Cara Mencari Burung Hantu Di Siang Hari


Tarsius tarsier

(Binatang Hantu/Kera Hantu/Beruk Hantu)
adalah suatu spesies primata kecil, mempunyai tubuh berwarna cokelat kemerahan dengan dandan kulit kelabu, bermata lautan dengan telinga menghadap ke depan dan memiliki bagan yang lebar.

Etiket Tarsius diambil karena ciri fisik jasad mereka nan istimewa, yakni sumsum tarsal yang ki bertambah, nan membentuk pergelangan kaki mereka sehingga mereka dapat melompat selama 3 meter (dekat 10 kaki) berasal suatu tanaman ke pokok kayu lainnya. Tarsius juga n kepunyaan ekor panjang yang bukan beruban, kecuali puas bagian ujungnya. Setiap tangan dan kaki sato ini n kepunyaan lima jari yang pangkat. Jari-jari ini memiliki cakar, kecuali ujung tangan kedua dan ketiga yang mempunyai cakar yang digunakan untuk
grooming.[2]

Yang paling spesial dari Tarsius adalah matanya yang besar. Ukuran matanya lebih raksasa sekiranya dibandingkan besar otaknya koteng. Mata ini dapat digunakan untuk menyibuk dengan tajam privat ketaksaan tetapi sebaliknya, dabat ini hampir lain bisa melihat puas siang perian. Kepala Tarsius bisa memutar hampir 180 derajat baik ke sisi kanan maupun ke arah kiri, seperti burung hantu. Kuping mereka juga bisa digerakkan untuk mendeteksi keberadaan korban.

Dimensi

[sunting
|
sunting sendang]

Tarsius adalah primata mungil karena doang memiliki panjang seputar 10–15 cm dengan berat sekitar 80 gram. Bahkan
Tarsius pumilus
atau
Pygmy tersier
yang ialah macam tarsius terkecil doang memiliki pangkat raga antara 93–98 milimeter dan berat 57 gram. Panjang ekornya antara 197–205 milimeter.[2]


Habitat Tarsius (Sulawesi)

[sunting
|
sunting mata air]

Tarsius yakni makhluk nokturnal nan berbuat aktivitas pada malam masa dan tidur puas siang hari. Makanya sebab itu Tarsius mengejar pada malam tahun. Incaran mereka yang paling utama adalah insekta begitu juga kecoa, riang-riang, dan kadang-kadang reptil kecil, titit, dan kelelawar. Habitatnya adalah di hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti mana Suwu, Selayar, dan Peleng. Tarsius juga dapat ditemukan di Filipina. Di Cagar alam Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Daksina, Tarsius lebih dikenal maka itu masyarakat setempat dengan sebutan “balao cengke” maupun “tikus jongkok” sekiranya diartikan kedalam Bahasa Indonesia.

Tarsius tarsier
ditemukan di hutan hujan primer dan sekunder, kendatipun mereka makin memilih rimba pertumbuhan sekunder. Kejadian ini kemungkinan disebabkan oleh kemewahan kas dapur yang melimpah di hutan pertumbuhan sekunder. Habitat mereka berkisar dari hutan hujan evergreen ceduk rendah di dekat permukaan laut ke hutan hujan abu rangkaian gunung rendah hingga 1500 m. Tarsius spektral pula ditemukan di wana mangrove dan semak belukar.[(Wright, et al., 2003) 1]

Sebagai makhluk nokturnal nan melakukan aktivitas plong malam hari dan tidur sreg siang hari, Tarsius tidak seperti kebanyakan binatang nokturnal lain, tarsius bukan memiliki area pemantul cerah (tapetum lucidum) di matanya. Mereka pun memiliki fovea, suatu situasi yang lain biasa sreg binatang nokturnal.[2]

Tarsius menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon. Hewan ini men tanaman daerah teritori mereka dengan urine. Tarsius berpindah medan dengan kaidah nocat dari pohon ke pohon. Sato ini bahkan tidur dan melahirkan dengan terus bergantung pada mayat pohon. Tarsius bukan dapat melanglang di atas petak, mereka meloncat saat berlimpah di kapling.

Rumpun awi digunakan tarsius sebagai medan tidur dan bekas berlindung (cover), di mana tarsius membangun sarang di bagian bawah rumpun bambu yang cukup rapat dan terlindung dari prospek ofensif pemakan, misalnya ular.[3]

Bilamana tidur, tarsius menempati putaran bawah rumpun bambu. Binatang ini keluar dari medan tidurnya pada pukul 6 tunggang hari, kemudian mereka mencari bersantap dan kembali ke peraduan/sarang sekitar palu 5 dinihari. Ranjang tarsius dapat diketahui dengan mudah karena ketika keluar bermula sarang, tarsius mengeluarkan suara seumpama penanda teritori, dan peristiwa yang sepadan dilakukan ketika kembali ke sarang pagi periode. Sesekali suara tarsius dapat terdengar ketika mereka sedang mencari makan (foraging), memberi senggang keberadaan berpunca kebalikan sendirisendiri. Selain itu, keberadaan tarsius di satu pohon atau rumpun bambu dapat diketahui pecah bau urinenya yang tinggal unik.[3]

Perilaku

[sunting
|
sunting mata air]

Seseorang yang turut ke hutan, makin sering mendengar kritik tarsius ketimbang melihat satwanya itu sendiri, karena itu tetapi beberapa orang yang benar-benar kenal tarsius, apalagi kritik satwa ini sepintas seperti suara serangga (musik crit-crit-crit……., tautologis boleh jadi) atau suara kelelawar mungil yang terbang malam hari.[3]
[[Gron, 2010; Gursky, 2002; Gursky-Doyen, 2022; MacKinnon and MacKinnon, 1980 1] 1]
Tarsius aktif berburu bersantap pada lilin lebah hari (nocturnal), perut utamanya yaitu berbagai jenis serangga yang aktif lega malam hari. Selain insekta, tarsius juga bersantap bermacam-macam jenis reptilia kecil serta burung berukuran kecil di antaranya burung kacamata (Zosterops
sp.).

Dalam mencari makan, tarsius menyibuk mangsanya, kontan mengendap perlahan, kemudian secara sekonyongkonyong dengan propaganda yang sangat cepat menyergap mangsanya dengan cara kedua tangan memegang korban, dan kedua kaki membantu kedua tangan menekan mangsa, sampai mangsa bisa dikuasai sesudah-sudahnya. Seperti halnya keberagaman primata lainnya, tarsius dapat menggenggam ideal mangsanya dengan kedua tangannya secara sempurna karena satwa ini memiliki lima jari tangan dan lima ujung tangan kaki. Plong jari tungkai tengah, terletak kuku nan menonjol, seperti gigi taksir melengkung yang melampiaskan tarsius dalam mencengkram mangsanya. Karena makanan tarsius yaitu beraneka macam jenis insek, satwa ini tidak dianggap hama oleh petambak dan pemilik tipar di sekitar hutan.

Tarsius hidup rapat atau membentuk kerubungan mungil di mana dalam satu kelompok semata-mata terdapat satu ekor jantan dan betina dewasa. Apabila dalam satu kerubungan terdapat makin berpokok dua individu, maka boleh dipastikan bahwa kelompok tersebut terdiri bersumber bagak dan betina dewasa serta anak asuh yang mutakadim beranjak dewasa dan anak asuh yang masih katai yang masih disapih maka dari itu induknya. Setiap kelompok tarsius memiliki daerah teritori yang jelas, di mana teritori dapat ditandai dengan air seni dan kotorannya serta bau badannya. Teritori dijaga secara selektif dari masuknya kelompok tarsius yang tidak, di mana pelanggaran teritori dapat menyebabkan persabungan antar kelompok.

Selama ini, mereka burung laut merawat dirinya sendiri dengan menjilati dan menggaruk bulunya dengan cakar toilet mereka. Seandainya terjadi hujan angin rimbun, tarsius menemukan daerah kering dan tetap tidak aktif. Mereka bergerak menerobos pepohonan dan bisa melompati makin berpokok 40 boleh jadi panjang tubuhnya. Ketika menumpu pagi, tarsius spektral “mericau” saat mereka kembali ke petiduran mereka, baik andai duet dengan pasangan mereka maupun internal paduan kritik keluarga. Lagu-lagu ini memberi isyarat kepada kelompok tetangga yang wilayahnya ditempati.
Tarsius tarsier
sangat teritorial dan terlibat dalam sengketa dengan kerubungan tetangga yang memasuki perenggan-had mereka. Mereka membubuhi cap wilayah mereka dengan urin dan sekresi kelenjar.

Tarsius tarsier
pula berkujut dalam perilaku bermain, meringkuk, allogrooming, dan berbagi makanan. Persaingan untuk rimba menghasilkan pertambahan tahun mengejar makan. Individu tampaknya mendapat keuntungan dari hayat kelompok, terutama saat tekanan predasi tinggi, ketika cewek menerima secara seksual, dan bila ada kemungkinan besar menghadapi laki-laki yang berpotensi infantis.

Reproduksi

[sunting
|
sunting sendang]

Mayoritas tarsius merupakan monogami; Namun, tarsius spektral mana tahu mempraktekkan monogami fakultatif atau poligini. Monogami gelagatnya yaitu sistem kawin yang lazim di spesies ini karena terbatasnya jumlah situs tidur bermutu tinggi. Masing-masing betina membutuhkan tempat tidur berkualitas jenjang untuk dirinya dan anak-anaknya. Pohon ara dengan penampang besar makin disukai tapi musykil, yang umumnya dijadikan oleh Tarsius nekat dan betina bagi berbagi pembaringan dan dengan demikian menciptakan menjadikan padanan monogami.

Kerubungan poligini terjadi 19% berpunca waktu. Kelompok monogami sering terdiri berbunga dua alias tiga betina dengan suatu lebah ratulebah nan bereproduksi dan satu adam teritorial, padahal kelompok poligini terdiri dari enam atau lebih individu dengan beberapa wanita reproduksi dan suatu junjungan-laki. Kehadiran testis besar di T. tarsier menunjukkan bahwa poligini cukup masyarakat, karena testis segara tersapu dengan sistem perkawinan acak.[Gursky-Doyen, 2010; MacDonald, 2006 1]

Tarsius tarsier
berkembang biak dua kelihatannya internal setahun, dan kopulasi terjadi pada bulan Mei atau November. Masa kehamilan tebak-kira 6 rembulan, dan kelahiran juga biasanya terjadi pada bulan Mei atau November. Betina melahirkan satu baka tunggal, yang lahir sebaik-baiknya berbulu dan dengan matanya mendelongop. Bayi mentah lahir berwatak precocial dan mampu memanjat hanya pada suatu hari jiwa. Di antara mamalia, pertalian keluarga tarsius adalah yang terbesar relatif terhadap massa tubuh ibu. Jarang badan bayi yunior lahir kebanyakan 23,7 g, hampir 22% dari massa raga ibu. Sebagian ki akbar berat badan mereka diinvestasikan kerumahtanggaan komposit otak, ain, dan tengkorak.

Laktasi umumnya berlangsung hingga 80 periode. Penyapihan terjadi antara usia 4 dan 10 ahad, dan independensi terjadi secara bersama-sama setelah disapih karena keturunan mampu memburu sendiri. Tarsius spektral mencapai kematangan seksual puas usia 17 bulan. Betina mempunyai rahim bicornuate dan uri haemochorial.[Gursky-Doyen, 2010; MacDonald, 2006 1]

Makanan

[sunting
|
sunting sumber]

Mereka terutama memangsa serangga terbang seperti gagat, walang, lebah dan jangkrik.[Gron, 2010; Gursky, 2002; MacDonald, 2006; MacKinnon and MacKinnon, 1980; Shekelle and Salim, 2008 1]
Mereka sewaktu-waktu makan vertebrata kecil, seperti kadal ataupun kelelawar.
Tarsius tarsier
mendengarkan dengan telinga mereka yang mengalir secara mandiri bikin menemukan objek potensial. Begitu item mangsa ditargetkan, seekor tarsius menyergap mangsanya dengan gempuran mendadak, menangkapnya dengan deriji-jarinya nan tangga dan semampai, dan gigitan bagi membunuhnya. Tarsius kemudian kembali ke tempat bertenggernya bakal mengkonsumsi mangsanya. Buram berburu penggerebekan ini membutuhkan sinkronisasi alat penglihatan-tangan yang bagus.
Tarsius tarsierdapat mengumpulkan sasaran mereka dari udara, di tanah, maupun di pemaafan patera dan dahan. Tarsius boleh bersantap 10% berbunga berat awak mereka sendiri setiap 24 jam, dan mereka menenggak air beberapa bisa jadi sejauh lilin batik.

Tarsius tarsier
tampaknya memanfaatkan kirana bulan saat mencari makan. Ini adalah perilaku yang tidak biasa, karena kebanyakan mamalia nokturnal kecil menunjukkan fobia lunar sebagai mekanisme penghindaran predator. Tarsius mengatasi peningkatan risiko predasi ini dengan mencari makan kerumahtanggaan gerombolan.

Tarsius di Pulau Belitung

[sunting
|
sunting sumber]

Tarsius Bancanus Saltator
atau intern bahasa local Belitung dikenal dengan “pelilean” yaitu salah satu jenis Tarsius yang hijau ditemukan dan masuk internal daftar appendix dunia melengkapi dari bilang jenis Tarsius lainnya yang mutakadim lebih lampau teridentifikasi.[4]
Jenis speciesnya ditemukan lagi di Sumatra, Borneo, Sulawesi (Indonesia) serta pulau Bohor, Samar, Mindanau, dan Leyte (Philipina). Matanya yang buntar gempal dan hidungnya yang absurd lalu menjujut untuk dilihat sementara ukurannya nan kerdil pas banget bila berada di jab tangan kita. Hewan mirip monyet ini memakan serangga yang besar perut keluar bersumber kayu bekas gosong atau arang kayu.

Tarsius Bancanus Saltator
ini adalah hewan yang sangat aktif dan menarik dengan ciri-cirinya yang khas. Meski tubuhnya dibalut dengan bulu warna abu-abu, ekornya yang sepanjang sangkil-kira 232mm hampir tidak berambut alias gundul. Dari kepala hingga ekor panjangnya antara 118-149mm dengan berat 113-142 gram. Nan mengesankan bersumber satwa ini yaitu mata besarnya yang menonjol yang sepertinya lain pas dibandingkan dengan tubuh mungilnya. Ukuran rongga matanya hingga melebihi ukuran geluk tokoh dan perutnya.[4]

Tangan dan kakinya mempunyai jari-jari nan mirip dengan makhluk yang digunakannya untuk bertengger di pohon dan ekornya digunakan kerjakan keseimbangan. Anda boleh melihat saat deriji tengahnya mulur dan tulang pergelangannya yang panjang bekerja seperti shock absorber. Hal ini membantunya meloncat dari dahan nan satu ke dahan yang lainnya dengan mudah. Kepalanya habis mirip dengan kepala kalam hantu karena bentuknya dan pertemuan nan unik di tengah-tengah sinus dan tengkoraknya membuatnya bakir mengacau kepalanya 180 derajat. Tarsier kembali memiliki persneling-gigi yang drastis bikin membantunya memangsa insek sejauh berburu di lilin batik hari.

Tarsier lebih suka tinggal di lubang-lubang di pohon ataupun akar tunggang-akar bambu kendati masih mungkin menemukannya di panggung bukan. Hewan ini banyak mengerjakan aktivitasnya di malam hari, meski sekali-kali Anda bisa memergokinya di siang masa.

Saat ini Tarsius di Belitung semakin terancam keberadaannya akibat kerusakan di habitat jenggala alamnya. Introduksi lahan hutan dengan dibakar, perkebunan besar dan illegal logging menjadi biang keladi menurunnya jumlah tarsius. Untuk itu kami bekerjasama dengan GEF dan UNEP serta Pemkab Beitung berupaya untuk melakukan upaya perawatan terhadap Tarsius yang mana saat ini difokuskan di tempat Wisata Alam terpadu Batu Mentas,[5]
HL Argo Tajam, Kecamatan Badau.

Pustaka

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    Shekelle, M. & Salim, A. (2008). “Tarsius tarsier“.
    IUCN Red List of Threatened Species. Version 2008. International Union for Conservation of Nature. Diakses tanggal
    1 January
    2009
    .




  2. ^


    a




    b




    c




    Harun, Matahari. “Tarsius (Tarsius tarsier) Primata Katai berpokok Sulawesi – Dishut Prov. Sulteng”.
    dishut.sultengprov.go.id. Diarsipkan semenjak varian bersih terlepas 2022-11-07. Diakses rontok
    2017-11-02
    .




  3. ^


    a




    b




    c




    Administrator. “Habitat, Populasi dan Perilaku Tarsius (Tarsius tarsier) Di TN. Bantimurung Bulusaraung”.
    tn-babul.org
    . Diakses tanggal
    2017-11-02
    .




  4. ^


    a




    b




    “www.travel.belitungku.com | Portal Informasi Wisata pulau Belitung”. Diarsipkan berbunga versi safi tanggal 2022-09-20. Diakses tanggal
    2014-09-17
    .





  5. ^


    “Gangguan Mentas, Kelekak Datuk, Badau, Belitung”. Diarsipkan dari varian lugu tanggal 2022-09-20. Diakses tanggal
    2014-09-17
    .





  1. ^

    Tarsius spektral ditemukan di hutan hujan primer dan sekunder, meskipun mereka lebih memintal jenggala pertumbuhan sekunder. Situasi ini kemungkinan disebabkan maka dari itu kelimpahan nafkah yang melimpah di hutan pertumbuhan sekunder. Habitat mereka berkisar dari hutan hujan evergreen dataran rendah di dempang parasan laut ke hutan hujan angin pegunungan abnormal sampai 1500 m. Tarsius spektral pula ditemukan di jenggala mangrove dan semak belukar.

  1. ^

    Perilaku
  1. ^


    a




    b



    Reproduksi

  1. ^

    Makanan
  • Wright, P., E. Simons, S. Gursky. 2003. Tarsiers: past, present, and future. United States of America: Rutgers University Press.
  • Gursky, S. 2010. Dispersal Patterns in
    Tarsius spectrum. International Journal of Primatology, 31: 117-131.
  • MacDonald, D. 2006. The Encyclopedia of Mammals. New York: Facts on File.Gron, K. 2010. “Primate Factsheets: Tarsier (Tarsius) Taxonomy, Morphology, & Ecology” (On-line). Primate Info Net. Accessed November 08, 2022 at http://pin.primate.wisc.edu/factsheets/entry/tarsier/taxon.
  • Gursky, S. 2002. The behavioral ecology of the Spectral tarsier,
    Tarsius spectrum. Evolutionary Anthropology, 11: 226-234.
  • MacKinnon, J., K. MacKinnon. 1980. The behaviour of wild spectral tarsiers.. International Journal of Primatology, 1(4): 361-379.



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Tarsius_tarsier