Contoh Ayat Mantuq Dan Mafhum


MANTUQ DAN MAFHUM




Signifikansi MANTUQ DAN MAFHUM




Mantuq


merupakan sesuatu (hukum) yang ditunjukkan oleh suatu lafadz dalam tempat pengucapan (tersurat). Makara mantuq adalah signifikansi yang ditunjukkan oleh lafadz di tempat perundingan.


[1]




Sedangkan
mafhum
adalah sesuatu yang ditunjukkan makanya suatu lafadz lain dalam medan pengucapan (tersirat). Makara mafhum ialah pengertian yang ditunjukkan oleh suatu lafadz tidak dalam tempat ura-ura, tetapi mulai sejak kesadaran yang terwalak pada ucapan tersebut.


[2]



Begitu juga firman Allah SWT;


فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا (الإسراء:23)




“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan



“ah”




dan jangan dia membentak mereka dan ucapkanla hkepada merekaperkataan yang indah”.



(Q.S Al-Isra’ ayat 23)

Dalam ayat tersebut terletak signifikasi mantuq dan mafhum. Pengertian mantuq yang termasuk intern ayat tersebut ialah, diharamkanya berbicara-alas kata yang tidak baik kepada anak adam renta (mendesah, membentak, dan mencaci maki). Sedangkan denotasi mafhum yang tersirat adalah enggak diperbolehkan (palsu) memukul dan menyiksa ibu bapak.


PEMBAGIAN MANTUQ DAN MAFHUM





A. MANTUQ






Dalam hasanah ilmu ushul fiqh mantuq
terbagi menjadi dua fragmen yaitu:



  1. Nash

    ; yaitu suatu congor (lafadz) yang jelas pengertianya dan enggak mungkin di ta’wilkan ataupun diarahkan ke dalam signifikasi bukan. Seperti contoh dalam firman Sang pencipta SWT;


وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا. (البقرة:175)






Halikuljabbar sudah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.


(Q.S Al-Baqarah:175)





Kata



al-bai’



(jual beli) ataupun



al-riba



adalah suatu lafadz yang jelas pengertianya yang mana bikin memahami kata tersebut tidak membutuhkan ta’wil (asumsi).





  1. Dhahir

    , yatiu suatu perkataan (lafadz) yang jelas pengertianya, namun masih menimbulkan asumsi makna (pengertian) lain yang derajatnya di dasar makna aslinya (majaz). Sama dengan firman Almalik SWT


أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء. ( النساء:43)




“Atau sampai ke perempuan”.



(An-Nisa’:43)

Lafadz “al-lams” dalam ayat tersebut mempunyai dua pengertian. Secara dhahir (haqiqi) lafadz “al-lams” mempunyai kekuatan “menyentuh” dengan tangan. Jadi syariat mencecah perempuan dapat membatalkan wudlu merupakan proses dari dhahir sebuah dalil. Tetapi dalam arah yang tidak lafadz “al-lams” apa bila dilihat dari majaznya punya arti “jima”. Artinya, bersendikan ayat tersebut yang membatalkan wudlu bukan menjejak dayang akan tetapi men-jima’ dayang nan diambil dari pengertian secara majaz.


[3]




Seperti mana contoh tidak dikatakan; “Saya mematamatai harimau”. Secara dhahir (haqiqi), prolog harimau mempunyai kepentingan “binatang buas nan senang memangsa”.

Namun pengenalan macan juga n kepunyaan guna majaz yaitu “seorang pemberani”.


[4]





B.

MAFHUM



Mafhum dibedakan menjadi dua episode, yaitu:


1

.

Mafhum Muwafaqah
, merupakan apabila syariat yang timbulkan sama dengan hukum yang difahamkan maka dari itu obstulen lafadz.

Seperti contoh hukum haramnya melampang ayah bunda separas dengan haramnya membentak orang tua (Q.S. Al-Isra’ ayat 23). Nan mana hukum gelap “gaplok” merupakan mafhum dari dalil haramnya “membentak”.

Mafhum Muwafaqah dibagi menjadi dua adegan:

a).

Fahwal Khitab


Yaitu apabila hukum yang dipahamkan bertambah utama (berat) ketimbang nan diucapkan. Sebagaimana “memukul” cucu adam tua renta terlarang hukumnya karena merupakan hukum mafhum terbit haramnya “membentak” orang renta. Terlebih “menampar” dapat dikatakan lebih bukan diharamkan karena tidak hanya boleh menimbulkan sakit hati, belaka lebih dari itu pun dapat menimbulkan luka badan.


[5]




b).

Lahnal Khitab


Yaitu apabila hukum yang dipahamkan sama derajatnya tinimbang dengan nan diucapkan. Sebagai halnya transendental “membakar” harta anak yatim hukumnya bawah tangan karena yakni mafhum dari gado harta anak asuh yatim dengan dhalim, sebagai halnya firman Allah SWT:


إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

[النساء: 10]







“Sesungguhnya hamba allah-orang yang gado harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu mengangkangi api sepenuh perutnya dan mereka akan turut ke dalam api nan bernyala-nyala (neraka)”.


(Q.S. An-Nisa: 10)

Secara tekstual (mantuq) dikatakan bahwa gado harta anak yatim dengan dzalim hukumnya haram. Kemudian juga muncul hukum haram “menggelorakan” harta anak asuh yatim beralaskan teori mafhum. Antara “meratah” nan dijelaskan secara mantuq derajatnya proporsional dengan “membakar” nan dihasilkan berbunga kefahaman, merupakan sama-sebabat merusak harta anak yatim.


[6]






2.






Mafhum Mukhalafah


, yakni denotasi hukum yang dipahami berbeda daripada congor (mantuq), baik dalam
istbat
(menjadwalkan) alias
nafi
(mentiadakan). Seperti firman Almalik SWT:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ. (الجمعة:9)




“Hai orang-turunan nan beriman, apabila diseru bikin menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah dagang”.




(Al-Jum’ah: 9)





Ayat di atas secara tekstual (mantuq) menerangkan haramnya transaksi komersial pada detik sudah dikumandangkan shalat jum’at. Dari ayat tersebut pula dapat diambil kefahaman bahwa sebelum dikumandangkan shalat jum’at atau sesudah dilakukanya shalat jum’ah diperbolehkan berlepau. Kefahaman syariat tersebut disebut mafhum mukhalafah. Karena syariat mantuq berlainan denan hukum mafhum.


SYARAT-SAYRAT MAFHUM MUKHALAFAH



Karena mafhum mukhalafah adalah proses hukum nan anti dengan syariat mantuq, maka diperlukan beberapa syarat agar syariat yang ditelorkan menjadi shahih. Kerjakan syahnya mafhum mukhalafah diperlukan empat syarat:


1.




Mafhum Mukhalafah harus enggak berlawanan dengan dalil yang lebih lestari, baik dalil mantuq ataupun mafhum muwafaqah. Contoh yang berlawanan dengan dalil mantuq:


وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاق [الإسراء :31]




“Jangan kamu bunuh anak asuh-anakmu karena takut kemiskin­an”

.

(Q.S.




Isra’ ayat 31).

Ayat tersebut di atas secara tekstual menerangkan haramnya membunuh anak karena “takut muskin”. Mafhum mukhalafah-nya
berfaedah “memenggal anak asuh tidak karena takut miskin”. Dalam situasi ini mengambil hukum dari mafhum mukhalafah lain diperbolehkan sebab bentrok dengan dalil mantuq yang lain yaitu;


وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَ بِالْحَقِّ

.


[الإسراء :33]




“Jangan anda mendebah manusia yang dilarang Almalik kecuali dengan kebenaran”.




(QS.





Isra’:33)”

Beralaskan dalil mantuq di atas, baik takut miskin (mantuq) atau tidak bersimbah miskin (mafhum) tetap tidak dapat dijadikan alasan membunuh anak asuh.

Sempurna mafhum mukhalafah nan berlawanan dengan mafhum muwafaqah:


فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ. (الإسراء:23)




“Maka sekali-boleh jadi janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”

.(Q.S Al-Isra’ ayat 23)

Bersendikan ayat di atas secara mantuq disebutkan enggak boleh berkata-kata kasar terhadap khalayak tua renta. Apa bila difahami dengan mafhum mukhalafah berarti selain berkata-kata berangasan seperti memukul diperbolehkan. Pemahaman terbalik
(mafhum mukhalafah)
sama dengan ini bukan dibenarkan karena anti mafhum muwafaqahnya, yaitu “tidak boleh menapuk”.


2.




Yang disebutkan (manthuq) bukan suatu hal yang biasanya terjadi. Seperti contoh;


وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ


. (النساء. 23)




“Dan anak-anak (tiri) istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri nan telah engkau campuri”.


(QS. An-Nisa’:23)

Secara termasuk (mantuq) ayat di atas membeningkan bahwa anak tiri nan timbrung dipelihara bersama tidak dapat dinikah. Itu berfaedah boleh difahami secara berbeda (mukhalafah) bahwa “anak asuh tiri yang tidak dipelihara bersama boleh dinikahi”. Kesadaran berlainan sama dengan ini tidak diperbolehkan sebab Allah mengatakan “yang kamu didik” hanya berlaku pada galibnya dimana anak asuh kualon biasanya dipelihara ayah tiri karena mengajuk ibunya.


[7]





3.




Lafadz yang disebutkan (manthuq) tak dimaksudkan buat melantangkan sesuatu hal. Sebagai halnya contoh;


قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ


. (رواه البحارى)




“Seorang muslim ialah sosok yang mana muslim enggak selamat berbunga gangguan verbal dan tangannya”.



(HR. Bukhari)




Secara tertulis bahwa seorang muslim tak diperbolehkan menyakiti “mukmin” lainnya baik dengan lisan maupun tanganya.


Dari mantuq tersebut lain diperbolehkan mengambil hukum berdasarkan kefahaman berbeda (mafhum mukhalafah) ialah “diperbolehkan mengganggu anak adam bukan muslim”. Sebab ucapan “muslimun” hanya sebagai penguat bahwa sesama orang muslim seharusnya lebih manjalin kerukunan.


4.




Dalil yang di sebutkan harus berdiri sendiri tidak boleh mengikuti lain. Seperti komplet firman Sang pencipta dalam Al-Baqarah;187:


“Janganlah kamu campuri mereka (isteri-isterimu) padahal sira sedang beritikaf di mesjid”.





(Q.S



Al-Baqarah ayat



187)



Dalil di atas tidak boleh dipahamkan, seandainya lain beritikaf dimasjid, boleh mengelola istrinya. Sebab dia dalam situasi berpuasa, baik dalam situasi iktikaf atau tidak loyal tidak diperbolehkan mencampuri istrinya.


Wallahu a’lam bi ash-shawaf





[1]



Tajudien Abdul Wahhab As-Subkhi,
Matn Jam’il jawami‘. Juz: I, Hal: 235.




[2]


. Ibit; 240.




[3]


. Ahmad Anak lelaki Rusydi,
Bidayah al-Mujtahid. 37. Maktabah As-Syuruq Ad-Daulah. 2004




[4]


. Tajudien Abdul Wahhab As-Subkhi,
Matn Jam’il jawami‘. Juz: I, Hal: 236.




[5]


. Tajudien Abdul Wahhab As-Subkhi,
Matn Jam’il jawami‘. Juz: I, Hal: 241.




[7]


. Tajudien Abdul Wahhab As-Subkhi,
Matn Jam’il jawami‘. Juz: I, Peristiwa: 246.



Source: https://himasaljogja.blogspot.com/2009/11/mantuq-dan-mafhum.html