Cara Menangani Kecelakaan Laboratorium Yang Menyebabkan Luka Bakar Akibat Panas

PENGANTAR Kemalangan KERJA DI LABORATORIUM

D
isusun Oleh
:






SURIANSYA
H



(
NIM.

H1D112011)

                   Dosen Instruktur Ain Kuliah :

QOMARIYATUS SHOLIHAH, Amd.Hyp, S.T, M. Kes

Departemen Pengkhususan TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN Tingkatan

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS TEKNIK

Programa Riset S-1 TEKNIK Ilmu pisah

BANJARBARU

201
6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Satah Belakang

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya bagi menciptakan tempat kerja nan lega dada, bugar, independen berpunca pencemaran mileu, sehingga bisa mengurangi dan atau adil bersumber ketakberuntungan kerja dan kebobrokan akibat kerja yang sreg hasilnya dapat meningkatkan kesangkilan dan produktivitas kerja.

Mengenai penjelasan undang-undang nomor 3 tahun 1992 tentang Kesehatan telah berpesan antara lain jamsostek khususnya yang tersurat n domestik Pasal 10 Undang-Undang Nomor 3 Perian 1992 tentang Persekot Sosial Tenaga kerja yang telah mengatur bahwa pengusaha perlu melaporkan kegeruhan kerja yang menjalari tenaga kerjak kepada Jawatan Departemen Tenaga Kerja dan Badan Peyelengara intern tahun tidak lebih berpunca 2 kelihatannya 24 jam setelah   fungsionaris yang tertular kecelakaan tersebut mendapatkan surat keterangan sinse nan menyatakan bahwa kondisi tenaga kerja tersebut sembuh, cacat atau meninggal dunia seperti penggalian (Kharismawan, 2022) yang mengharuskannya cak semau jamsostek bikin pekerja. Setiap gelanggang kerja harus pengembangan Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Dilaboratorium analis kesehatan melaksanakan upaya kebugaran kerja, kiranya bukan terjadi gangguan kesehatan plong pegiat, tanggungan, publik dan mileu disekitarnya (Anonim, 2010).

Setelah memahami bagimana prinsip kerja, mandu kerja serta pengantar kemalangan kerja dan keamanan kerja di laboratorium maka dapat berguna buat kita misal panduan sebelum melakukan praktikum di laboratorium. Kaidah kerja dan prinsip kerja di laboratorium ini ialah ancang-langkah sebelum dan sehabis kita mengerjakan praktikum moga selama proses praktikum tidak terjadi kesalahan-kesalahan nan bukan di inginkan serta dapat menimbulkan kecelakaan nan bisa merugikan diri koteng alias anak adam lain (Salim, 2022). Bakal keamanan kerja di laboratorium  kita mengerti bagaimana agar diri kita bisa  terhindar terbit kecelakaan di laboratorium dan jika terjadi kecelakaan maka kita mutakadim mengetahui bagaimana cara menanganinya. Intern keamanan kerja hal mula-mula yang harus di patuhi merupakan kedisiplinan terhadap tata tertib serta sifat-sifat yang cak semau di laboratorium agar  tidak terjadinya kerugian (Subiantoro, 2022).

1.2 Rumusan Kelainan

Adapun rumusan problem n domestik  referat ini yakni:

  1. Apa definisi dan harapan dari keselamatan kerja?
  2. Apakah sumber yang menyebabkan terjadinya kemalangan di makmal?
  3. Bagaimana contoh kasus kecelakaan kerja di laboratorium?
  4. Bagaimana pengendalian kecelakaan kerja di laboratorium?

1.3  Pamrih Ki kesulitan

    Akan halnya tujuan masalah kerumahtanggaan  makalah ini adalah:

  1. Mengetahui definisi dan tujuan mulai sejak keselamatan kerja.
  2. Mengetahui sumber yang menyebabkan terjadinya ketakberuntungan di laboratorium.
  3. Memaklumi paradigma kasus kecelakaan kerja di laboratorium.
  4. Mengetahui pengendalian kecelakaan kerja di makmal.

1.4  Keefektifan

Adapun manfaat semenjak kertas kerja ini yaitu:

  1. Menambah mantra keterangan Mahasiswa khususnya didalam bidang Kebugaran dan Keselamatan Kerja (K3).
  2. Memberikan alternatif biar dapat mengantisipasi dan memencilkan kecelakaan di laboratorium.
  3. Menerimakan informasi akan halnya Kebugaran dan Keselamatan Kerja (K3) yang sangat bermanfaat didalam dunia kerja.

BAB II

TINJUAN Bacaan

2.1 Definisi dan Harapan Keselamatan Kerja

Misal sendiri praktikan, sebelum melakukan praktikum kita justru lewat  harus mengetahui bagaimana pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di makmal, agar kita bisa melaksanakan praktikum dengan aman dan lancar. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan penggunaan alat alat makmal, bahan dan proses praktikum, palagan praktikun & lingkungannya serta mandu-mandu mengamalkan praktikum. Menurut (Salim, 2022) keselamatan kerja menyangkut segenap proses Praktikum di laboratorium. Sedangkan kecelakaan kerja yaitu peristiwa nan tak terkaji dan bukan diharapkan nan terjadi kapan praktikum sedang berlangsung. Oleh karena dibelakang peristiwa itu enggak terdapat unsur kesengajaan, kian-kian dalam bentuk perencanaan (Rahayuningsih, 2022).

Menurut (Syartini, 2010) keselamatan dan kesehatan kerja (K3) akan menciptakan terwujudnya pemeliharaan laboratorium serta pula sida-sida yang baik. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) ini harus

ditanamkan pada diri masing-masing individu karyawan dengan cara pengintaian dan pembinaan yang baik agar mereka menyadari kurnia berarti keselamatan kerja untuk dirinya maupun untuk

laboratorium dan bagi para pekerja.

Kesehatan kerja (Occupational health) ialah episode dari kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan semua jalan hidup nan berhubungan dengan faktor potensial nan mempengaruhi kesehatan pekerja (dalam hal ini Dosen, Mahasiswa dan Fungsionaris). Bahaya pekerjaan (akibat kerja), seperti halnya masalah kesehatan lingkungan tidak, bersifat akut atau kronis (sementara atau berkelanjutan) dan efeknya mungkin buru-buru terjadi atau perlu periode lama. Surat berharga terhadap kesehatan bisa secara sedarun maupun tidak sedarun. Kesegaran publik kerja terlazim diperhatikan, oleh karena selain bisa menimbulkan alai-belai tingkat produktifitas, kebugaran masyarakat kerja tersebut dapat timbul akibat pekerjaanya. Bahan kesehatan kerja khususnya yakni para pekerja dan peralatan kerja di mileu makmal. Privat laboratorium harus ada manajemen K3 nan berguna bagi mengantisifasi terjadinya kerugian, dan harus di dukung dengan
enabling factor/ pendukung (lingkungan fisik dan kesiapan fasilitas dan alat suporter diri) dan rein forcing factor/ faktor pendorong (dukungan sosial) dengan kecelakaan kerja yang terjadi dilaboratorium
(Wulandari, 2022).
Selain di laboratorium manajemen K3 juga harus diterapkan di  kondominium sakit (Salikkuna, 2022).

Akan halnya cermin manajemen dalam kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah pada RSIA Kasih Ibu Manado dimana disana menerapkan analisis penerapan Sistem Tata Kebugaran dan  Keselamatan Kerja (SMK3) Hasil mulai sejak penelitian ini merupakan adanya komitmen dan ketatanegaraan  manajemen privat pelaksanaan SMK3, perencanaan disusun oleh arahan RS secara lisan dan pelaksanaan K3 mutakadim terprogram tetapi belum memiliki organisasi tersendiri dan ahli K3 antara enggak penyediaan APD dan pelatih K3 kerjakan pegawai RS serta pengukuran dan evaluasi belum maksimal dilaksanakan (Toding, 2022).

Menurut hasil penggalian (Sholihah, 2022) menyatakan pengintaian K3 intern penerapannya sepanjang satu tahun efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap budaya K3, namun belum efektif meningkatkan kesehatan pegiat. Penelitian ini berdasarkan hasil observasi di PT X, Rantau, Kalimantan Selatan, ponten hilir sempadan debu lain diketahui. Manajemen perusahaan tambang batu bara sahaja menyatakan secara lisan bahwa nilai muara perenggan debu n domestik keadaan baku. Kodrat debu lebih dari 350 mg/m3
mega/hari (OR = 2,8; 95% CI = 1,8 – 9,9) merupakan pelecok satu faktor
intrinsic
yang manjur gandeng dengan penurunan daya produksi paru. Maka mulai sejak itu Penerapan dan penyuluhan K3 sangat penting supaya bisa mengantisipasi penyakit diparu-paru akibat terhisap serdak.

2.2  Sendang Terjadinya Kecelakaan Di Makmal

Kerugian kerja dapat terjadi kapan saja dan dimana saja nan bisa menjalari setiap pekerja. Kecelakaan kerja mengakibatkan kemalangan baik bagi pegiat dan pihak nan mengaryakan. Makanya karena itu mesti dilakukan identifikasi kecelakaan kerja kekuatan mencegah terjadinya kecelakaan kerja tersebut. Menerobos identifikasi bahaya kerja maka akan meminimalkan bahkan mencegah bahaya melalui pengendalian bahaya kerja yang dilakukan sesuai hasil analisa identifikasi bahaya kerja. Agar tindak lanjut penangan berusul hasil identifikasi makin maksimal maka perlu dilakukan kembali satu penilaian risiko. Penilaian resiko merupakan metode berstruktur privat mengawasi aktivitas kerja, mempertimbangkan segala apa nan dapat menjadi buruk, dan membelakangkan kendali nan cocok bagi mencegah terjadinya kerugian, kerusakan, atau cidera di kancah kerja. Penilaian ini harus pun melibatkan pengendalian yang diperlukan cak bagi menyabarkan, mengurangi atau meminimalkan resiko (Amanah, 2010).

Selain itu terjadinya kerugian kerja disebabkan karena dua golongan. Golongan pertama adalah faktor mekanis dan lingkungan (unsafe condition), sedangkan golongan kedua yaitu faktor manusia (unsafe action).
Sejumlah penelitian  yang telah dilakukan menunjukkan bahwa faktor makhluk menempati posisi yang sangat penting terhadap kecelakaan kerja yaitu antara 80-85% (Soyuno, 2022).

Terjadinya kegeruhan dapat disebabkan oleh banyak keadaan, belaka bersumber amatan terjadinya kecelakan menunjukkan bahwa situasi-hal berikut yaitu sebab-sebab terjadinya kecelakan kerja di labolatorium:

  1. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang bahan-target kimia dan proses-proses serta perangkat maupun peralatan yang digunakan dalam mengerjakan kegiatan
  2. Kurangnya kejelasan ilham kegiatan labolatorium dan juga kurangnya pengawasan yang dilakukan selama melakukan kegiatan labolatorium.
  3. Kurangnya bimbingan terhadap petatar atau mahasiswa yang medium melakukan kegitan labolatorium.
  4. Kurangnya alias tidak tersedianya perangkat keamanan dan perlengkapan perlindungan kegiatan labolatorium.
  5. Cacat atau tidak mengikuti wahi ataupun aturan-resan yang semestinya harus ditaati.
  6. Enggak menggunakan peranti pelindung yang seharusnya digunakan atau menggunakan peralatan alias incaran yang lain sesuai.
  7. Tidak berpose lever-hati di dalam melakukan kegiatan.

(Suyono, 2022).

Risiko bahaya, sekecil apapun kadarnya, bisa unjuk di momen kapan sekali lagi, di manapun, dan dapat menghinggapi siapapun yang sedang melakukan pekerjaan. Bahaya kerja di makmal dapat berupa bahaya fisik, seperti infeksi, terluka, cidera maupun tambahan pula sedikit, serta bahaya kesegaran mental sebagai halnya stres, syok, ketakutan, yang bila intensitasnya meningkat bisa menjadi hilangnya kesadaran (pingsan) bahkan kematian (Winarni, 2022).

Berasarkan kasus di apartemen remai Islam Yarsis Surakarta penyebab kecelakaan kerja didasakan sreg stress kerja dan kelelahan kerja. Dimana berdasarkan hasil  pengkhususan pada bidan diketahui bahwa pengukuran kelelahan setelah kerja memiliki biji galibnya kian besar berasal pada kepenatan sebelum kerja. Kejadian ini disebabkan karena tenaga kerja harus menyelesaikan pikulan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Berdasarkan amatan univariat pada variabel kelelahan kerja boleh diketahui bahwa untuk pengukuran sebelum kerja dari 30 responden yang mengalami kelehan dalam keadaan normal, sebanyak 13 orang (43,33%). Dan 17 orang (56,67%) berlambak kerumahtanggaan kategori kelelahan ringan, dan tak ada responden (0%) berharta kerumahtanggaan kategori kelelahan sedang dan susah. Sedangkan kerjakan pengukuran selepas berkreasi dapat diketahui bahwa dari 30 responden tak cak semau yang mengalami kelehan intern kejadian lumrah (0%), sebanyak 22 orang (73,33%) makmur dalam kategori kepenatan ringan, 8 khalayak (26,67%) berlambak kerumahtanggaan kategori  kepenatan sedang dan tidak ada respon dan (0%) berharta dalam kategori kelelahan susah (Widyasari, 2010).

Selain itu hasil survei pendahulaun yang dilakukan di laboratorium RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo diperoleh warta bahwa laboratoium tersebut mempunyai berbagai potensi bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Bahaya nan minimal menonjol di laboratorium itu adalah bahaya biologis yang semenjak dari spesimen-spesimen pasien yang akan diperiksa. Spesimen-percontoh tersebut antara lain darah, sputum dan urin. Dari  bermacam-macam spesimen tersebut para petugas laboratorium bisa dijangkiti berbagai ki kesulitan  terutama yang ditularkan menerobos  darah  dan  cairan  tubuh, seperti HIV, hepatitis  B, tuberculosis dan keburukan menular lainnya (Rahman, 2022).

Pengantar kecelakaan kerja ini lewat berfaedah sebagai lengkap pengujian hipotesis dengan taraf signifikan (α) sebesar 5% menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh yang kasatmata kenyataan K3 terhadap kesadaran  berperilaku K3 pelajar kelas bawah XII jurusan Teknik Pemesinan dan Teknik Instalasi Tenaga Listrik di lab. CNC. Kontrol pengetahuan terhadap kognisi bertabiat K3 sebesar 0,149 (14,9%) dilihat terbit nilai t hitung > horizon diagram (5,134 > 1,65508); (2) terdapat pengaruh yang konkret sikap terhadap pemahaman berperilaku K3. Kekuasaan  sikap  terhadap  pemahaman  berperilaku  K3 sebesar  0,293 (29,3%) dilihat dari nilai n hitung > t tabel (78,76 > 1,65508); dan (3) terletak pengaruh yang berwujud siaran K3 dan  sikap  secara  serentak terhadap pemahaman bertabiat K3 siswa kelas XII jurusan Teknik Pemesinan dan Teknik Instalasi  Tenaga  Listrik di  lab.  CNC  dan  PLC  SMK  Kawasan  3  Yogyakarta. Yuridiksi  publikasi dan sikap secara  bertepatan  terhadap  kesadaran berperilaku K3 sebesar 0,352 (35,2%) dilihat dari F hitung > F diagram (40,147 > 3,06) (Ramadan, 2022).

Perigi bahaya dapat dibedakan menjadi perigi dari :

  1. Perangkat/alat-alat laboratorium, seperti rekahan gelas, pisau bedah, korek api, atau alat-alat ferum.
  2. Mangsa-bahan fisik, kimia dan biologis, begitu juga master (panas-dingin), suara, gelombang listrik elektromagnet, hancuran cemberut, basa, alkohol,
    kloroform, jamur, bakteri, serbuksari atau racun gigitan insekta.
  3. Proses kerja makmal, seperti kesalahan prosedur, penggunaan alat yang tak tepat, alias faktor psikologi kerja (terburu-buru, takut dan bukan-bukan) (Hidayati, 2022).

Ketakberuntungan di laboratorium bisa berbentuk 2 jenis yaitu :

  1. Kecelakaan medis, jikalau nan menjadi korban adalah pasien.
  2. Kecelakaan kerja, seandainya yang menjadi korban adalah petugas laboratorium itu seorang.

Beberapa lengkap kecelakaan yang banyak terjadi di laboratorium :

  • Terguling, biasanya karena lantai licin. Terlulur dan terduduk adalah bentuk kecelakaan kerja nan dapat terjadi di laboratorium. Akibatnya :
  • Ringan: memar
  • Berat: fraktura, dislokasi, memar otak, dan bukan-enggak.
  • Pencegahannya :

Pakai sepatu anti slip, jangan pakai sepatu dengan hak tataran, veter longgar, hati-hati bila berjalan pada lantai nan sedang dipel (basah dan licin) ataupun tidak rata konstruksinya dan pemeliharaan lantai dan tangga.

  • Risiko terjadi kebakaran (sumber: bahan kimia, kompor) mangsa desinfektan nan kali mudah berkobar
    (flammable)
    dan berbisa. Kebakaran terjadi bila terdapat 3 partikel bersama sama adalah: oksigen, bahan yang mudah terbakar dan panas. Jadinya :
  • Timbulnya kebakaran dengan akibat luka bakar dari ringan sampai berat
    lebih-lebih kematian.
  • Timbul keracunan akibat kurang lever-hati.
  • Pencegahannya :

Konstruksi konstruksi yang tahan api, sistem penyimpanan yang baik dan terhadap bahan-alamat yang mudah tutung, pengawasan terhadap  terjadinya prospek timbulnya kebakaran didalam laboratoruim (Anonim, 2010).

  • Sistem tanda kebakaran :
  • Manual yang memungkinkan seseorang menyatakan segel bahaya dengan lekas.
  • Faali nan menemukan kebakaran dan memasrahkan tanda secara

Pengantar kecelakaan kerja ini dilakukan supaya dapat mengurangi dan menghindari terjadinya kecelakan  dilabolatorium biar dapat dikurangi sampai tingkat paling minimal seandainya setiap turunan yang menggunakan labolatorium mengetahui tanggung jawabnya. Menurut (Hidayati, 2022) berikut adalah orang nan seharusnya bertanggug jawab terhadap keamanan labolatorium :

  1. Lembaga atau staf labolatorium berkewajiban atas akomodasi labolatorium yaitu kelengkapannya, preservasi, dan keamanan labolatorium.
  2. Dosen alias hawa bertanggung jawab didalam memberikan semua petunjuk yang diperlukan kepada mahasiswa atau pelajar termasuk didalamnya aspek keamanan.
  3. Mahasiswa atau siswa yang bertanggung jawab lakukan mempelajari aspek kesegaran dan keselamatan mulai sejak bulan-bulanan-bahan ilmu pisah yang berbahaya, baik yang digunakan maupun yang dihasilakan bermula satu reaksi, dan keselamatan dari teknik dan prosedur nan akan dilakukannya. Dengan demikian mahasiswa atau pesuluh boleh mengekspresikan peralatan dan mengikuti prosedur yang kiranya, sehingga bahaya kemalangan dapat dihindari atau dikurangi.

Selain hal diatas intern pengantar kecelakaan kerja kita harus mengetahui resep-buku tindakan Uluran tangan Pertama Pada Ketakberuntungan (P3K) yang berguna bikin mendukung dalam proses penanganan apabila terjadi ketakberuntungan dilaboratorium. Pertolongan pertama lega ketakberuntungan dimaksudkan cak bagi mengasihkan perawatan darurat bagi incaran sebelum pertolongan nan lebih lanjut diberikan ke dokter (Hudori, 2010). Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam berbuat tindakan P3K adalah :

  1. Jangan gagap enggak berjasa boleh lamban.
  2. Perhatikan pernafasan korba
  3. Hentikan pendarahan.
  4. Perhatikan pertanda
    shock.
  5. Jangan memindahkan incaran terburu-uber.

2.3  Contoh Kasus Kegeruhan Dilaboratorium

Akan halnya paradigma kasus kecelakaan dilaboratorium pada hasil temuan intern beberapa keadaan nan menimbulkan potensi kerugian kerja di makmal Teknik Lingkungan UNDIP. Selain aspek (keadaan dan tindakan) yang berpotensi celaka, dilakukan juga penilaian resiko untuk mengetahui tingkat risiko di Laboratorium. Penilaian risiko dilakukan dengan intensi agar memperoleh nilai tingkat risiko bermula masing-masing potensi bahaya diatas. Berdasarkan hasil perkalian anatar paparan, kebolehjadian dan konsekunsi maka diketahui tingkat risiko berbunga masing-masing potensi bahaya dilaboratorium (Amanah, 2010).

Menurut (Hati,2015) bahwa faktor lingkungan mempengaruhi  keselamatan dan kesehatan kerja yang sangat terdepan diperhatikan bagi Mahasiswa. Dari hasil 50 responden, sebanyak 66,67% menyatakan sangat setuju nterhadap pentingnya faktor lingkungan bagi keselamatan dan kesehatan  kerja  di  laboratorium  mutakadim  baik. Sedangkan 29,33% responden menyatakan sepakat. Sisanya 0,89% tak setuju dan 0,44% menyatakan  tinggal  tidak  setuju  terhadap  faktor  mileu  untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dilaboratorium.

Berdasarkan hasil identifikasi di Laboratorium Teknik Mileu UNDIP nan sebelumnya telak dibagi daerah kerja berdasarkan kelompok aktivitasnya maka diketahui jenis bahaya sreg Tabel 2.1:



Tabel

2.
1
Hasil Identifikasi Bahaya

No
.
Aktivitas Potensi Bahaya
1 Pengambilan reagen dari lemari asam Keracunan
Sesak nafas
Iritasi ain
Iritasi kulit
Luka bakar
2 Pengisian buret Jejas
Iritasi alat penglihatan
Tertelan bahan kimia
3 Pemipetan luka gores
4 Pengguna kaca yang sudah gumpil luka gores
5 Penggunaan bumbung reaksi Iritasi kulit
6 Pengguna oven terpapar panas
7 Penggunaan BOD reaktor Tersengat aliran listrik
8 Pengisian
tower
air
Terpelest
Keseleo
Patah Sumsum
9 Pensolderan Iritasi mata
Terpapar seronok
Batuk darah
10 Analisa logam dan uji sampel air Kebakaran
Ledakan
Intoksikasi
11 Pengambilan reagen dari bufet penyimpana mangsa kimia Pusing
Meloya

Berdasarkan pendalaman kasus (Amanah, 2010) hasil identifikasi bahaya yang dilakukan pada tiga penggalan ruangan di makmal Undip (ruang praktikum, ruang komputer laboran dan urat kayu bekas penyimpanan perabot dan bahan) diketahui terdapat beberapa kejadian yang menyebabkan terjadinya kerugian antara lain :

  1. Tidak tersedianya prosedur keselamatan dan kesehatan kerja.
  2. Tidak tersedianya MSDS.
  3. Tidak tersedianya APD.
  4. Tidak tersedianya kepadaan P3K dan
    eyewash.
  5. Tidak tersedianya alat pemadam api.

Berdasarkan penajaman (Andarini, 2022) diketahui bahwa kemudahan K3 dilaboratoium Teknik Sepeda motor SMKN 2 Daerah tingkat Palembang masih kurang diperhatikan. Sebagai contoh sreg momen mencanai terdapat siswa yang terbatas memperhatikan keselamatan tangan sendiri dengan menggerinda benda kerja secara overheating nan mengakibatkan tangan melapuh dan melembung, selain itu terwalak bahaya tak karena kerja menggunakan mesin. Kejadian ini merupakan pencahanan yang berbahaya akibat kurangnya pengetahuan kerumahtanggaan mengoperasikan peralatan sehingga tindakan control bahaya sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kesialan. Selain itu hasil penelitian ini dengan menganalisa risiko menunjukkan bahwa risiko terbanyak terdapat sreg katagori acceptable risk merupakan kebakaran, tersengat arus listrik, fatigue, menggotong beban berat, human error, minyak pelumas mantan, tangan masuk kemesin gerinda, peralatan mengalami erotis sesak, bulu tersangkut lega mesin dan tertarik, sharp edges/ point, percikan tatal/ beram benda kerja, tangan terkilir, keburukan ergonomik dan terpeleset.

2.4  Pengendalian Kesialan Kerja Di Laboratorium

Hal-hal nan utama  internal mengantisipasi pengendalian kecelakan kerja dilboratorium adalah untuk mengetahui rasam-kebiasaan yang aman, bahaya-bahaya yang kelihatannya dapat terjadi dan hal-hal nan terlazim dilakukan jika terjadi suatu kecelakaan. Menurut (Fathimahhayati, 2022) kesialan didalam laboaratorium bisa dianalisis potensi bahayanya dengan
Metode Job Safety Analysis
(JSA) misal upaya penerapan kesehatan dan keselamatan kerja di privat makmal.

Berikut adalah kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan keamanan dilaboratorium:

  1. Penataan ruangan yang baik sangatlah penting untuk keamanan kerja di laboratorium. Ruangan terbiasa ditata dengan kemas, berikan tempat lakukan jalan silam dan tempatkan segala sesuatu sreg tempatnya.
  2. Setiap makhluk harus cukup hampir dengan lokasi dan perlengkapan temporer seperti peti P3K, pemadam kebakaran, botol basuh netra dan lain-lain.
  3. Gunakan perlengkapan keamanan bila madya mengamalkan eksperimen.
  4. Sebelum mulai bekerja kenalilah dulu kemungkinan bahaya yang akan terjadi   dan cabut tindakan kerjakan mengurangi bahaya tersebut.
  5. Berikan tanda peringatan puas setiap perlengkapan, reaksi atau kejadian tertentu.
  6. Eksperimen yang sonder izin harus dilarang dan bekerja sendirian di laboratorium  juga perlu dicegah.
  7. Gunakan panggung sampah nan sesuai lakukan sisa pelarut, pecahan gelas, kertas dan lain-tidak.
  8. Semua renjis dan kebocoran harus taajul dibersihkan.

(Fathimahhayati, 2022)

Melaui kerja dengan berbagai korban kimia korosif dan target dengan zat corak, maka kenyataan mengenai metode perawatan pribadi dalam hal ini sangatlah penting (Ramli, 2022). Sedangkan intensi utama adalah kerjakan mencegah kemalangan, terdepan lakukan menggunakan perabot keselamatan pribadi sebagai perlindungan untuk mencegah jejas jika terjadi kerugian. Amatan penerapan K3 intern proses mengajar dilaboratorium harus dilakukan dengan baik. Dimana maslahat dari keselamatan kerja yaitu runding, identifikasi dan  evaluasi kondisi dari praktek berbahaya (Indriyani, 2022).

Beberapa perangkat pribadi nan biasa digunakan adalah:

  1. Jas laboratorium (labjas) bakal mencegah kotornya pakaian. Pakaian pelindung harus nyaman dipakai dan mudah untuk dilepaskan bila terjadi kecelakaan ataupun kontaminasi oleh bahan kimia.
  2. Pelindung lengan, tangan, dan jari. Sarung  tangan   nan   mudah   dikenakan   dan dilepas yakni prasyarat perlindungan tangan dan deriji pecah merangsang, incaran kimia, dan bahaya lain. Sarung tangan kejai diperlukan bagi menangani alamat-mangsa korosif seperti asam dan alkali. Sarung tangan jangat digunakan untuk melindungi tangan dan jari berasal benda-benda tajam seperti pada saat berkarya di bengkel. Sarung tangan asbes diperlukan untuk menangani objek-alamat   Sarung   tangan   tiras   perlu   disimpan   dengan   baik   dan perlu ditaburi
    talk
    moga tidak lengket ketika disimpan.
  3. Penaung Kaca  mata pelindung   digunakan   bagi   mencegah   mata dari tempias bahan kimia dan di laboratorium perlu disediakan   minimum sedikit sepasang. Arketipe setiap murid memilikinya. Kacamata penaung harus nyaman dipakai dan sepan ringan. Kacamata penaung wajib dipakai bila bekerja dengan senderut, bromin, amonia atau bila bekerja dibengkel begitu juga   memotong logam sodium, menumbuk, menggergaji, menggerinda dan pegangan sejenis yang memungkinkan terjadinya tempias ke mata.
  4. Respirator dan almari uap. Respirator sebaagai pelindung terhadapap gas, uap dan abu yang bisa mengganggu serokan pernafasan. Bila bekerja dengan asap-gas beripuh lamun dengan jumlah cacat, seperti mana khlorin, bromine dan nitrogen dioksida maka terbiasa dilakukan dilemari uap dan pelu sirkulasi udara yang baik bagi mencagar berbunga keracunan. Kecelakaan majuh terjadi karena menyingkir kran tabun dalam peristiwa melenggong. Kran pengeluaran gas di dalam lemari uap harus burung laut ditutup bila tidak digunakan.
  5. Sepatu pengaman. Sepatu khusus dengan bagian atas yang langgeng dan solnya nan padat harus dipakai saat bekerja dilaboratorium atau bengkel. Jangan menggunakan sandal bikin menghindari luka dari pecahan kaca dan tertimpanya kaki oleh benda-benda berat.
  6. Layar pelindung. Digunakan jika kita ragu akan terjadinya ledakan dari incaran kimia dan alat-instrumen hampa udara.

(Wijayanti, 2022)

Hasil penelitian dari (Wijayanti, 2022) menunjukan bahwa ada dominasi butir-butir petugas labratorium terhadap perilaku keselamatan dan kesehatan kerja (0,001 < 0,05). Ada pengaruh sikap petugas laboratorium terhadap perilaku keselamatan dan keshatan kerja (0,017 < 0,05). Terserah pengaruh ketersediaan alat penaung diri terhadap perilaku kesehatan dan keselamatan kerja (0,000 < 0,05). Ada pengaruh pengetahuan, sikap dan kesiapan instrumen penaung diri secara bersama-selaras terhadap perlaku kesehatan dan keselamatan kerja dengan poin koefisien determinasi sebesar 58,4% sedangkan sebanyak 41,6% dipengaruhi maka itu variabel enggak diluar jenis penelitian ini.

Menurut (Subiantoro, 2022) upaya keselamatan dan kesehatan kerja laboratorium melingkupi pengelolaan sebelum aktivitas kerja (pre-activity), saat kegiatan (in doing process) sampai dengan penangan resiko (risk taking action). Ruang skop ini menjadi tanggung jawab guru, aktivis laboratorium dan laboran secara bersama. Kendati tidak sedikit atau primitif dan berpotensi menambah beban pegangan, namun bahara jawab budi pekerti bagi terciptanya situasi maupun lingkungan yang  nyaman  dan  memberi jaminan keselamatan buat praktikan adalah tujuan penting. Internal Laboratorium lagi terdapat limbah yang harus ditanggualangi, ini merupakan salah satu cara supaya dalam pengantar kecelakaan kerja dapat dikurangi.

Adapun langkah nyata nan dapat dilakukan bakal mengurangi limbah di laboratorium:

  1. Eksploitasi lagi limbah laboratorium berupa bahan kimia yang telah digunakan, setelah melalui prosedur daur ulang yang sesuai. Sebagai teladan: (situasi ini paling sesuai untuk pelarut yang telah digunakan) Pelarut organik seperti etanol, aseton, kloroform dan dietil eter dikumpulkan di privat laboratorium secara terpisah dan dilakukan di
  2. Sebelum melakukan reaksi kimia, dilakukan perkiraan mol reaktan-reaktan yang bereaksi secara tepat sehingga tidak menimbulkan sisa konkret sempuras objek kimia. Selain menghemat sasaran yang ada, hal ini juga akan mengurangi limbah nan dihasilkan.
  3. Pembuangan langsung berusul laboratorium. Metode pembuangan sedarun ini dapat diterapkan bakal bahan-bulan-bulanan ilmu pisah yang dapat sagu belanda dalam air. Bahan-bahan kimia nan dapat larut n domestik air dibuang langsung melampaui andai pembuangan limbah laboratorium. Kerjakan mangsa ilmu pisah sisa nan mengandung bersut atau basa harus dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia tahi yang mengandung logam-metal berat dan beracun sama dengan Pb, Hg, Cd dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih habis. Kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang.
  4. Dengan pembakaran terbabang. Metoda pembakaran melangah boleh diterapkan untuk bahan-mangsa organik yang kadar racunnya rendah dan tidak plus berbahaya. Bahan-bulan-bulanan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman pemukim.
  5. Pembakaran kerumahtanggaan Metoda pembakaran dalam insenerator bisa diterapkan kerjakan bahan-target toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-fusi yang bersifat toksik.
  6. Dikubur didalam tanah dengan perawatan tertentu agar tidak merembes ke awak air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang peka dan beracun.

(Salim, 2022).

Pintu III

METODOLOGI

Metodologi yang dilakukan puas kasus kesialan kerja di laboratorium Teknik Lingkungan UNDIP dan kerugian kerja
di laboratoium Teknik Sepeda Biang keladi SMKN 2 Daerah tingkat Palembang
ini adalah metodologi studi literatur dengan proses membandingkan referensi atau koran-jurnal serta membuat solusi atau cara  yang dilakukan supaya dapat mengantisipasi dari kecelakaan kerja dilaboratorium tersebut yang akan dibahas pada bab lebih jauh. Adapun tahapan secara umum diagram alir proses yang dilakukan dapat dilihat pada Susuk 3.1 berikut:

4

Gambar 3.1
Skema Tabulasi Alir Kegiatan

Berdasarkan metodologi pendalaman literatur nan dilakukan, maka buletin-jurnal nan diperoleh kemudian dikumpulkan kerjakan makalah ini adalah misal berikut:

  1. Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Risiko (Risk Assessment) Di Laboratorium Studi Kasus Di Laboratorium Mileu Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Undip. Semarang (Amanah, 2010
    ).
  2. Penilaian Risiko Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Unit Makmal Teknik Sepeda Pentolan SMKN 2 Kota Palembang. UGM. Yogyakarta.

    (Andarini, 2022).
  3. Standar Makmal Kajian Kesegaran Pendidik Tenaga Kesehatan. Kementerian Kebugaran RI Badan PPSDM Kesehatan Pusat Pendidik Tenaga Kerja. Jakarta

    (Anonim
    ,

    2010)
    .
  4. Kajian Potensi Bahaya dengan Metode Job Safety Analysis (JSA) Sebagai Upaya Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Di Laboraorium X. Fakultas Teknik Perkumpulan Mulawarman. Samarinda. Vol

    4 No.1 Tekinfo (Fathimahhayati, 2022).
  5. Faktor nan Bersambung dengan Perilaku Penggunaan APD Puas Petugas Laboratorium Flat Guncangan PHC Surabaya. FKM Universitas Airlangga. Surabaya. Vol 1 No.1 Hal 107-119

    (Harlan, 2022).
  6. Analisis Keselamatan  Dan Kesegaran  Kerja (K3) Puas Pembelajaran Di Laboratorium. Program Studi Teknik Mesi
    t Politeknik Negeri Batam. Riau (Hati,

    2015
    )
    .
  7. Tingkat Pengetahuan Keselamatan Kerja dan Keterampilan Kerja di Makmal Kimia Pelajar Jaga Kelas XI IPA Semester 1 SMAN Di Kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.

    UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta (Hidayati, 2010).
  8. Kajian Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) kerumahtanggaan Proses Belajar Mengajar Bengkel dan Laboratorium Politeknik Wilayah Sriwijaya. Staf Penatar Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Sriwijaya. Palembang. Vol.

    10 No. 1 Pilar. ISSN: 1907-6975 (Indrayani, 2022).
  9. Penerapan Cekram Kegeruhan Kerja di Firma PT. Narmada Langgeng Muda Di Tinjau dari Undang-Undang Nomor 3 Musim 1992 Tentang Jamsostek. Fakultas Huk
    um Universitas Mataram. Mataram (Kharismawan, 2022).
  10. Penyelenggaraan Resiko Keselamatan dan Kebugaran Kerja Di Laboratorium RSUD DR. Mohammad Soleh Daerah tingkat Probolinggo.

    FKM Universitas Jember. Jember (Rahman,

    2013
    )
    .
  11. Pegaruh Pengetahuan K3 dan Sikap Terhadap Pemahaman Berperilaku K3 Di Laboratorium CNC dan PLC SMK Negeri 3 Yogyakarta.

    Fakultas Teknik UNY. Yogyakarta (Ramadan,

    2014
    )
    .
  12. Amatan Sif Kerja, Masa Kerja dan Budaya Keselamatan dan Kebugaran Kerja dengan Kemujaraban Paru Pegiat Galian Rayuan Bara. Universitas Makanan Mangkurat. Banjarbaru. Buku harian Kesehatan Masyarakat Nasional. Vol. 10, No. 1: 24-28. (Sholihah, 2022).
  13. Pajanan Debu Batubara dan Gangguna Pernafasan Pada Praktisi Alun-alun Lombong Batubara. Program Penajaman Kebugaran Publik, Fakultas Kedokteran. Universitas Peranakan Mangkurat. Banjarbaru. Jurnal Kesehatan Mileu. Vol. 4, No. 2: 1-8. (Sholihah, 2008).
  14. Penerapan Sistem Tata Kesehatan dan Keselamatan Kerja Di Apartemen Sakit Bersalin Pertiwi Makassar. Fakultas MIPA. Universitas Tadulako. Makassar. Vol. 5 No. 1 Biocel
    ebes Kejadian 31-42. ISSN: 1978-6417 (Salikkuna,

    2011
    )
    .
  15. Program Kerja Laboratorium IPA SMA Muhammadiyah 4 Bengkulu. Majelis Pendidik Radiks dan Menengah SMA Muhammadiyah 4.

    Bengkulu (Salim,

    2012
    )
    .
  16. Keselamatan dan Kesegaran Kerja Di Laboratorium Sains.

    Fakultas
    Mipa UNY. Yogyakarta (
    Subiantoro
    ,

    2011
    )
    .
  17. Hubungan Antara Faktor Pembentukan Budaya Keselamatan Kerja dengan Safety Behavior di PT DOK dan Perkapalan Surabaya Unit Hull Construction
    . Univ
    iversitas


    Surabaya (Suyono,

    2013
    )
    .
  18. Penerapan SMK3 dan Upaya Pencegahan Kecelakaan di PT. Indofood CBP Sukses Berlambak Divisi Noodle Simpang Semarang
    . UNS. Surakarta (Syartini,

    2010
    )
    .
  19. Analisis Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) Di RSIA Hadiah Ibu Manado. Fakultas Kesehatan Masyarakat Univ. Sam Ratulangi. Mana

    Vol 5 No. 1. ISSN 2302-2493 (Toding,

    2016
    )
    .
  20. Jalinan Antara Kecapekan Kerja dengan Stres Kerja Plong Suster Di Flat Nyeri Selam Yarsis Surakarta. Universitas Seb
    elas Maret Surakarta. Surakarta (Widyasari,

    2010
    )
    .
  21. Otoritas Pengetahuan, Sikap dan Ketersedian Alat Pelindung Diri Terhadap Perilaku Keselamatan dan Kebugaran Kerja Petugas Makmal. Jamiah Seb
    elas Maret Surakarta. Surakarta (Wijayanti,

    2014
    )
    .
  22. Cara Kerja Dilaboratorium. Sekolah Pangkat Keguruan dan Mantra Pendidi
    kan (STKIP) Arrahmaniyah. Depok (Winarni,

    2014
    )
    .
  23. Ikatan Perilaku dan Penerapan Pengelolaan Keselamatan Kesegaran Kerja dengan Terjadinya Kecelakaan Kerja Di Laboratorium Patologi Klinik RSD dr. Soebandi Jember.

    FKM Universitas Jember. Jember (Wulandari,

    2011
    ).
  24. Komitmen Garis haluan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Sebagai Upaya Perlindungan Terhadap Tenaga Kerja. Fakultas Hobatan Sosial dan Ilmu ketatanegaraan. Universitas 17 Agustus 1945. Surab

    Vol. 11 No. 2 Situasi 264- 275 (Zulyanti,

    2013
    )
    .

Melalui sejumlah kumpulan harian diatas maka esok digunakan sebagai literatur internal makalah pengantar kecelakaan kerja ini sehingga diperoleh cara dalam mengantisipasi ketakberuntungan kerja tersebut. Mengenai buat menganalisis potensi bahaya setiap pekerjaan bisa dilakukan dengan plural metode. Riuk satunya dengan menggunakan metode JSA
(Job Safety Analysis) (Fathimahhayati, 2022). Hasil JSA boleh  digunakan  sebagai  bahan  rekomendasi  dalam rangka pengendalian  potensi  bahaya  nan  ada  sehingga  kesehatan  dan  keselamatan kerja pada kegiatan di Makmal khususnya kegiatan dapat tercapai dengan baik. JSA yaitu salah suatu komponen berusul komitmen pada sistem manajemen kesehatan da keselamatan kerja, serta pelecok satu cara terbaik untuk menentukan dan membuat prosedur kerja yang tepat.

Adapun langkah-langkah  dalam berbuat JSA adalah berikut :

  1. Mendeskripsikan anju awalan kerja mekanik.
  2. Mengidentifikasikan potensi  bahaya  yang  ada didalam  persiapan-anju kerja insinyur tersebut.
  3. Melakukan pengendalian  potensi  bahaya  dengan  memasrahkan  solusi-solusi pengerjaan puas pegangan teknisi JSA ialah  suatu  proses  terbelakang  yang  saling  gandeng  dengan mengikutsertakan empat langkah dasar dibawah ini dalam berbagai penerapan :
  4. Mengklasifikasikan kecelakaan  kerja  bersendikan  tempat  terjadinya  kecelakaan kerja (Job selection).
  5. Memisahkan kecelakaan ke dalam tahap-tahap pekerjaan (Job breakdown).
  6. Mengenali bahaya (Hazard identification).

Gapura IV

PEMBAHASAN

Berdasarkan metodologi pendalaman literatur yang dilakukan pada gapura 3, maka jurnal-buku harian nan dikumpulakan kemudian dibahas sub judulnya untuk makalah ini ialah sebagai berikut:

  1. Harian ke-1 membahas tentang identifikasi bahaya dan penilaian risiko (risk assessment) di laboratorium.
  2. Koran ke-2 menggunjingkan tentang
    penilaian risiko keselamatan dan kesegaran kerja pada unit Laboratorium Teknik Vespa SMKN2 kota Palembang.
  3. Koran ke-3 membahas adapun
    barometer Makmal Analisis Kesehatan Pendidik Tenaga Kesehatan.
  4. Buku harian ke-4 ceratai tentang
    analisis potensi bahaya dengan metode Job Safety Analysis (JSA) sebagai upaya penerapan kesehatan dan keselamatan kerja di Laboraorium X.
  5. Jurnal ke-5 membahas tentang
    faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan APD plong petugas Laboratorium Kondominium Sakit PHC Surabaya.
  6. Harian ke-6 membahas akan halnya
    amatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada pembelajaran di laboratorium.
  7. Jurnal ke-7 membicarakan akan halnya
    tingkat keterangan keselamatan kerja dan kegesitan kerja di Laboratorium Kimia.
  8. Jurnal ke-8 membicarakan akan halnya
    kajian penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) privat proses belajar mengajar bengkel dan Laboratorium Politeknik Kawasan Sriwijaya.
  9. Jurnal ke-9 membahas tentang
    penerapan persekot kecelakaan kerja di Firma PT. Narmada Awet Muda di tinjau bermula Undang-Undang Nomor 3 Perian 1992 Tentang Jamsostek.
  10. Jurnal ke-10 membahas tentang
    pengelolaan resiko K3 Di Makmal RSUD DR. Mohammad Soleh Kota Probolinggo.
  11. Harian ke-11 menggunjingkan akan halnya
    pegaruh amanat K3 dan sikap terhadap kesadaran berwatak K3 Di Makmal CNC dan PLC SMK Negeri 3 Yogyakarta.
  12. Harian ke-12 meributkan akan halnya analisis sif kerja, masa kerja dan budaya keselamatan dan kesegaran kerja dengan fungsi paru pekerja tambang gangguan bara.
  13. Jurnal ke-13 membahas tentang
    penerapan sistem manajemen K3 di Rumah Remai Berputra Pertiwi Makassar.
  14. Surat kabar ke-14 menggosipkan akan halnya
    acara kerja Laboratorium IPA SMA Muhammadiyah 4 Bengkulu.
  15. Jurnal ke-15 menggunjingkan adapun
    K3 di Makmal Sains.
  16. Jurnal ke-16 menggosipkan tentang
    hubungan antara faktor pembentukan budaya keselamatan kerja dengan safety behavior.
  17. Surat kabar ke-17 menggunjingkan mengenai
    Penerapan SMK3 dan upaya pencegahan kecelakaan.
  18. Koran ke-18 menggunjingkan mengenai
    analisis penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) di RSIA Anugerah Ibu Manado.
  19. Jurnal ke-19 menggosipkan tentang
    jalinan antara kelelahan kerja dengan stres kerja plong dukun bayi di Kondominium Sakit Islam Yarsis Surakarta.
  20. Jurnal ke-20 membahas tentang
    pengaturan publikasi, sikap dan ketersedian alat pelindung diri terhadap perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja petugas makmal.
  21. Kronik ke-21 menggunjingkan tentang
    mandu kerja dilaboratorium Perhimpunan Keguruan dan Ilmu Pendidi
    kan (STKIP) Arrahmaniyah
    .
  22. Jurnal ke-22 menggosipkan adapun
    hubungan perilaku dan penerapan pengelolaan K3 dengan terjadinya kesialan kerja di Makmal Patologi Klinik RSD dr. Soebandi Jember.
  23. Jurnal ke-23 membicarakan tentang
    komitmen kebijakan K3 sebagai upaya perawatan terhadap tenaga kerja.

Akan halnya dari kompilasi jurnal diatas maka yang paling dominan adalah manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam kecelakaan kerja dan metode nan dilakukan untuk mengantisipasi bahaya kesialan kerja dilaboratorium. Dimana nantinya dengan dibahasnya dari koleksi buletin tersebut diperoleh satu pendirian dan upaya untuk mengurangi dan dapat mengantisipasi kegeruhan kerja dilaboratorium. Sehingga dapat mengurangi kemalangan kerja nan terjadi dilaboratorium.

Salah suatu upaya yang dapat dilakukan lakukan mengendalikan risiko adalah dengan cara mengidentifikasi potensi bahaya yang ada dengan menunggangi metode Job Safety Analysis (JSA). JSA adalah teknik yang berfokus pada tugas tiang penghidupan sebagai cara buat mengidentifikasi bahaya sebelum terjadi. Hal ini berfokus pada kontak antara pegiat, tugas, alat dan lingkungan kerja. Metode JSA dapat dilakukan puas pekerja baru atau lama dengan risiko sedang  sampai tinggi, sehingga dapat dicapai kesegaran dan keselamatan kerja (Fathimahhayati, 2022).

Pada identifikasi potensi bahaya, teridentifikasi 41
hazard
ialah
kebakaran, tersengat arus listrik, fatigue, menyanggang beban rumpil, human error, minyak pelumas bekas, tangan masuk kemesin gurinda dan lain-lain. Hasil penilaian
(Andarini, 2022) risiko K3 menunjukkan bahwa risiko terbanyak pada kategori

acceptable risk
dan risiko teratas lega kategori
significant.
Cara mengantisipasi permasalahan lega kasus kesialan
di laboratoium Teknik Sepeda Biang kerok SMKN 2 Kota Palembang pada tindakan pengendalian bahaya risiko tertinggi dalam kategori significant risk diantaranya dengan metode JSA dengan melakukan kegiatan penapisan rutin, mengingatkan siswa sebelum memasuki laboratorium dan sebelum kerja praktik harus dengan safety bedak rutin dan meluangkan perlengkapan pelindung diri yang sepan cak bagi para murid maupun mahasiswa yang ingin memasuki makmal. Dimana dengan metode JSA ini kita dapat  memilah kecelakaan kerja berdasarkan tempat terjadinya ketakberuntungan kerja yaitu dilaboratorium Teknik Sepeda Penggerak SMKN 2 Kota Palembang
serta kita mengidentifikasi bahaya yang akan terjadi.

Berdasarkan penelitian (Amanah, 2010) kecelakaan kerja yang terjadi di
kerja di laboratorium Teknik Mileu UNDIP disebabkan karena tidak tersedianya prosedur K3, tidak tersedianya
Material Safety Data Sheet
(MSDS), tak tersedianya Peranti Penaung Diri (APD), bukan tersedianya kelengkapan  P3K yang memadai dan
e
yewash
serta tak tersedianya alat pemadam kebakaran.

Selanjutnya untuk pengendalian ketakberuntungan kerja di laboratorium Teknik Lingkungan UNDIP dengan metode JSA dapat dilakukan bagaikan berikut:

  1. Membuat Prosedur K3

Berdasarkan hasil penelitian (Amanah, 2010)
diketahu bahwa 65% responden memiliki tingkat pengetahuan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang baik. Keadaan ini disebabkan antara lain karena sreg semester 6 mereka sudah dibekali dengan materi keselamatan dan kebugaran kerja. Tingkat pengetahuan responden tentang keselamatan dan kesegaran kerja secara umum sudah baik, namun jika dikaji lagi mengenai keselamatan dan kesehatan kerja khususnya di makmal tingkat pengetahuan mereka masih kurang, peristiwa ini disebabkan karena materi perkuliahan yang diberikan semata-mata mengenai keselamatan dan kesehatan kerja secara umum tetapi lain memfokus ke dalam keselamatan dan kesehatan kerja di makmal.

Menurut (Ramadan, 2022) prosedur K3 adalah pendirian bikin mengamalkan tiang penghidupan start awal hingga akhir nan didahului dengan penilaian risiko terhadap pekerjaan tersebut yang mencengam keselamatan dan kebugaran terhadap pegiat dilaboratorium. Mengawasi besarnya kurnia mulai sejak adanya prosedur K3 ada baiknya pihak laboratorium membuat prosedur K3, karena sejauh ini pada kenyataannya laboratorium teknik UNDIP belum mempunyai prosedur K3. Hal ini dibuktikan bahwa sepanjang ini pengguna makmal hanya mendapatkan prosedur kerja enggak prosedur keselamatan dan kesegaran kerja hal ini dibuktikan  sebesar 76% responden menyatakan mendapatkan prosedur cara kerja dan 24% responden menyatakan berbahagia prosedur cara pengusahaan alat dan 0% yang menayatakan perpautan beruntung prosedur keselamatan dan kesehatan kerja.

  1. Menyenggangkan
    Material Safety Data Sheet
    (MSDS)

Sebelum utas data keselamatan mangsa diterapkan, ada baiknya bakal pengguna makmal mengerti kepentingan dan fungsi mulai sejak
Material Safety Data Sheet
(MSDS). Makao data keselamatan target atau MSDS merupakan pemberitahuan lengkap tentang keselamatan bahan nan lebih detail. Beralaskan hasil kuisioner, 53% responden menyatakan telah memaklumi arti dan kemujaraban berpangkal MSDS dan 47% menyatakan tidak mengerti kekuatan dan fungsi MSDS. Ketidaktahuan responden terhadap kebaikan dan arti dari MSDS boleh disebabkan karena sebelumnya belum cak semau pengenalan atau sosialisasi pecah pihak laboratorium ataupun kampus n domestik memperkenalkan MSDS kepada mahasiswanya baik ketika praktikum di laboratorium ataupun saat perkuliahan. MSDS amat berjasa bagi pemakai laboratorium, berusul MSDS ini dapat diketahui sifat bahaya bahan dan mandu penanganan termasuk mandu penyimpanan bahan kimia (Amanah, 2010).

  1. Harus Tersedianya Perkakas Pelindung Diri (APD)

Puas dasarnya setiap pengguna laboratorium sudah sadar benar kemustajaban pentingnya APD sebagai penaung diri momen bekerja dilaboratorium. situasi ini dibuktikan dengan hasil kuisioner, 85% responden menyetakan mengerti arti dan fungsi dari perabot pelindung, 4% bukan adv pernah dan 11% menyatakan ragu-ragu. Selain itu pengguna laboratorium juga merasakan secara bersama-sama kekuatan yang besar bermula penggunaaan APD nan bertujuan buat mencagar diri mereka dari potensi bahaya kegeruhan dan problem akibat kerja. peristiwa ini dibuktikan 96% pengguna (mahasiswa) menyatkan APD dahulu berguna dan 4% menyatakan APD lain berpengaruh terhadap aktivitas mereka (Amanah, 2010).

APD berfungsi misal alat pelindung diri bagi pengguna laboratorium, APD telah didesain sedemikian rupa dengan memperhatikan aspek-aspek keselamatan kesehatan kerja bagi penggunanya. Untuk membuktikan peristiwa tersebut dilakukan observasi lapang dengan  menggunakan kuisioner sebagai alat bantu penumpukan data. Terbit data yang diperoleh 100% pemakai (mahasiswa) laboratorium menyatakan belum perikatan mengalami ketakberuntungan akibat penggunaan APD.

  1. Harus Tersedianya Kelengkapan P3K nan Sepan dan
    Eyewash.

Pertolongan pertama saat terjadinya kecelakaan habis diperlukan untuk membantu mempermudah proses penangan mangsa atau terapi lebih jauh. Untuk itu laboratorium perlu menyediakan kotak P3K yang layak dan
eyewas.
Mengingat bila terjadi kerugian di laboratorium demap diandalkan ketersedian akan penawar-obatan dan peralatan pertolongan mula-mula yang dibutuhkan saat terjanya suatu kegeruhan.

Penanganan kecelakaan yang telah disediakan oleh pihak laboratorium UNDIP hijau sebatas terapi dengan kotak P3K saja hal ini dibuktikan berusul pernyataan responden sebesar 100% menyatakan bentuk pertolongan pertama yang diberikan adalah  bentuk P3K saja. Saja jika dilihat bersumber potensi bahaya yang dapat keluih seperti percikkan bahan kimia, tak ada salahnya jika makmal menyisihkan
eyewash
sebagai perangkat bantu pertolongan pertama  kerjakan pengguna laboratorium yang matanya terkena percikkan bahan kimia, karena bilang ordinansi mensyariatkan pada cara penangan bahan kimia, apabila bahan kimia tersebut terkena mata ataupun tertumpah di bodi harus segera dibersihkan dengan air.
Eyewash
adalah perangkat uluran tangan pertama yang baik digunakan cak bagi menangani masalah tersebut sebelum dilakukan tindakan kian lanjur oleh fragmen kedokteran (Amanah, 2010).

  1. Harus Tersedianya Perlengkapan Pemadam Kebakaran.

Kebakaran harus segera dipadamkan bila kemungkinan berpunca aspek keselamatan, hanya sekiranya api telah membahayakan maka gunakan perabot pemadam jago merah ringan (APAR). Pemadam api berupa tabun CO2
alias bubuk ilmu pisah kering bisa digunakan untuk tipe kebakaran A, B, C dan D. Pemadaman api dilakukan dengan merenjiskan APAR pada dasar jago merah dan mengetahui arah angin agar tidak terkena asap CO2
atau debu kimia. Meskipun pada kenyataannya APAR sangatlah dibutuhkan dalam laboratorium lakukan pencegahan terjadinya kebakaran, laboratorium teknik lingkungan UNDIP belum menyempatkan APAR perumpamaan sarana pemadam kebakaran. Kejadian ini dibuktikan beralaskan hasil kuisiner 100%  responden menyatakan bukan sangkut-paut melihat keberadaan organ pemadam kebakaran di laboratorium (Amanah, 2010).

BAB V

PENUTUP

5.1  Inferensi

Dari hasil makalah yang sudah lalu di untuk ini, dapat  simpulkan bahwa:

  1. Keselamatan kerja adalah keselamatan nan berkaitan dengan pemakaian gawai alat laboratorium, sasaran dan proses praktikum. Tujuanya adalah moga kita dapat terhindar dari kecelakaan dan lain terjadi gangguan kesehatan lega pekerja dan mileu disekitarnya, serta mencagar diri dengan APD.
  2. Sumber terjadinya kecelakaan dilaboratorium diantanya kurangnya siaran dan kesadaran adapun bahan-mangsa kimia, kurangnya ataupun tidak tersedianya perlengkapan keamanan dan gawai proteksi kegiatan laboratorium dan lain-lain.
  3. Komplet kasus yang terjadi akibat kecelakaan kerja dilaboratoium yakni di Laboratorium Teknik Mileu UNDIP karena tidak tersedianya prosedur K3, tidak tersedianya MSDS, APD, kelangkapan P3K dan alat pemadam jago merah. Sementara itu pada kasus
    dilaboratoium Teknik Sepeda motor SMKN 2 Ii kabupaten Palembang kecelakan kerja disebabkan katagori acceptable risk ialah kebakaran, tersengat arus elektrik, fatigue, mengangkat pikulan rumpil, human error, minyak pelumas tamatan, tangan masuk kemesin gerinda dan tak-tidak.
  4. Pengendalian kemalangan kerja dilaboratorium diantaranya sebelum mulai bekerja kenalilah dulu peluang bahaya yang akan terjadi dan ambil tindakan untuk mengurangi bahaya tersebut, menggunakan perlengkapan keamanan, setiap orang harus mengetahui letak kotak P3K dan lain-lain.

5.2  Saran

Disarankan kepada praktikan, dosen dan peneliti sebaiknya boleh mematuhi prosedur keselamatan kerja di laboratorium dan harus mempelajari pengantar kecelakaan kerja supaya bisa meminimalisir dan dapat menangani apabila terjadi kemalangan di laboratorium.

Rangkuman

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya bikin menciptakan panggung kerja nan aman, cegak, adil berpangkal pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan maupun adil dari kecelakaan kerja dan masalah akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya guna dan produktivitas kerja. Dengan pengantar keselamatan kerja dilaboratorium maka boleh meminimalisir dan dapat dihindari kemalangan nan akan terjadi didalam makmal. Sehingga dengan K3 ini maka suasana laboratorium dapat menjadi lebih aman. Apabila terjadi kecelakaan kerja didalam laboratorium maka kita sudah lalu bisa menangani dan mengantipasi kecelakaan tersebut. Karena ketakberuntungan kerja dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor diantaranya stres, kecapekan, kepayahan dan lain-enggak yang sonder sengaja dapat menimbulkan kecelakaan kerja.

Terjadinya kecelakaan kerja disebabkan karena dua golongan. Golongan purwa adalah faktor mekanis dan mileu (unsafe condition), sedangkan golongan kedua adalah faktor manusia (unsafe action). Sementara itu bahaya pekerjaan (akibat kerja), seperti mana halnya masalah kesehatan lingkungan lain, bersifat akut alias kronis (sementara maupun kontinu) dan efeknya barangkali taajul terjadi atau teristiadat waktu lama. Efek terhadap kesehatan boleh secara serta merta maupun bukan langsung. Kebugaran masyarakat kerja perlu diperhatikan, maka dari itu karena selain dapat menimbulkan gangguan tingkat produktifitas, kesegaran umum kerja tersebut boleh timbul akibat pekerjaanya. Sasaran kesehatan kerja khususnya yakni para pekerja dan peralatan kerja di mileu laboratorium.

DAFTAR Wacana

Amanah Ila, dkk. 2010.
Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Risiko
(Risk Assessment)
Di Makmal Studi Kasus Di Laboratorium Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Undip. Semarang.

Andarini Desheila. 2022. Penilaian Risiko Keselamatan Dan Kesegaran Kerja Pada Unit Laboratorium Teknik Sepeda Motor SMKN 2 Kota Palembang. UGM. Yogyakarta.

Anonim. 2010. Kriteria Makmal Analisis Kesehatan Pendidik Tenaga Kesehatan. Kementerian Kesegaran RI Fisik PPSDM Kebugaran Pusat Pendidik Sida-sida. Jakarta.

Fathimahhayati Lina, dkk. 2022. Kajian Potensi Bahaya dengan Metode Job Safety Analysis (JSA) Bagaikan Upaya Penerapan Kesegaran dan Keselamatan Kerja Di Laboraorium X. Fakultas Teknik Jamiah Mulawarman. Samarinda. Vol 4 No.1 Tekinfo.

Harlan Arta, dkk. 2022. Faktor nan Berbimbing dengan Perilaku Penggunaan APD Puas Petugas Laboratorium Kondominium Guncangan PHC Surabaya. FKM  Institut Airlangga. Surabaya. Vol 1 No.1 Hal 107-119.

Hati Shinta, W. 2022. Analisis  Keselamatan  Dan Kesehatan  Kerja (K3) Lega Pembelajaran Di Makmal. Acara Studi Teknik Mesin Politeknik Negeri Batam. Riau.

Hidayati Tanzil. 2010. Tingkat Pengetahuan Keselamatan Kerja dan Keterampilan Kerja di Makmal Ilmu pisah Pesuluh Tuntun Inferior XI IPA Semester 1 SMAN Di Kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta.

Indrayani, dkk. 2022. Analisis Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam Proses Membiasakan Mengajar Bengkel dan Laboratorium Politeknik Negeri Sriwijaya. Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Politeknik Wilayah Sriwijaya. Palembang. Vol. 10 No. 1 Pilar. ISSN: 1907-6975.

Kharismawan I Gusti, 2022. Penerapan Jaminan Kesialan Kerja di Firma PT.  Narmada Awet Muda Di Tinjau bermula Undang-Undang Nomor 3 Musim 1992 Tentang Jamsostek. Fakultas Hukum Universitas Mataram. Mataram.

Rahman Jayus. 2022. Manajemen Resiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Laboratorium RSUD DR. Mohammad Soleh Kota Probolinggo. FKM Universitas Jember. Jember.

Ramadan Prilia. 2022. Pegaruh Embaran K3 dan Sikap Terhadap Kesadaran Berperilaku K3 Di Laboratorium CNC dan PLC SMK Negeri 3 Yogyakarta. Fakultas Teknik UNY. Yogyakarta.

Sholihah Qomariyatus, dkk. 2022. Analisis Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya Keselamatan dan Kesegaran Kerja dengan Kemujaraban Paru Pekerja Tambang Batu Bara. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru. Jurnal Kesehatan Masyarakat Kebangsaan. Vol. 10, No. 1: 24-28.

Salikkuna Nur, dkk. 2022. Penerapan Sistem Tata Kesehatan dan  Keselamatan Kerja Di Rumah Guncangan Bersalin Pertiwi Makassar. Fakultas MIPA. Sekolah tinggi Tadulako. Makassar. Vol. 5 No. 1 Biocelebes Keadaan 31-42. ISSN: 1978-6417.

Salim Abdul. 2022. Program Kerja Laboratorium IPA SMA Muhammadiyah 4 Bengkulu. Majelis Pendidik Dasar dan Menengah SMA Muhammadiyah 4. Bengkulu.

Subiantoro Agung. 2022. Keselamatan dan Kesegaran Kerja Di Laboratorium Sains.  Fakultas Mipa UNY. Yogyakarta.

Suyono Karina., dkk. 2022. Jalinan Antara Faktor Pembentukan Budaya Keselamatan Kerja dengan Safety Behavior di PT Landasan dan Perkapalan Surabaya Unit Hull Construction. Univ Airlangga. Surabaya.

Syartini, Titi. 2010. Penerapan SMK3 dan Upaya Pencegahan Ketakberuntungan di PT. Indofood CBP Sukses Makmur Divisi Noodle Cabang Semarang. UNS. Surakarta.

Toding Ryane, dkk. 2022. Analisis Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) Di RSIA Kasih Ibu Manado. Fakultas Kesehatan Mahajana Univ. Sam Ratulangi. Manado. Vol 5 No. 1. ISSN 2302-2493.

Widyasari Jhohana. 2010. Ikatan Antara Kelelahan Kerja dengan Stres Kerja Pada Perawat Di Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta. Perhimpunan Sebelas Maret Surakarta. Surakarta.

Wijayanti Nur. 2022. Pengaruh Pengetahuan, Sikap dan Ketersedian Perangkat Pelindung Diri Terhadap Perilaku Keselamatan dan Kesegaran Kerja Petugas Laboratorium. Perkumpulan Sebelas Maret Surakarta. Surakarta.

Winarni Airo, dkk. 2022. Cara Kerja Dilaboratorium. Perkumpulan Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Arrahmaniyah. Depok.

Wulandari Nindi. 2022. Perkariban Perilaku dan Penerapan Penyelenggaraan Keselamatan Kesehatan Kerja dengan Terjadinya Kegeruhan Kerja Di Makmal Patologi Klinik RSD dr. Soebandi Jember. FKM Universitas Jember. Jember.

Zulyanti Noer. 2022. Komitmen Kebijakan Keselamatan dan Kesegaran Kerja (K3) Laksana Upaya Perlindungan Terhadap Personel. Fakultas Ilmu Sosial dan Aji-aji Strategi. Universitas 17 Agustus 1945. Surabaya. Vol. 11 No. 2 Hal 264- 275.

Source: https://himatekkim.ulm.ac.id/id/kesehatan-dan-keselamatan-kerja-pengantar-kecelakaan-kerja-di-laboratorium/