan bikin membeli lauk pauk, kerjakan mendapatkan beras pun kadang-kadang harus berhutang pada tetangga. Hidup mereka sopan-bermoral memprihatinkan.

Satu masa pak Miskin berangan-angan. Seorang kakek datang menemuinya dan memberikannya seutas tali.
“Hai Miskin! Besok pergilah merakit dan carilah sebuah mata air di sungai Sepunjung!” introduksi sang kakek yang kemudian hirap.

Pak Miskin terbangun dengan gagap. “Aduhai, damba apa aku tadi? Kenapa kakek tadi menyuruhku meninggalkan merakit?” pembukaan pak Miskin internal hati.

Tahun masih pagi, detik pak Miskin hasilnya memutuskan untuk mengikuti pesan si kakek.
“Tidak terserah salahnya menyedang. Bisa jadi tahu aku mendapatkan keberuntungan,” pikir cangkang Miskin.

Maka pergilah kamu dengan menggunakan perahu satu-satunya. Beliau terus mendayung di sepanjang batang air sambil berburu perigi yang dimaksud sang kakek kerumahtanggaan mimpinya. Tidak berapa lama dilihatnya riakan air di pinggir sungai pertanda bahwa di asal sungai itu terdapat mata air.
“Hmmm, kali ini perigi yang dimaksud,” pikir pak Miskin.

Dia melongok ke kanan dan ke kiri mencari si kakek dalam mimpinya. Saja hingga lelah lehernya, sang bibit buwit tidak juga kelihatan.

Ketika ia sudah mulai enggak lunak, tiba-tiba muncullah seutas tali di samping perahunya. Tanpa pikir janjang ditariknya tali tersebut. Ternyata di ujung tali itu silau kalung yang terbuat dari emas. Alangkah senangnya pak Miskin. Cepat-cepat ditariknya kalung itu.
“Oh, ternyata benar, ini adalah perian keberuntunganku. Dengan emas ini aku akan kaya!,” perkenalan awal pak Miskin dengan gembira.

Sira meruntun rantai itu dengan sekuat tenaga dan mengumpulkan kalung tersebut di atas perahunya. Mendadak terdengar ocehan seekor burung dari atas pohon: “Cepatlah potong utas itu dan kembalilah pulang!”

Namun karena bersisa gembira, pak Miskin tidak mengacuhkan kicauan burung itu. Beliau terus menarik rantai emas itu sampai perahunya enggak kuat pula membendung bebannya. Dan benar saja, beberapa saat kemudian perahu itu perot dan kemudian terbalik bersama pak Miskin nan masih memegang rantai emasnya.

Rantai emas nan berat itu menarik tubuh cangkang Miskin hingga terseret ke intern wai. Selongsong Miskin berusaha menarik rantai itu. Namun rantai itu terlebih melilitnya dan menyeretnya semakin kerumahtanggaan.

Pak Miskin yang kekeringan mega, mengap-mengap di dalam air. Dengan susah payah dia mengecualikan diri dan lagi ke permukaan. Dengan nafas tersengal-nyeri pinggang dilihatnya harta karunnya nan tenggelam ke dalam sungai. Internal hati dia menyesal atas kebodohannya. Kalau anda enggak sesak serakah pasti kini hidupnya telah berubah. Tapia pa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Dan pak Miskin sekali lagi pulang ke rumahnya dengan tangan hampa.


Si Kancil dan Siput

Pada satu hari si kancil nampak ngantuk sekali. Matanya serasa selit belit sekali bagi dibuka. “Aaa….rrrrgh”, si napuh nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup semarak, si bengkunang merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-perkembangan menyerempet hutan buat melagak rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Duhai penduduk rimba, akulah hewan yang paling kecil cerdas, banyak akal dan berisi di hutan ini. Tak terserah yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.

Spontan membuncitkan dadanya, si Pelanduk pun tiba berjalan menuruni ancala. Momen sampai di sungai, ia bersua dengan seekor siput. “Hai kancil !”, teguran si kijing. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah ia semenjana menari-nari?”, pertanyaan si kerang. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan sekiranya aku ini dabat yang minimum cerdas, cerdik dan digdaya”, jawab si kancil dengan sombongnya.

Kijing“Bergaduk sekali beliau Kancil, akulah hewan yang paling kecil cerdik di rimba ini”, pengenalan sang Siput. “Hahahaha……., mana siapa” ledek Kancil. “Buat membuktikannya, bagaimana seandainya tubin pagi kita tanding lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Pelanduk. Akhirnya mereka berdua cocok untuk mengadakan kejuaraan lari esok pagi.

Sesudah sang Napuh pergi, si siput lekas mengumpulkan teman-temannya. Anda meminta sokong sebaiknya saingan-temannya berbanjar dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab sekiranya si pelanduk memanggil.

Risikonya hari yang dinanti sudah start, kancil dan kerang pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau telah siap kerjakan bersilaju lari denganku”, cak bertanya si napuh. “Tentu namun mutakadim, dan aku pasti menjuarai”, jawab sang kijing. Kemudian si moluska mempersilahkan kancil bakal berlari silam dan memanggilnya buat memastikan sudah hingga mana sang siput.

Napuh bepergian dengan santai, dan merasa yakin seandainya dia akan menang. Sehabis bilang awalan, si kancil mencoba kerjakan menyapa si siput. “Kerang….sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil. “Aku cak semau di depanmu!”, teriak si siput. Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian engkau memanggil si kijing pun, dan si siput menjawab dengan pembukaan yang sebanding.”Aku terserah didepanmu!”

Hasilnya si kancil berlari, cuma tiap engkau panggil si kijing, ia belalah muncul dan bersabda kalau engkau ada depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa ruai dan nafasnya tersengal-reumatik.

Kancil berlari terus, setakat akibatnya dia melihat garis finish. Wajah bengkunang habis gembira sekali, karena perian anda memanggil siput, mutakadim enggak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah jago dari perlombaan lari itu.

Betapa terkejutnya sang kancil, karena dia mematamatai sang siput sudah duduk di bisikan erat garis finish. “Hai napuh, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah lalu sampai dari tadi!”, teriak si kerang. Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan juru, tetapi beliau bukanlah nan terpandai dan cerdik”, prolog si siput. “Iya, maafkan aku moluska, aku tidak akan sombong kembali”, kata si pelanduk.


Sang Jubah Merah

Di satu desa lega zaman dahulu ada koteng anak bernama Irine. Ia dicintai oleh semua orang ter- bertambah lagi Neneknya karena beliau manis dan baik budi.

Ketika ia merayakan perian ulang tahunnya, sang Nenek memberikan Jubah Merah bertopi yang absurd. Ia amat bahagia dan menyukainya. Jubah itupun langsung dipakainya kerjakan berjalan-perkembangan.

Sahabat-sahabatnya seperti sapi, meong, anjing, kagum lega jubah itu. Sreg suatu masa seperti sah ia ber- jalan-jalan di hutan bakal melihat bunga-rente yang indah.

Jubah Merah melihat sekuntum bunga yang warnanya sangat menyentak sehingga kamu terseret bikin memetiknya. “Bunga ini akan aku berikan pada Nenek, Nenek karuan doyan,” serunya munjung kegirangan. Sewaktu memetik bunga-bunga itu ia bernyanyi-nyanyi kecil.

Tanpa ia sadari, ada bahaya sedang mematamatai. Dari balik pohon yang lain jauh semenjak bekas ia ber- diri, serigala jahat diam-diam ber- umpet dan membuka mulutnya dempak-bogok. “Sekarang aku makan kau,” dengan alat penglihatan berkilap-nur senang sira beranjak berpunca tempatnya.

Akan tetapi sebelah kakinya terjepit perangkap kelinci, tapi ia bukan menjerit. Sambil menahan rasa sakit beliau menghela kakinya yang luka dari jebakan itu pelan-tanah lapang.

Si Jubah Merah tak mengarifi kejadian itu. Setelah memetik anak uang, iapun meneruskan penjelajahan.

Namun serigala bukan menyerah dengan otaknya yang licik, beliau terus berpikir dalam-dalam bagaimana cara memakan Jubah Merah.
” Terimalah, sebaiknya aku makan dulu Neneknya, baru Jubah Merah, ” ucapnya sambil tersenyum licik.

Dengan menyela jalan, serigala menjauhi ke rumah Nini. Iapun kian dulu tiba pecah Jubah Abang. Kemudian iapun mengetuk gerbang ….. ” Nini, saya Jubah Abang,” ucapnya menirukan suara Irine.

Mendengar itu Nini menjadi heran karena suara Jubah Merah tidak sama dengan rata-rata. ” Kenapa suaramu berubah jadi aneh Jubah Biram” prolog Nenek dengan penuh syak hati.
” Saya sedang tidak legit badan, Nek ” jawab serigala.

Buru-buru Nenek turun pecah tempat tidur dan membukakan pintu.
Serupa itu gerbang terbabang nan dilihatnya bukan Jubah Merah melainkan serigala yang sudah membuka mulutnya pesek-lebar. Nenek kaget dan ketakutan serta lain bisa mengerjakan barang apa-apa. Saat itulah dengan cepat ajak menzinahi Nenek.

Pasca- plong, lalu jakal memakai piyama Nenek dan naik ke palagan tidur serta menudungi wajahnya dengan selimut, seperti sedang remai.

Tak lama kemudian, serigala mendengar suara lantunan dari Jubah Merah. Cepat-cepat anda mempersiapkan diri berpura-pura menjadi Nini.
” Buka pintunya, Nek” seru Irine.
” Masuklah gerbang tidak dikunci. Akhirnya kau datang juga, Nenek sudah lama menunggumu.” Mendengar suara Neneknya yang seperti itu sira menjadi heran.
” Nek, kok suaranya bintang sartan aneh begitu ? ” tanya Jubah Berma penuh curiga.
” Iya, Nenek sedang turut angin, jadinya serak ,” jawab Nenek palsunya.
” Kasihan Nenek, ini saya bawakan bunga yang sani “. Kemudian iapun menurunkan bunga di botol dan memangkalkan kue serta naik banding di atas meja.

Si Jubah Berma sama sekali tak mengetahui bahwa nan tidur dipembaringan itu adalah ajak virulen.
Ia lagi berjalan menentang Nenek, tapi ia suntuk tersingahak dan heran melihat perlintasan plong diri Nenek.
Telinga, ain, serta perkataan Nenek menjadi osean. Karena tidak panjang usus pun cak bagi gado Jubah Bangkang, serigala nocat dari petiduran kemudian mencengkam Irine.

Karena tidak beranggapan jikalau nan dihadapannya adalah ajak, iapun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia ingin lari tetapi badannya bukan bisa bergerak. Tanpa membuang kesempatan yang ada jakal berbarengan menelan Jubah Merah yang berdiri terarah.

Di tempat enggak yang tidak jauh mulai sejak rumah Nenek tampak koteng pemburu.
Ternyata engkau mutakadim lama mengawasi apartemen itu, karena mendengar celaan bergeselan-bertengkar nan ditimbulkan jakal, iapun menuju flat Nini dengan hati-lever dan mencari cara yang tepat cak bagi menolong Nini dan Irine.

Sedangkan karena kenyang, serigala akhirnya mengantuk dan tertidur pulas.
Dengkuran anjing hutan terdengar ke telinga pemburu. Zzz…. Zzz…. Sonder membuang kesempatan emas itu, pemburu segera masuk ke rumah dan mendekati anjing hutan.

Raba-rubu dicarinya gunting yang besar dan kuat. Syukurlah Nenek dan Jubah Merah masih hidup di internal perut jakal. Pemburu menggunting perut serigala yang menengah tidur dengan pilih-pilih. Tidak lama kemudian, keluarlah Nenek dan Jubah Ahmar berpokok intern rezeki serigala. Merekapun mengucapkan peroleh kasih lega pemburu.

Lamun perutnya telah digunting anjing hutan masih saja tidur. Kemudian mereka lekas berunding bagi memutuskan hukuman apa yang cocok untuk serigala.

Akhirnya mereka memutuskan untuk menjaringkan seratus batu ke n domestik perut serigala yang terbabang. Suatu-persatu provokasi-batu itu dimasukkan kedalam kandungan anjing hutan. Setelah itu, Nenek mengambil utas dan pencucuk dan menjahit perut serigala. Kemudian setelah semuanya rapih, mereka sembunyi di balik pohon di pantat rumah refleks menunggu ajak bangun.

Beberapa momen kemudian serigala bangun dari tidurnya. Anda ingin bangun tapi lain bisa karena perutnya terik sekali.
” Ohh… kenapa perutku kaprikornus sukar begini, apa karena aku makan dua orang ? ”
” Ohh.., tandus sekali tenggorokkanku, rasanya aku haus sekali. ”

Engkau berjalan tersendeng-sendeng berorientasi sumur batu sekaligus memegangi perutnya, sonder mencatat jika di internal perutnya sudah berisi seratus rayuan.

Lalu anjing hutan menjulurkan badannya ke sumur untuk minum. Karena perutnya penuh gangguan akhirnya, ia jatuh ke dalam sumur dan tenggelam . Melihat itu mereka bersorak kegirangan.

Kemudian mereka bertiga mengadakan pesta kecil. Nenek menyediakan biji kemaluan-buahan lezat dan kue buatannya. Tawa dan canda mereka mewarnai suasana di senja itu dan mereka melewatkan ketika-detik bahagia bersama.

Tidak terasa waktu telah gelap dan tibalah waktunya pulang. Nenek mengisi keranjang jubah merah dengan buah anggur untuk buah tangan. Nenekpun berpesan sreg Jubah Biram, agar hati-hati dengan orang yang tak dikenal.
Jubah Merah kesudahannya pulang dengan gembira ditemani sang pemburu dan anjingnya.


Seruling Digdaya

Plong zaman dahulu terwalak sebuah pekan katai nan dulu rupawan terdapat di tungkai bukit. Pekan tersebut di kenali Hamelyn. Penduduk di pekan tersebut hidup dengan aman berbaik, saja sikap mereka lain perihatin terhadap kebersihan. Pekan tersebut penuh dengan sampah sarap. Mereka membuang sampah di merata-rata menyebabkan pekan tersebut menjadi tempat pembiakan tikus. Semakin periode semakin banyak tikus membiak menyebabkan minggu tersebut dipebuhi maka dari itu tikus-tikus.

Tikus-tikus gelayaran dengan banyaknya dipekan tersebut. Setiap rumah tikus-tikus mengalir nonblok tanpa pikiran tegak kepada manusia. Warga di pekan ini cuba membela kucing lakukan melasikan tikus dan ada diantara mereka memasang perangkap tetapi tidak berkesan kerana tikus terlampau banyak. Mereka sungguh dukacita dan hening akal bagaimana cak bagi mengancaikan tikus-tikus tersebut.

Musibah yang menghinggapi pekan tersebut sudah tersebar luas ke pekan-pekan tidak sehinggalah pada suatu hari sendiri perjaka yang tidak dikenali cak bertengger ke pekan tersebut dan menawarkan khidmatnya kerjakan menghalau semua tikus dengan syarat penduduk pekan tersebut menggaji upah atas kadar dua keping wang mas setiap orang. Penduduk di pekan tersebut berbincang sesama mereka diatas usulan pemuda tadi. Suka-suka diatara mereka tak bersetuju maka itu kerana mereka tidak sanggup untuk membayar upah nan lewat mahal. Setelah berbincang dengan panjang dempak akhirnya mereka turut-menurut untuk membayar upah seperti mana yang diminta oleh bujang itu kerana mereka tidak n kepunyaan seleksian tak.

Keputusan tersebut dimaklumkan kepada pemuda tadi, adv amat beliau mengeluarkan suling berisi dan meniupnya. Bunyi yang keluar dari seruling itu dahulu merdu dan mengasik sesiapa yang mendengarnya. Tikus-tikus yang berada dimerata gelanggang didalam pekan tersebut mula keluar dan berkumpul mengelilinginya. Jejaka tadi berjalan perlahan-lahan sambil meniup seruling berilmu dan menuju ke sebatang batang air nan jauh dari pekan tersebut. Apabila sampai ditepi sungai jejaka tadi terus ikut kedalamnya dan diikuti oleh semua tikus.Tikus-tikus tadi lain dapat berenang didalam batang air dan semuanya ranah lemas.

Saat ini pekan Hamelyn telah bebas ketimbang gempuran tikus dan penduduk bersorak dengan gembiranya. Apabila bujang tadi menuntut janjinya, penduduk tersebut enggan membayar upah nan telah dijanjikan kerana mereka mengangap kerja nan dibuat oleh teruna tadi tidak sepadan dengan upah yang diminta kerana belaka dengan meniupkan suling sahaja. Pemuda tadi habis marah lalu anda menuipkan bangsi saktinya sekali lagi. Irama yang keluar pecah seruling itu tinggal mempersenangkan hati hati kanak-kanak menyebabkan semua kanak-kanak berkumpul di sekelilingnya. Satelah semua kanak-kanak berkumpul pemuda tadi berjalan berbarengan meniupkan seruling dan diikuti oleh semua kanak-kanak. Pemuda itu membawa kanak-kanak tersebut keluar dari minggu Hamelyn. Sehabis Ibu Bapa menyedari bahawa mereka akan kekeringan momongan-anak, mereka mulai merasa cemas kerana kanak-kanak telah meninggalkan mereka dan mengikuti pemuda tadi. Mereka mengejar teruna tadi dan merayu biar menghentikan tinimbang meniup seruling dan memulangkan lagi anak-anak mereka. Merka sanggup membagi semua harta benda yamg terserah asalkan pemuda tersebut mengembalikan anak-anak mereka.

Rayuan penduduk tidak diendahkan oleh pemuda tadi dahulu mereka mengirimkan kanak-kanak tersebut memusat kesuatu gelanggang dan apabila mereka sampai disitu muncul sebuah terowongan dengan sekonyongkonyong. Pemuda tadi mesuk ke dalam lubang itu dan diikuti oleh kanak-kanak. Sehabis semuanya masuk tiba-berangkat gua tersebut gaib dan hilang daripada rukyat penduduk pekan tersebut. Mereka tidak boleh mengerjakan apa-apa oleh kerana mereka sudah lalu menyangkal janji yang mereka lakukan. Merka menyesal diatas kelakuan mereka tetapi sudah lalu terlambat. Sesal sangat pendapatan sesal kemudian lain berguna.

Sehingga waktu ini penduduk pekan Hamelyn tidak mengabaikan kesilapan yang dilalukan oleh nenek moyang mereka. Menepati janji adalah pekerjaan yang kuat diamalkan oleh pemukim pekan Hamelyn sehingga hari ini.


Seorang Raja dan Penjala

Imperium nan dialiri oleh sungai Tigris dan Euphrates perhubungan di perintah oleh seorang raja yang sangat gemar dan menaksir ikan.

Satu hari sira duduk bersama Sherem, si Tuanku, di taman puri nan berhadapan sedarun dengan tepi batang air Tigris, yang pada saat itu terentang jajaran berlepas yang indah; dan dengan rukyat yang penuh periksa lega kano-perahu yang meluncur, dimana plong satu perahu duduk seorang nelayan yang mempunyai tangkapan ikan yang osean.

Menyadari bahwa sang Sultan mengamatinya, dan tahu bahwa si Sultan ini sangat menggemari ikan tertentu, nelayan tersebut memberi hormat pada sang Raja dan dengan ahlinya membawa perahunya ketepian, cak bertengger dan berlutut pada si Sinuhun dan memohon sebaiknya sang Sultan mau menerima iwak tersebut sebagai pemberian. Sang Paduka tuan sangat gemar dengan keadaan ini, dan memerintahkan agar sejumlah besar uang lelah diberikan kepada nelayan tersebut.

Semata-mata sebelum pengail tersebut meninggalkan taman puri, Ratu berputar menghadap sang Kaisar dan berkata: “Kamu telah berbuat sesuatu yang dungu.” Sang Baginda terkejut mendengar Baginda berkata demikian dan bertanya bagaimana dapat. Sang Prabu membalas:

“Berita bahwa kamu memberikan sejumlah ki akbar hidayah cak bagi karunia yang begitu kecil akan cepat menyebar ke seluruh kerajaan dan akan dikenal sebagai hadiah penangkap ikan. Semua pengail yang kelihatannya berhasil menangkap ikan yang besar akan membawanya ke istana, dan apabila mereka tidak dibayar sebesar nelayan yang permulaan, mereka akan memencilkan dengan rasa enggak pada, dan dengan nyuruk akan mengomong jelek mengenai kamu diantara teman-temannya.”

“Kamu berkata bermoral, dan ini mencelangap saya,” alas kata sang Sinuhun, “tetapi tidakkah kamu mengaram apa artinya menjadi Ratu, apabila bagi alasan tersebut dia menarik kembali hadiah yang sudah diberikan?” Kemudian setelah merasa bahwa si Ratu siap untuk membangkang hal itu, dia membalikkan awak dengan marah dan berkata “Hal ini mutakadim selesai dan enggak usah dibicarakan lagi.”

Bagaimanapun juga, dihari berikutnya, ketika pikiran si Emir semenjana senang, Pangeran menghampirinya dan berbicara bahwa takdirnya dengan alasan itu sang Raja tidak bisa menarik kembali hidayah yang telah diberikan, beliau sendiri nan akan mengaturnya. “Sira harus memanggil nelayan itu juga,” katanya, “dan kemudian tanyakan, ‘Apakah ikan ini jantan atau lebah ratulebah?’ Jika dia berkata jantan, lalu kamu katankan bahwa yang anda inginkan adalah ikan lebah ratulebah, doang bila pengail tersebut bersuara bahwa ikan tersebut lebah ratulebah, kamu akan membalasnya dengan mengatakan bahwa kamu mendambakan lauk jantan. Dengan cara ini situasi tersebut dapat kita sesuaikan dengan baik.”

Raja berpendapat bahwa ini yaitu kronologi yang terbaik untuk keluar dari kesulitan, dan mewajibkan kiranya nelayan tadi dibawa ke hadapannya. Ketika penangkap ikan tersebut, yang ternyata merupakan orang yang sangat ahli, berlutut di aribaan sunan, sang Sinuhun bersabda kepadanya: “Hai pengail, katakan padaku, ikan yang beliau bawa kemarin adalah nyali maupun betina?”

Nelayan tersebut menjawab, “Ikan tersebut tidak bagak dan bukan betina.” Saat itu sang Raja mesem mendengar jawaban yang lalu lanjut pikiran, dan buat menggunung kejengkelan si Rau, mewajibkan bendahara kastil lakukan memberikan beberapa uang jasa nan kian banyak kepada nelayan tersebut.

Kemudian pengail itu menyimpan komisi tersebut internal kantong kulitnya, berterima kasih kepada Raja, dan memanggul saku tersebut diatas bahunya, bergegas pergi, namun lain lama kemudian, sira menyadari bahwa beliau telah mengecong satu koin kecil. Dengan menaruh saku tersebut kembali ke tanah, sira membongkok dan memungut koin itu dan kembali meneruskan perjalanannya, diikuti dengan pandangan alat penglihatan Yamtuan dan Ratu yang mengawasi semua tindakannya.

“Lihat! sungguh pelitnya dia!” pembukaan Sherem, si Ratu, dengan bangga atas kemenangannya. “Sira benar-ter-hormat menurunkan kantongnya sekadar bagi memungut suatu buah koin kecil karena siapa dia akan sangat merasa kehilangan hanya dengan nanang bahwa koin tersebut akan diambil oleh salah seorang pelayan Raja, atau seseorang yang lebih miskin, yang membutuhkannya lakukan membeli sebuah roti dan nan memohon agar raja dikaruniai spirit strata.”

“Sekali kembali kamu berbicara benar,” balas si Sultan, merasakan keabsahan berusul komentar Ratu; dan pun nelayan tersebut dibawa untuk menghadap ke istana. “Apakah sira ini makhluk atau hewan buas?” Raja menyoal kepadanya. “Lamun engkau mungkin sudah lalu bakir minus harus memeras keringat pun, tetapi sifat pelit privat dirimu tidak membiarkan sira kerjakan memencilkan satu koin kecil untuk basyar tak.” Lalu si Yamtuan memerintahkan nelayan tersebut untuk menjauhi dan bukan menampakkan pula wajahnya di intern kota kerajaannya.

Saat itu nelayan tersebut berlutut puas kedua kakinya dan menangis: “Dengarkanlah hamba, Oh sang Raja, pelindung rakyat miskin! Semoga Allah memberkahi Tuanku dengan umur panjang. Bukan nilai berusul koin tersebut yang hamba nukil, hanya karena pada satu sisi koin tersebut tertera goresan pujian atas etiket Almalik, dan disisi lainnya tergambar paras Raja. Hamba agak gelap bahwa seseorang, mungkin dengan tidak sengaja karena lain melihat koin tersebut, akan menginjaknya. Biarlah sang Kaisar yang menentukan apakah yang saya bagi ini pantas untuk dicela atau tidak.”

Jawaban tersebut membuat sang Aji dulu senang tidak terjumlahkan, dan menerimakan sekali lagi nelayan terseut beberapa raksasa persen. Dan kemarahan Sinuhun saat itu lagi menjadi reda, dan engkau menjadi sadar dan menyibuk dengan ramah terhadap nelayan tersebut yang pergi dengan kantung yang dimuati dengan uang jasa.


Saudagar Jerami

Lewat kala, ada sendiri bujang miskin nan bernama Taro. Ia bekerja buat ladang turunan lain dan tinggal dilumbung rumah majikannya. Suatu perian, Taro meninggalkan ke kuil bagi berdoa. “Duhai, Dewa Rahmat! Aku telah berkarya dengan sungguh-betapa, tapi kehidupanku tidak berkercukupan”. “Tolonglah aku agar hidup gemar”. Sejak detik itu setiap selesai berkarya, Taro pergi ke kuil. Suatu lilin lebah, sesuatu yang aneh membangunkan Taro. Di sekitarnya menjadi berlampu, habis muncul suara. “Taro, dengar baik-baik. Peliharalah baik-baik benda yang pertama kali kau dapatkan besok perian. Itu akan membuatmu bahagia.”

Keesokan harinya ketika keluar berusul gerbang gapura kuil, Taro jatuh terhempas. Saat bangun ia semenjana menggenggam sebatang jerami. “Oh, makara yang dimaksud Dewa adalah jerami, ya? Segala apa jerami ini akan mendatangkan kebahagiaan…?”, pikir Taro. Meskipun agak pengecut dengan benda nan didapatkannya Taro lewat bepergian sambil membawa jerami. Di tengah urut-urutan ia menganyam dan mengikatkan seekor lalat samudra nan sano dengan ributnya mengelilingi Taro di jeraminya. Lalat tersebut gugup bergulunggulung pada jerami yang sudah lalu diikatkan lega sebatang ranting. “Wah mengganjur ya”, ujar Taro. Saat itu lewat kereta nan diikuti para mat kodak. Di dalam kereta itu, seorang anak asuh sedang duduk serentak mengkritik lalat Taro. “Aku ingin mainan itu.” Seorang juru foto menclok menghampiri Taro dan menunangi mainan itu. “Silakan renggut”, ujar Taro. Ibu anak tersebut memberikan tiga buah jeruk laksana rasa terima kasihnya kepada Taro.

“Wah, sebatang jerami bisa menjadi tiga biji kemaluan sitrus”, ucap Taro dalam hati. Detik meneruskan perjalanannya, terlihat koteng wanita yang sedang beristirahat dan habis keinginan. “Maaf, adakah medan di dempang sini indra penglihatan air ?”, tanya wanita tadi. “Ada dikuil, hanya jaraknya masih jauh berusul sini, kalau anda haus, ini kuberikan jerukku”, kata Taro langsung memberikan jeruknya kepada wanita itu. “Terima pemberian, berkat engkau, aku menjadi sehat dan bugar kembali”. Cukuplah kain belongsong ini laksana rasa terima kasih kami, ujar suami wanita itu. Dengan perasaan gembira, Taro melanglang sambil mengangkut tiras itu. Lain lama kemudian, adv amat seorang samurai dengan kudanya. Ketika sanding Taro, jaran samurai itu tercatak dan tidak mampu bergerak lagi. “Aduh, sedangkan kita sedang bergopoh-gopoh.” Para pengawal berembuk, apa yang harus dilakukan terhadap kuda itu. Melihat keadaan itu, Taro menawarkan diri buat mengurus kuda itu. Sebagai gantinya Taro menerimakan segulung kain belongsong yang ia dapatkan kepada para pengawal samurai itu. Taro mengambil air dari sungai dan buru-buru meminumkannya kepada kuda itu. Kemudian dengan sangat gembira, Taro mengirimkan aswa yang sudah bugar itu sekaligus membawa 2 gulung kain yang tersisa.

Saat hari menjelang malam, Taro pergi ke rumah sendiri penanam untuk mempersunting nafkah ternak lakukan kuda, dan seumpama gantinya kamu menyerahkan segulung kain yang dimilikinya. Petani itu memandangi kain tenun nan luhur itu, dan merasa amat demen. Sebagai ucapan terima kasih pembajak itu menjamu Taro makan lilin lebah dan mempersilakannya menginap di rumahnya. Jemah harinya, Taro minta diri kepada orang tani itu dan melanjutkan perjalanan dengan menunggang kudanya.

Sekonyongkonyong di depan sebuah rumah besar, orang-orang kelihatan dulu sibuk memindahkan barang-barang. “Kalau ada kuda pasti sangat bermanfaat,” pikir Taro. Kemudian taro masuk ke halaman apartemen dan menyoal apakah mereka membutuhkan jaran. Si pemilik rumah berkata,”Waduh aswa yang bagus. Aku menginginkannya, cuma aku saat ini tidak mempunyai uang jasa. Bagaimanan kalau ku saling dengan sawahku ?”. “Baik, uang kalau dipakai lekas lalu, doang sawah bila digarap akan menghasilkan beras, Silakan kalau cak hendak ditukar”, perkenalan awal Taro.

“Bijaksana sekali kau anak asuh taruna. Bagaimana jika sepanjang aku menyingkir ke kewedanan nan jauh, kau dulu disini kerjakan menjaganya ?”, Tanya si tuan rumah. “Baik, Terima kasih Empunya”. Sejak saat itu taro menjaga rumah itu spontan berkarya membersihkan rerumputan dan menggarap sawah yang didapatkannya. Ketika periode gugur tiba, Taro memanen padinya nan tinggal banyak.

Semakin lama Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal berbunga sebatang jerami, ia diberi julukan “Saudagar Jerami”. Para tetangganya yang kaya hinggap kepada Taro dan meminta agar perempuan mereka dijadikan istri oleh Taro. Tetapi akhirnya, Taro menikah dengan seorang gadis dari desa tempat ia dilahirkan. Istrinya bekerja dengan buruk perut membantu Taro. Merekapun dikaruniai seorang anak yang lucu. Waktu terus bepergian, namun Si pemilik rumah enggak afiliasi kembali lagi. Dengan demikian, Taro hidup bahagia bersama keluarganya.


Source: https://dikning.wordpress.com/