Denotasi Sapi


Sapi adalah fauna ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja, dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% kebutuhan daging di marcapada, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit Sapi berasal terbit famili Bovidae, sebagaimana halnya bison, seladang, kerbau (Bubalus), mahesa Afrika (Syncherus), dan Anoa (Sugeng, 2003). Menurut Sugeng (2003), domestikasi sapi start dilakukan sekitar 400 tahun SM.


Sapi diperkirakan terbit dari Asia Perdua, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan ke seluruh wilayah Asia. Menjelang penutup abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke Pulau Sumba dan sejak detik itu pulau tersebut dijadikan tempat penangkaran sapi Ongole safi. Sapi yakni salah satu genus berasal Bovidae.


Produktivitas sapi potong terlampau dipengaruhi oleh faktor genotipe dan mileu. Pertumbuhan momongan sebelum dan sehabis disapih mempunyai maslahat habis penting dalam usaha ternak sapi, karena kedua kejadian tersebut erat hubungannya dengan kemampuan untuk menghasilkan pertumbuhan yang efisien lega anak nan dilahirkan ditentukan sebagai berikut : P = G + E, dimana P= Performans ; G = genetic ; dan E = mileu.


Salah satu faktor mileu adalah iklim (Komarudin Ma’sum dkk, 1991). Iklim menutupi temperatur, kelembaban, curah hujan, waktu (musim hujan dan kemarau) dapat berpengaruh terhadap produktivitas. Darmadja (1980) menyatakan di kerumahtanggaan bidang peternakan kapasitas ternak adalah potensi yang dapat dimanifestasikan intern rangka meningkatkan nilai manfaatnya dan tercakup internal dua aspek yakni aspek reproduksi dan aspek produksi. Adapun produktivitas berkaitan dengan karakter yang dimiliki ternak. Dalam produksi piaraan yang berkepribadian komersial, pendugaan daya produksi digunakan sebagai pedoman.


Baca Juga Kata sandang Yang Mungkin Berhubungan : Satwa Herbivora


Ciri-Ciri Bodi

Dalam hal ini ciri-ciri jasad tertera corak dan penempatan alat pendengar, juga beraneka macam antara keturunan sapi. Mereka memiliki rukyah tepi yang baik cak bagi dapat mendeteksi predator yang mendekat dan mereka dapat mendengar celaan pada musik yang tinggi. Jangka cak bagi roh alami rata-rata sapi ialah 25 periode, tetapi banyak yang sepi pada semangat 3 sebagai bagian bersumber praktek pertanian modern.


Hewan sapai plong galibnya memakan jukut dan batang, ketika mereka makan mereka melengkungkan lidah mereka di selingkung pohon dan mengiris dengan gigi bawah mereka. Mereka merupakan ruminansia dan mempunyai rezeki dengan empat ruang cak bagi mencerna pokok kayu berjalur. Bakteri memecah korban pokok kayu kerumahtanggaan lambung mereka buat menciptakan biak, nan kembali memasuki kerongkongan sehingga sapi dapat menguyah lagi. Untuk total perian n domestik pencernaan pada sapi dapat sebanyak 100 jam.


Privat penggalian Universitas Northampton seputar tahun 2022 menunjukkan bahwa emosi sapi mungkin makin n domestik bermula nan diperkirakan sebelumya. Hewan sapi dapat mewujudkan kawin sosial dan rata-rata mati dan damai. Hanya, catatan penelitian mereka sekali lagi bisa menjadi pengganggu agresif. Induk sapi sayang dulu protektif terhadap anak asuh sapi mereka, dan banyak sapi yang kepingin sempat adapun situasi-hal yang baru tapi takut pada hari yang sama.


Baca Sekali lagi Artikel Yang Siapa Berhubungan :

Satwa Vivipar


Kekuatan Sapi bagi Kesehatan

Sapi merupakan hewan penggubah daging yang lalu dibutuhkan. Selain karena rasanya yang eco, sapi memiliki banyak manfaat bakal kesegaran manusia. Berikut ini beberapa bagian-fragmen terbit sapi yang bermanfaat bikin kesehatan turunan.


Keefektifan Jangat Sapi untuk Kebugaran

Kulit sapi nan terjamah cak bagi di jadikan kerupuk, mengandung zat yang bermanfaat bagi tubuh, diantaranya adalah :

  1. Protein, Berdasarkan penelitian, sebagai produk hewan sonder campuran, kandungan protein yang terdapat lega kerupuk kulit yaitu sebesar 82,91%.

  2. Lemak, Nafkah lemak kemplang alat peraba sapi yang mentah umumnya rendah yakni 3,84% sendirisendiri 100 g. Sehabis di goreng, kandungan lemak meningkat menjadi 20-30 bisa jadi bekuk terampai pada bahan yang di gunakan dan cara menggorengnya (ditiriskan atau tidak). Dengan demikian, kerupuk alat peraba yang mutakadim digoreng ialah sumber konsumsi patra nan menguntungkan buat individu nan membutuhkannya, hanya merugikan bagi cucu adam nan harus membatasi konsumsi petro.


  3. Mineral, Garis hidup mineral nan terkandung privat krecek hanya sebesar 0,04% . Mineral ini umumnya terdiri mulai sejak kalsium, fosfor, besi dan mineral lainnya yang bermula dari bahan asal kerupuk tersebut .


  4. Natrium glutamat maupun MSG maupun NaG bebas, yang terkandung pada rambak sebesar 0,8 g – 5,3 g per 100 g kerupuk kulit dengan rata-rata 3,05 g saban 100 g. Kelompok glutamat sebagai garam kalsium, potasium dan natrium merupakan kerumunan bahan tambahan makanan (BTM) yang berfungsi sebagai penguat rasa atau meningkatkan rasa enak.


Manfaat Daging Sapi kerjakan Kesehatan

  1. Mengandung aneka gizi terdepan cak bagi pertumbuhan jasmani dan dedengkot /kecerdasan anak asuh,sajikan menu masakan daging sapi 3 – 4 siapa seminggu.

  2. Cegah Anemia Gizi dengan Zat Besi. Anemia karena kekurangan zat besi yaitu komplikasi gizi yang umum terjadi didunia. Takdirnya menyerang momongan-anak, wanita subur, dan terutama wanita hamil, bisa menjadi masalah khusyuk. Namun anemia gizi bisa me pria dan wanita nan lebih lanjut usia. Anemia bisa menyebabkan tubuh lesu,langka pemusatan,terhambatnya pertumbuhan(katai), penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi, kehampaan kronologi mental, dan motorik privat jangka panjang, kecerdasan enggak berkembang maksimal. problem kehamilan, hingga kematian ibu saat bersalin.


  3. Daging sapi merupakan salah satu daging nan jamak digunakan dalam arwah anak adam kurnia menyempurnakan kebutuhan akan makanan. Keadaan ini dikarenakan daging sapi mengandung banyak sekali kandungan gizi yang bermanfaat buat manusia, yaitu antara lain:


Rezeki Vitamin dan Protein privat Sapi

Zat Besi

  • Daging merah (sapi) adalah sumber terkaya zat logam.
  • Zat besi puas daging bertambah mudah diserap tubuh ketimbang zat logam pada sayuran atau nafkah olahan, seperti sereal.
  • Zat besi penting untuk pengiriman oksigen, produksi energi, dan kronologi pentolan.

Seng dan Selenium

  • Daging merah juga menjadi sendang seng yang baik.
  • Kebutuhan seng 50 persen lebih pangkat untuk cucu adam nan tidak makan daging adakalanya.
  • Seng dan selenium penting bikin sistem imunitas, pertumbuhan, serta pengobatan luka.

Zat makanan Grup B

  • Daging merah mengandung vitamin grup B, tercatat riboflavin, niacin, pantothenic acid, vitamin B6, dan gizi B12.
  • Zat makanan B12 lain ditemukan privat kandungan semenjak tumbuh-tumbuhan.
  • Kekeringan vitamin B12 merugikan guna neurologi, termasuk pokok ingat dan sentralisasi.

Vitamin D

  • Pendalaman di Inggris menunjukkan bahwa daging merah mengandung nutrisi D.
  • Gizi D penting bikin kesehatan tulang.

Senderut Lemak Omega 3

  • Daging biram merupakan sumber alami omega 3.
  • Omega 3 terdepan bakal sistem saraf dan kesehatan jantung.
  • Daging merah relatif terbatas lemak jenuh dan lemak trans.

Protein

  • Daging merah mengandung protein yang tahapan.
  • Sebanyak 100 gram daging merah mentah mengandung sekitar 20-25 gram protein.
  • Fungsi protein adalah membangun pun hotel prodeo-sel yang rusak kerumahtanggaan bodi.
  • Zat putih telur pula mewujudkan zat-zat pengatur, seperti enzim dan hormon.

Di antara bilang jeroan lain nan sejauh ini dianggap mampu akan manfaat bagi kesehatan adalah Kebaikan Hati Sapi. Pada sebagian turunan, makan hati hewan ternak cukup dianjurkan, karena kandungan lever sapi memang mengandung zat besi yang tinggi. Zat logam adalah unsur penting dalam pembentukan sel darah merah, karena itu hati bagus dikonsumsi mereka nan memiliki kadar haemoglobin (Hb) rendah.


Rezeki hati sapi yang juga mengandung gizi A, nutrisi B12, cemberut folat, vitamin C, fosfor, seng, dan zat metal, bagus dikonsumsi mereka nan dalam masa penyembuhan dari sakit, dan ibu hamil. Lever juga dipercaya mengandung zat kolin yang berperan penting untuk perkembangan fungsi otak. Karenanya, bagus cak bagi dikonsumsi anak balita.


Hati sapi sangat kaya akan zat zat makanan, terutama kandungan retinol nan mencecah 13303 ug/100 g. Nutrisi bukan yang tak kalah pentingnya adalah protein 19.7 g, lemak 3.2 g, zat kapur 7 mg, fosfor 358 mg dan zat besi 6.6 mg. Jika Anda mau sedikit bekerja, dengan pengolahan yang primitif, daging sapi boleh diolah menjadi hidangan yang eco dan sehat


Mengonsumsi hati juga wajib jimat-jimat, karena peranti hati adalah alat penapis venom privat sistem pencernaan tubuh, karenanya rentan tercemar zat kimia, pestisida, ataupun venom lainnya. Karena itulah, bila cak hendak mengonsumsi hati peliharaan, Kamu harus cermat memilih. Lever harus masih dalam keadaan afiat, tidak berwarna bubuk-abu, dan harus dicuci iteratif boleh jadi sampai kudrati, dan direbus hingga matang sebelum dikerjakan.


Baca Juga Artikel Nan Kali Gandeng :

Hewan Ovovivipar



Siklus Reproduksi


Reproduksi adalah suatu kemewahanfungsi badan yang secara fisiologik tidak vital bagi nasib individual, tetapi dahulu penting untuk kontinuitas keturunan satu jenis maupun bangsa hewan. Dalam peristiwa ini berarti ternak harus memperoleh pakan yang baik dan gizi yang cukup hendaknya fungsi ilmu faal reproduksinya dapat berkarya dengan baik dan optimal.


Plong umumnya reproduksi baru dapat berlangsungsetelah hewan mencecah pubertas atau dewasa kelamin. Prosesini diatur maka itu sistem syarafserta glandula-kelenjar endokrin dan hormon-hormon yang dihasilkannya. Reproduksi padahewan betina merupakan suatu proses yang kompleks, dan mudah asian gangguan pada berbagai stadium siklus reproduksi. Kehampaan reproduksi sapi boleh diakibatkan oleh interaksi berbagai faktor, seperti pakan, lingkungan, keterampilan manusia dan manajemen pemeliharaan, gangguan fungsional (hormonal) dan penyakit.


Siklus reproduksi adalah serangkaian kegiatan biologik kelamin nan berlantas secara periodik sampai terlahir generasi baru berpunca satu makhluk vitalitas. Takdirnya siklus reproduksi berpokok satu makhluk buntung maka kehadiran makhluk tersebut didunia menjadi terancam. Proses-proses biologik yang dimaksut menutupi proses reproduksi dalam raga makhluk dakar dan betina sejak makhluk tersebut lahir sampai bisa melahirkan lagi. Kemampuan reproduksi hewan dimulai saat dewasa kelamin atau pubertas. Ketersediaan alat reproduksi betina tak hanya mencengam kemampuan oosit tetapi kembali untuk kosepsi, inplantasi bakal anak. Plasentasi dan kebuntingan dan berakhir pada kelahiran . untuk itu siklus reproduksi mencakup pubertas, siklus birahi, ovigenesis, fertilisasi, kebuntingan dan kelahiran pada sato lebah ratulebah, serta spermatogenesis dan pemasakan sel jantan pada dabat jantan.


Siklus birahi didefinisikan ibarat masa antara dua periode birahi. Kebanyakan lama birahi puas majemuk ternak hapir setara, kira-kira 17 hari pada kambing kibas, 21 pada sapi dan wedus, 22 perian plong kuda dan 20 waktu pada babi. variasi pajang siklus terjadi diantara individu. Variasi panjang siklus birahi adalah pada sapi antara 17-24 perian, plong kuda antara 19-25 hari dan sreg kambing antara 15-35 masa. Spesies panjang siklus birahi pada dasarnya diharapkan normal, namun sekali-kali terjadi penyimpangan dan ialah gejala adannya satu kelainan.


Untuk memudahkan peladang dalam melakukan menejemen perkawinan pada ternak yang dipeliharanya, maka inventarisasi reproduksi ternak mutlak diperlukan. Hal–hal yang perlu dicatat ialah ibarat berikut:


  • Siklus birahi, kalau sapi perah emak yang dipelihara memiliki siklus birahi antara 18–24 perian, maka sapi perah indung tersebut memiliki sisitem reproduksi yang normal. TOELIHERE (1993) dan PENNINGTON (2007) menerangkan bahwa siklus berahi pada sapi yangnormal 18–24 tahun, dengan rataan 21 hari


  • Lama syahwat, menurut DRANSFIELD (1998) rata–rata 7 jam dengan kisaran 33 menit sampai 36 jam. Padahal menurut PENNINGTON (2007) lamaberahi antara 12 sampai18 jam.


  • Waktu mengawinkan, pentingnya catatan ini yaitu peternak bisa mengerti apakah ternaknya sudah lalu bunting alias belum, dengan melihat apakah sapi perah induk tidak mohon kawin pula (NR) dalam waktu 28–35 atau 60–90 hari setelah dikawinkanTOELIHERE (1993). Penetuan keberhasilan kebuntingan dengan menyibuk ada tidaknya berahi plong 90 hari setelah sapi induk dikawinkan dilakukan juga makanya WIJONO et al. (1997) dan SUGIARTI et al. (1998), kemudian dilakukan palpasi reektal.


  • Musim kelahiran, catatan ini terdepan, bakal mengetahui umur sapi perahanak nan dilahirkan secara tepat dan akurat, selain itu berguna untukmenentukan umur penyapihan dan waktu mengawinkan juga sapi perah emak pasca- beranak sebaiknya jarak berputra dapat diperpendek


Baca Juga Kata sandang Yang Mungkin Berbimbing :

Satwa Omnivor – Pengertian, Ciri, Adaptasi, Keuntungan, Kerugian, Contoh



Masa remaja
Hewan Sapi

Adolesens pada ternak didefinisikan perumpamaan suatu fase maupun keadaan dimana peliharaan menginjak mewah berfungsi bikin menghasilkan keturunan (anak). Pada ternak ternak definisi adolesens (dewasa kelamin) adalah jika ternak jantan sudah menghasilkan spermatozoa nan hidup dan fertil sreg sperma dan dapat mengawini lebah ratulebah, sedangkan pada ternak betina merupakan umur pada saat ekspresi birahi terpandang cak bagi purwa kalinya dan disertai ovulasi. Semua ternak menjejak dewasa kelamin sebelum tubuh dewasa mengaras paradigma. Jika ternak dikawinkan detik pubertas, maka tigkat kesulitan semakin tinggi.


Sebab kondisi badannya masih dalam proses pertumbuhan, dengan demikian tubuhnya harus menyediakan ki gua garba cak bagi pertumbuhan induknya dan anaknya. Faktor sosial sangat mempengaruhi saat tercapainya pubertas. Adanya pejantan disekitar anak-ijil betina, mempersering tercapainya pubertas : sedangkan seandainya disekumpulan ternak betina tidak ada jantannya maka akan mengalami deselerasi saat mengaras pubertasnya.


Bilang faktor lingkungan kembali mempengaruhi faktor masa remaja, pada biasanya berbagai faktor yang memperlambat pertumbuhan dan potensi genetik, akan memperlambat pubertas. Sapi perah FH takdirnya diberi pakan sesuai denan anjuran akan mempercepat pubertas plong umur 11 bulan, hanya jika pakan yang diberikan hanya 62% berbunga level energi yang dianjurkan akan menangguhkan adolesens puas umur lebuh dari 20 bulan.


Master mileu nan tinggi juga akan memperlampat pubertas. Pada sapi potong, jika dipelihara pada suhu 10ºC akan mempercepat adolesens plong usia 10,5 bulan namun takdirnya sapi perawan dipelihara pada suhu 27ºC akan sampai ke puertas pada vitalitas lebih berpokok 13 bulan.


Buruknya sanitasi mileu menjadi pengaruh pubertas dan kesehatan hewan, lingkungan nan enggak baik akan memperlambat pubertas dan meletakkan format dewasa dari ternak. Tetapi berat pubertas tidak berlebih tergoyahkan. Sapi perawan engan nutrisi rendah akan 84% terpandang bertambah sepuh namun hanya 7% yang lebih kecil ukurannya.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Gandeng : Aklimatisasi – Pengertian, Tujuan, Variasi, Khalayak, Tingkah Laku, Hewan, Tanaman, Para Ahli



Periode Siklus Birahi Sapi


Siklus birahi pada dasarnya sebabat plong semua hewan, lamun semua jenis sato mmiliki ciri khas sendirisendiri. Siklus birahi boleh dibagi menjadi 4 atau 5 periode. Tiap masa akan beralih ke waktu berikutnya, adapun periode tersebut adalah :


  • Estrus
  • Medestrus
  • Diestrus
  • Proestrus
  • Anestrus (kusus bikin hewan-hewan monoestrus)

Periode siklus birahi terbagi atas estrus (birahi), medestrus, diestrus dan proestrus. Perian ini akan bepergian dalam suatu siklus keculai pada masa anestrus selama kebuntingan dan setelah babaran untuk semua keberagaman. Menurut banyaknya siklus birahi, tiap masa sato dapat dibagi menjadi 4 golongan.


  1. Dabat-hewan monestrus: merupakan hewan yang mengalami siklus birahi dalam setahun misal pada anjing lebah ratulebah
  2. Sato-hewan diestrus: hewan yang mengalami dua kelihatannya siklus birahi dalam setahun misalnya pada meong
  3. Hewan-hewan polyestrus ialah sato yang meangalami beberapa kali siklus birahi dalam satu hari. Terdapat pada hewan ternak seperti sapi, babi, domba, embek dan rodensia.
  4. Satwa-satwa polyestrus bermusim (seasonal polyestrus) hewan-dabat nan mengalami siklus birahi beberapa barangkali secara ajek hanya selama musim yang baik, sebagaimana sreg kambing arab pada musim gugur n domestik setahun.

Faktor-faktor yang mempengaruhi siklus birahi.

Banyak sekali faktor yang mempengaruhi lamanya siklus birahi dan kelahiran terutama intern panjangnya siklus birahi demap sekali terlihat plong hewan ternak.


  1. Keadaan makanan dan keadaan sekeliling yang baik menimbulkan lebih banyak siklus birahi pada hewan yang monoestrus atau diestrus, misal pada cengkok yang umumnya hanya dua bisa jadi mengalami siklus birahi pada suatu tahun, boleh mengalami siklus birahi lebih dari dua boleh jadi kerumahtanggaan setahun. Sreg biri-biri dan babi dikenal “flushing” yakni pemberian rezeki yang terlalu sebelum masa birahi, sehingga dicapai masa birahi nan dipercepat. Sebaliknya setiap kehilangan nafkah, sehingga mengakibatkan kelaparan berasal kekurusan pada fauna betina bisa menghasilkan produksi hormon gonadotropin dari kelenjar hipofisa anterior sehingga siklus birahi dapat adv amat diperpanjang atau tidak berlangsung adakalanya.


  2. Musim dan cahaya matahari terutama dinegara-negara 4 musim hewan-sato ilegal pada dasarnya musim kawin akan timbul sedemikian rupa sehingga anaknya dapat dilahirkan privat musim terbaik bagi anak dan induknya. Hari terbaik ini adalah periode tunas, sehingga faktor banyaknya cahaya syamsu masih memegang peranan dalam menggertak timbulnya musim kawin sreg hewan ternak.


  3. Master awan : pengaruh berpunca guru sekitarnya terwalak berlangsungnya siklus birahi masih cak semau walaupun hal ini tidak terlalu menonjol. Hal ini sangat berkaitan dengan faktor banyaknya cahaya rawi nan diterima maka dari itu hewan ternak itu.

  4. Umur : lega sapi dan nangui, umumnya lebah ratulebah yang masih muda menunjukkan birahi dan siklus birahi yang terbatas lebih pendek tinimbang nan lebih dewasa. Ketuaan yang disertai kesuntukan gigi, sehingga hewan sukar makan dan menjadi kurus umumnya mengakibatkan berhentinya siklus birahi.

  5. Penyakit-ki kesulitan : penyakit publik nan kronis dan hebat sehingga menyebabkan kekurusan pada hewan betina itu dapat memberhentikan berlangsungnya siklus birahi.


  6. Genetik : kebobrokan genetik yang menyebabkan enggak timbulnya siklus birahi yang normal pada hewan betina juga terlihat diantara fauna ternak kelainan-kelainan genetik ternak boleh positif hypofungsi dari kelenjar gonad (hypogonadism) sehingga indung telur tidak dapat berkreasi ibarat mana mestinya. Satwa betina yang mengalami hypogonadism tidak akan terlihat adanya siklus birahi nan normal.


  7. Tumor tumor pada kelenjar hypophysa, ovarium atau kelenjar adrenal, bisa memberikan keburukan dalam siklus birahi.


  8. Kebuntingan, bisa serentak mnghentikan siklus birahi secara physcologis, siklus birahi akan resmi pula setelah partus.


Baca Pula Artikel Yang Kelihatannya Gandeng : 16 Ciri-Ciri Manusia Hayat Dabat Dan Tumbuhan Beserta Gambarnya



Varietas-jenis Sapi


Sapi Limousine

Sapi Limousine

Sapi ini berusul dari Perancis dan merupakan spesies sapi potong ciri yang dimilki sapi ini adalah warna bulu merah cokelat, sahaja pada selingkung mata dan kaki mulai dari dengkul ke sumber akar bercelup agak terang ukuran tubuh besar dan panjang, pertumbuhan bagus. Tanduk pada jantan tumbuh keluar dan tebak melengkung.berat bodi sapi lebah ratulebah 650 kg, dan nyali 850 kg (Sugeng, 2003). Menurut Nuryadi dan Sri (2010) sapi Kas dapur Limousin nilai S/C 1,34 dan poin Conception Rate (CR) 66%.


Sapi Simental

Sapi Simental

Sapi Simmental yaitu nasion Bos taurus (Siregar, 1999), semenjak dari daerah Simme di negara Switzerland tetapi masa ini berkembang bertambah cepat di benua Eropa dan Amerika, merupakan varietas sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat kemerahan (biram bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor.  bercelup jati, sapi kesatria dewasanya berbenda hingga ke berat jasmani 1150 kg semenjana betina dewasanya 800 kg.


Tulang beragangan tubuhnya kekar dan berotot, sapi jenis ini sangat cocok dipelihara di bekas yang iklimnya semenjana. Persentase karkas sapi diversifikasi ini hierarki, mengandung tekor sedap. Dapat difungsikan bak sapi perah dan hunjam. Secara genetik, sapi Simmental adalah sapi cucuk yang berusul dari wilayah beriklim dingin, yakni sapi spesies raksasa, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi di luar kebutuhan yang sepatutnya ada) nan tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut manajemen perumpamaan pemeliharaan yang kian terkonsolidasi.


Baca Sekali lagi Artikel Yang Bisa jadi Gandeng : Hewan Karnivora : Pengertian, Dan Ciri Beserta Contohnya Secara Konseptual



Kebuntingan
atau Kehamilan sapi

Periode kebuntingan dimulai dengan penyerbukan dan berakhir dengan kelahiran anak nan vitalitas. Peleburan spermatozoa dengan ovum mengawali reaksi kimia dan fisika yang majemuk (Salisbury, 1985). Satu periode kebuntingan yaitu musim dari mulai terjadinya pemupukan sampai terjadinya kelahiran normal. Frandson (1992) menyatakan bahwa  kebuntingan berguna peristiwa anak sedang berkembang didalam uterus seekor hewan. Pertumbuhan makhluk plonco terbentuk umpama hasil pembenihan ovum oleh spermatozoa bisa dibagi menjadi 3 periode, yakni: masa ovum,periode embrio dan periode fetus. Masa zigot dimulai terbit terjadinya fertilisasi sebatas terjadinya implantasi, menengah periode embrio dimulai dari implantasi setakat saat dimulainya pembentukan alat alat tubuh bagian kerumahtanggaan. Periode ini disambung makanya musim embrio. Lamanya periode kebuntingan untuk tiap keberagaman berbeda-beda perbedaan tersebut disebabkan faktor genetik.


Menurut Frandson (1992) menyatakan bahwa Periode kebuntingan pada pada kuda 336 hari alias sekitar sebelas bulan; sapi 282 periode atau sembilan rembulan lebih abnormal; domba 150 hari atau 5 rembulan; babi 114 waktu maupun 3 bulan 3 minggu dan 3 hari, kucing tupai 28-35 hari dan anjing 63 musim alias selingkung 2 rembulan. Menurut Salisbury (1985) menyatakan periode kebuntingan pada semua nasion sapi perah berlangsung 278-284 hari kecuali brown swiss rata-rata 190 hari.


Sejauh masa kebuntingan, perabot kelamin lebah ratulebah mengalami beberapa perubahan. Menurut Partodiharjo (1982) satwa nan mengalami masa kebuntingan akan menunjukan perubahan putaran-bagian tertentu sebagai berikut:


  • Vulva dan vagina
    Setelah kebuntingan berumur 6 sebatas 7 bualan pada sapi dara akan terlihat adanya edema pada vulvanya. Semakin tua renta buntingnya semakin jelas edema vulva ini. Pada sapi yang telah berputra, edema vulva baru akan tertumbuk pandangan sesudah kebuntingan mencapai 8,5 sampai 9 bulan.


  • Serviks
    Setelah terjadi perabukan perubahan terjadi pada kelenjar-kelenjar serviks. Kelenjar ini akan menghasilkan dahak yang kental semakin tua umur kebuntingan maka semakin kental sputum tersebut


  • Uterus
    Perubahan sreg uterus yang pertama terjadinya vaskularisasi pada endomertium, terbentuk makin banyak kelenjar endometrium, sementara itu kelenjar yang telah ada tumbuh makin tinggi dan bengkang-bengkok sebagaimana spiral


  • Cairan Amnion dan Allantois
    Tagihan cair amnion dan allantois sejauh kebuntingan juga mengalami perubahan. Perlintasan nan pertama adalah volumenya, dari tekor menjadi banyak, transisi kedua adalah dari perbandingannya. Hampir semua jenis, cairan amnion menjadi makin banyak dari plong volume enceran allantois, namun pada akhir kebuntinan cairan allantois menjadi lebih banyak.


  • Perubahan lega ovarium
    Setelah ovulasi, terjadilah kepundan bekas folikel. Mulut gunung ini segera dipenuhi maka dari itu bakat yang dengan cepat membeku nan disebut corpus hemorrhagicum. Plong periode ke 5 setakat ke-6 korpus luteum telah terbentuk

Hormon yang Berlaku saat Kebuntingan

  1. GnRH (Gonadotrophin Realesing Hormon)GnRH adalah suatu dekadeptida (10 asam amino) dengan sulit molekul 1183 dalton. Hormon ini menstimulasi sekresi Follicle Stimulating Hormon (FSH) dan Lutinizing Hormone (LH) dari hipofisis anterior. Hidayah GnRH meningkatkan FSH dan LH intern revolusi pembawaan sejauh 2 sebatas 4 jam (Salisbury, 1985).

  2. FSH dan LH merangsang folikel ovarium lakukan mensekresikan estrogen. Menjelang tahun ovulasi konsentrasi hormon estrogen mencapai suatu pangkat yang cukup janjang bakal menindihkan produksi FSH dan dengan pelampiasan LH menyebabkan terjadinya ovulasi dengan menggertak pemecahan dinding folikel dan pelampiasan sel telur. Setelah ovulasi maka akan terlatih korpus luteum dan detik tidak bunting maka PGF2α dari uterus akan melisiskan korpus luteum. Tetapi jika terjadi kebuntingan maka korpus luteum akan terus dipertahankan supaya konsentrasi progesteron kukuh janjang untuk menjaga kebuntingan (Imron, 2008).


  3. FSH dan LH merangsang folikel ovarium lakukan mensekresikan estrogen. Menjelang waktu ovulasi konsentrasi hormon estrogen mengaras suatu janjang yang sepan tinggi untuk menekan produksi FSH dan dengan pelepasan LH menyebabkan terjadinya ovulasi dengan membuyarkan pemecahan dinding folikel dan pelampiasan ovum. Pasca- ovulasi maka akan terasuh korpus luteum dan detik tidak bunting maka PGF2α berpunca uterus akan melisiskan korpus luteum. Sekadar jika terjadi kebuntingan maka korpus luteum akan terus dipertahankan supaya sentralisasi progesteron setia tinggi untuk menjaga kebuntingan (Imron, 2008).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Denotasi Jaringan Pada Sato Dan Tumbuhan (Tertera Makhluk) Privat Ilmu hayat



Diagnosa Kebuntingan


Metode Deteksi Kebuntingan . Deteksi kebuntingan dengan urine dan asam sulfat (H2SO4)

Internal kinerja reproduksi deteksi kebuntingan yakni salah satu kelainan yang sering dihadapi setelah sapi dikawinkan alias di IB (diinseminasi bikinan). Untuk itu diperlukan suatu metode deteksi kebuntingan yang hendaknya mudah, murah, cepat dan tepat sehingga dapat mengefisienkan penanganan terhadap ternak betina yang bunting tersebut. Pengawasan sendiri bisa jadi sangat diperlukan. Kini deteksi kebuntingan umumnya dilakukan dengan palpasi saban rektal, dan kemungkinan yang tepat dapat terjadi 2–3 rembulan setelah diinseminasi dan semakin tepat dengan bertambahnya umur kebuntingan. Beberapa metode diagnosis telah di aplikasikan di pelan.


Metode diagnosis yang naik daun pada sapi ialah palpasi rektal. Aplikasi metode ini sulit diterapkan karena butuh keahlian dan camar duka yang pas serta risiko yang ditimbulkan sekiranya dilakukan dengan penanganan yang invalid baik. Puas level lapangan, jumlah tenaga untuk permohonan metode ini silam invalid. Makanya karena itu, teradat dicari suatu solusi alternatif sehingga ditemukan satu metode yang teoretis yang dapat diaplikasikan sreg sapi awam.
Dasar teoritis pengawasan urine ini yaitu terdapatnya hormon estrogen pada sapi bunting yang disekresikan melalui urin. Hormon estrogen tersebut berasal dari ari-ari. Ketika dicampur dengan asam sulfat, maka estrogen tersebut akan dibakar sehingga terbnetuk fluoresensi warna. Aplikasi metode ini sangat sederhana dan memenuhi syarat syarat teladan bagi diagnosis kebuntingan sehingga lalu tepat bikin diaplikasikan pada level peternak.


Metode deteksi kebuntingan yang comar diterapkan didunia peternakan meliputi :

  • Eksplarasi Rektal
    Pengkhususan rektal yaitu metoda diagnosa kebuntingan yang dapat dilakukan sreg ternak besar seperti mana aswa, munding dan sapi.Prosedurnya yakni palpasi uterus melalui dinding rektum bikin meraba pembesaran nan terjadi selama kebuntingan, bakal manusia atau membran fetus.Teknik yang dapat digunakan lega tahap awal kebuntingan ini yakni akurat, dan hasilnya dapat langsung diketahui.


    Sempitnya rongga pelvic lega kambing, domba dan kartu ceki maka pendalaman rektal untuk mencerna isi uterus tidak dapat dilakukan (Arthur, et al., 1996).Palpasi transrectal pada uterus telah sejak lama dilakukan.Teknik yang dikenal cukup akurat dan cepat ini sekali lagi relative murah.Namun demikian dibutuhkan pengalaman dan training bagi petugas nan melakukannya, sehingga dapat tepat dalam mendiagnosa. Teknik ini hijau dapat dilakukan plong vitalitas kebuntingan di atas 30 masa (Broaddus dan de Vries, 2005).


    Sensor kebuntingan ternak khususnya sapi umumnya dilakukan dengan explorasi rectal atau palpasi rektum.Dalam berbuat palpasi rektum, tidak semua orang bisa melakukannya, hanya khalayak-orang tertentu saja yang juru intern latar tersebut. Belaka ketersediaan orang–orang tersebut tidaklah merata di seluruh kawasan khususnya daerah Sumatera Barat. Sementara itu beternak sapi kian banyak dilakukan maka itu rakyat yang terserah di pedesaan (Rahmayuni, 2001).


  • Ultrasonografi
    Ultrasonography adalah instrumen nan cukup modern, boleh digunakan buat mendeteksi adanya kebuntingan lega peliharaan secara dini. Alat ini menggunakan probe untuk mendeteksi adanya transisi di dalam sinus abdomen. Alat ini dapat mendeteksi adanya perubahan rangka dan matra berbunga cornua uteri.Harga alat ini masih lalu mahal,diperlukan teknikus yang terasuh untuk dapat menginterpretasikan gambar yang muncul pada monitor. Terserah resiko kekurangan bakal manusia kapan pemeriksaan akibat traumatik pada saat memasukkan pobe. Pemeriksaan kebuntingan menunggangi alat ultrasonografi ini dapat dilakukan pada umur kebuntingan antara 20 – 22 hari, saja bertambah jelas pada usia kebuntingan diatas 30 perian ( Youngquist, 2003 dalam Lestari, 2006).


  • Diagnosa Kebuntingan berdasarkan konsentrasi hormon
    Pengukuran hormon-hormon kebuntingan n domestik larutan bodi dapat dilakukan dengan metoda Ria dan ELISA. Metoda-metoda nan menggunakan plasma dan air buah dada ini, dapat mendiagnosa kebuntingan plong ternak makin dini dibandingkan dengan metoda rektal (Jainudeen dan Hafez, 2000).


    Menurut Djojosoebagjo (1987) dalam Illawati (2009), metode Ria mempunyai kemampuan buat menentukan zat-zat fisiologis setakat konsentrasi nan suntuk rendah sekali sampai ke konsentrasi pictogram (1 pg = 10-12 gram) untuk setiap asongan ml. Dengan metode ini hampir semua hormon dapat diukur kadarnya. Akan tertapi secara komersil, metoda RIA bersisa mahal bagi digunakan sebagai metoda diagnosis kebuntingan (Partodihardjo, 1992).


  • Metoda punyakoti
    Metoda punyakoti adalah sebuah metoda pemeriksaan kebuntingan ternak sapi menggunakan air kencing yang pernah dilakukan di sebuah veterinary college di Bangalore India. Teknik ini ternyata mencontoh dokter di Mesir sekitar 4000 tahun lalu, di mana disebutkan bahwa koteng gadis yang akan didiagnosis kehamilannya diminta untuk pipis di kantong kejai yang berisi biji gandum. Gadis tersebut didiagnosis hamil apabila nilai gandum dalam kantung nan dikencingi tumbuh dalam waktu 5 hari dan tidak hamil bila angka gandumnya tidak tumbuh (Istiana, 2010).


    Namun untuk ternak sapi hasilnya p versus berasal manusia, jika biji sorgum tumbuh dalam 5 hari maka piaraan tersebut dinyatakan tidak bunting dan sebaliknya.Uji ini layak murah, mudah, sederhana, bukan invasif bermula sudut pandang kesejahteraan satwa dan tak memerlukan bahan kimia atau alat yang canggih.Peternak yang ada di wilayah terpencil yang akses terhadap dokter hewan semacam itu terbatas bisa memanfaatkan uji punyakoti bakal mendiagnosis kebuntingan hewan ternaknya.


  • Deteksi kebuntingan dengan air seni dan asam sulfat (H2SO4)
    Deteksi kebuntingan dini secara kimiawi merupakan riuk satu alternatif deteksi kebuntingan sreg sapi. Keunggulan metode ini peternak akan kian cepat memafhumi apakah ternak yang sudah lalu dikawinkan atau diinseminasi menjadi bunting atau tidak. Privat prestasi reproduksi deteksi kebuntingan merupakan salah suatu masalah nan sering dihadapi setelah sapi dikawinkan atau di IB (diinseminasi buatan). Bikin itu diperlukan suatu metode deteksi kebuntingan yang kiranya mudah, murah, cepat dan tepat sehingga dapat mengefisienkan penanganan terhadap ternak lebah ratulebah yang bunting tersebut.Pengawasan seorang mungkin sangat diperlukan.Ketika ini deteksi kebuntingan umumnya dilakukan dengan palpasi per rektal, dan kemungkinan yang tepat dapat terjadi 2–3 rembulan setelah diinseminasi dan semakin tepat dengan bertambahnya umur kebuntingan.


    Beberapa metode diagnosis telah di aplikasikan di lapangan. Metode diagnosis yang populer plong sapi yaitu palpasi rektal. Aplikasi metode ini sukar diterapkan karena butuh kepakaran dan camar duka yang memadai serta risiko yang ditimbulkan jikalau dilakukan dengan penanganan yang rendah baik. Pada level lapangan, jumlah tenaga untuk aplikasi metode ini lampau terbatas. Oleh karena itu, perlu dicari suatu solusi alternatif sehingga ditemukan suatu metode yang kamil nan dapat diaplikasikan sreg sapi masyarakat.


    Dasar teoritis pemeriksaan urine ini yakni terdapatnya hormon estrogen pada sapi bunting nan disekresikanmelalui urin. Hormon estrogen tersebut berasal berpokok ari-ari. Ketika dicampur dengan asam sulfat, maka estrogen tersebut akan dibakar sehingga terbnetuk fluoresensi warna. Aplikasi metode ini sangat keteter dan memenuhi syaratsyarat teladan untuk diagnosis kebuntingan sehingga dahulu tepat lakukan diaplikasikan pada level peternak.


    Estrone sulphate yakni derifat terbesar estrogen yang diproduksi makanya konseptus dan dapat diukur dalam plasma maternal, payudara atau urine pada semua species ternak. Estrone sulphate dapat dideteksi dalam plasma lebih awal sreg babi ( periode ke 20) dan aswa (hari ke 40), dibandingkan pada domba dan kambing (hari ke 40 sebatas 50) maupun sapi (hari ke 72). Kedua level hormon baik estrone sulphate maupun eCG dapat digunakan untuk mendiagnosa kebuntingan pada kuda sehabis hari ke 40 kebuntingan. Karena fetus nan berkembang mengeluarkan sejumlah besar estrone sulphate ke n domestik sirkulasi maternal antara hari ke 75-100 kebuntingan, maka estronesulphate makin boleh dimanfaatkan bersumber pada eCG untuk mengarifi adanya kehadiran embrio (Damayanti, 2006).


    Menurut Rosalin (2002), Pengambilan sampel air kencing pada sapi nan telah di IB sebulan dan setelah dua bulan di IB tidak berbeda faktual dengan nilai kebuntingan. Akan tetapi masa yang cepat dan tepat perlu dicari lakukan memperoleh hasil deteksi yang cepat dan tepat. Menurut Partodihardjo (1992), senderut sulfat yang boleh digunakan untuk deteksi kebuntingan. Ditambah Satriyo (2001), metode deteksi ini telah diterapkan cak bagi mendeteksi kebuntingan peliharaan sapi, di dalam kemih sapi yang sedang bunting mengandung hormon estrogen yang dihasilkan maka itu tali pusar.


    Prinsip dari metode ini menurut Partodihardjo (1987), bahwa dengan penambahan larutan 2 ml air seni dan 10 ml aquadest kemudian dibakar dengan 15 ml asam sulfat pekat akan menimbulkan gas fluorescence di permukaan cairan. Gas tersebut timbul karena adanya hormon esterogen di n domestik air seni. Hormon esterogen diproduksi sekiranya seekor ternak telah mengalami perkawinan dan berada pada proses kebuntingan. Ditambah oleh Illawati (2009), penggunaan volume senderut sulfat pekat 0.5 ml yang lebih efektif bakal deteksi kebuntingan. Pemakaian cemberut sulfat pekat 0.5 ml menghasilkan warna yang berubah mulai sejak kuning muda menjadi keunguan ini menunjukan kebuntingan yang jelas. Melanjutkan penelitian ini untuk mendapatkan piutang cemberut sulfat pekat (H2SO4) yang lebih efisien dan lebih ekonomis bermula segi harga, uji kebuntingan dilakukan dengan memperkecil debit penggunaaan bersut sulfat.


    Materi yang digunakan dalam penelitian ini yakni spesimen urine sapi yang berasal dari betina yang mutakadim diinseminasi buatan. Sampel urine sapi diambil pada pagi periode. Target kimia yang digunakan ialah Asam Sulfat (H2SO4) pekat dan aquadest. Alat nan dipakai adalah tabung reaksi, gelas ukur, gelas kimia, cak hisapan tetes, buntang pengaduk, tang kempa, tisu gulung, alat tulis dan stopwatch.

Prosedur kerja privat melakukan deteksi kebuntingan menggunakan campuran urine dan Asam Sulfat (H2SO4):

  1. Persiapan Peralatan
    Semua peralatan nan diperlukan dibersihkan. Peralatan dibilas dengan air bersih dan aquadest kemudian dikeringkan.

  2. Penampungan Urine
    Pengutipan urine dilakukan lega pagi hari (06.30-10.00 WIB). Urine langsung ditampung dengan menggunakan alat nan tersuguh adalah gelas ukur.


  3. Membuat Larutan Urine dan Aquadest
    Untuk takhlik cair, urine diambil sebanyak 3 ml lalu dimasukkan ke dalam bumbung reaksi kemudian ditambah 15 ml aquadest dan hancuran dicampur sehomogen mungkin. Kemudian larutan dipindahkan ke kerumahtanggaan 15 tabung reaksi yang lain sebanyak 1 ml pertabung reaksi.


  4. Pembakaran / Penyisipan Enceran dengan Asam Sulfat pekat (H2SO4)
    Dimana reaksi ditandai dengan munculnya gelembung-pelembungan gas fluorencscence dari dasar bumbung dan terjadinya peralihan warna larutan berbunga asfar muda menjadi biru keungguan apabila sapi bunting. Menurut Sayuti dkk (2011), hasil positif (+) akan menunjuk-nunjukkan adanya zat fluoresen rona hijau di permukaan cairan menengah hasil negative (-) lain memperlihatkan zat corak fluoresen.


Menurut Wahyu (2012), Penggunaan Asam Sulfat (H2SO4) pekat dengan dosis 0.1 ml dapat digunakan kerumahtanggaan diagnosis kebuntingan dini pada sapi tetapi dengan waktu yang bertambah lama (25-40 detik). Sensor kebuntingan prematur pada sapi dengan memperalat Senderut Sulfat (H2SO4) pekat telah bisa dilakukan plong waktu ke-22 sehabis diinseminasi.


Metode diagnosis kebuntingan dengan menggunakan Asam Sulfat (H2SO4) pekat dapat dilakukan koteng makanya peternak karena lebih praktis, cepat dan bukan membutuhkan kepakaran khusus sehingga bisa diterapkan pada peternakan rakyat. Menurut Hunter (1995) metode diagnosis kebuntingan nan model yaitu tidak mahal, mudah dilakukan, tersisa dan cepat, dan bisa segera memberikan hasil agar sapi dapat dikawinkan pula lega waktu yang optimum dengan tepat.


Jika terjadi kegagalan kebuntingan ini dapat disebabkan oleh kematian mudigah prematur sebagaimana pendapat Hardjoprajonto (1995) bahwa kematiam embrio dini lega sapi bisa mencapai 20-30%, persentase terbesar dapat terjadi puas 6-42 hari setelah diinseminasi. Mortalitas mudigah dini lega emak yang normal terjadi karena pada dasarnya embrio sampai umur 42 hari, kondisinya labil, mudah terpengaruh oleh lingkungan nan tidak serasi atau kekurangan pakan. Kematian mudigah dini yang terjadi tidak menerimakan gejala-gejala klinis yang jelas pada induknya, karena bakal manusia akan diserap maka itu dinding uterus.


Frandson (1992) memperkirakan kehampaan reproduktif bersumber ternak, berusul kegagalan pembuahan dan kematian embrional seputar 50% dari produksi potensial sato betina yang dikawinkan.


Partodihardjo (1992) menyatakan adanya ternak sapi yang harap pertalian pun disebabkan oleh kurangnya wara-wara peternak dalam mendeteksi berahi sehingga inseminasi dilakukan lain tepat pada waktunya, kesalahan dalam pelaksanaan IB nan lain sesuai dengan prosedur serta rendahnya kesuburan dabat betina nan diinseminasi.


Lama kebuntingan dari seekor peliharaan ditentukan oleh faktor genetik walaupun boleh dimodifikasi oleh faktor-faktor maternal, foetal, dan lingkungannya. Sapi-sapi dara puas umur nisbi akil balig akan mempunyai periode kebuntingan yang lebih ringkas dari pada sapi yang lebih lanjut umur (Toelihere, 1981).  Dari pemaparan diatas mengenai berbagai metode deteksi kebuntingan, yang cocok diterapkan diwilayah pedesaan yaitu metode deteksi kebuntingan menunggangi campuran urine dan bersut sulfat (H2SO4) nan memiliki maslahat adalah murah, cepat dan hasilnya akurat.


Kekuatan dan Kekurangan Metode Deteksi Kebuntingan dengan Campuran Air seni dan Asam Sulfat (H2SO4)

Di samping itu deteksi kebuntingan dini secara kimiawi adalah pelecok suatu alternatif deteksi kebuntingan pada sapi. Stempel metode ini peternak akan lebih cepat mengetahui apakah ternak yang sudah dikawinkan maupun diinseminasi menjadi bunting atau bukan. Menurut Rosalin (2002), Pengutipan sampel kemih pada sapi yang telah di IB sebulan dan sesudah dua rembulan di IB bukan berbeda nyata dengan angka kebuntingan. Akan  tetapi waktu nan cepat dan tepat perlu dicari cak bagi memperoleh hasil deteksi nan cepat dan tepat. Hal ini diperkuat oleh pendapat berasal Wahyu (2012), bahwa pendayagunaan Asam Sulfat (H2SO4) pekat dengan dosis 0.1 ml bisa digunakan intern diagnosis kebuntingan dini lega sapi hanya dengan tahun yang makin lama (25-40 detik). Pemeriksaan kebuntingan dini pada sapi dengan menggunakan Asam Sulfat (H2SO4) pekat telah bisa dilakukan pada waktu ke-22 selepas diinseminasi.


Jadi dapat dikatakan bahwa dengan penggunaan metode ini deteksi kebuntingan akan cepat karena kerumahtanggaan tahun 22 hari setelah dilakukan IB boleh dilakukan uji ini, sedangkan deteksi kebuntingan yang masyarakat dilakukan sekarang yaitu dengan palpasi  per rektal yang dapat dilakukan 2-3 bulan pasca- diinseminasi. Keuntungan tak yakni terjagkau untuk kalangan peternak karena tak membutuhkan bulan-bulanan yang banyak dan biaya yang mahal. Serta tidak membutuhkan keahlian distingtif begitu juga palpasi rektal karena dapat diterapkan plong peternakan rakyat dimana peternaka dapat melakukan seorang. Dan telah jujur secara tepat serta akurat, bahwa menurut Hunter (1995), metode diagnosis kebuntingan yang pola merupakan tak mahal, mudah dilakukan, sederhana dan cepat, dan dapat segera memberikan hasil sepatutnya sapi boleh dikawinkan kembali lega waktu yang optimum dengan tepat.


Kasus lain nan ditemukan merupakan adanya sapi yang sudah diduga bunting dengan Non-Return Rate (NR) tetapi ternyata tidak bunting ketika didiagnosis menggunakan Asam Sufat (H2SO4) pekat dan uji palpasi sendirisendiri rektal, ini membuktikan bahwa pendugaan dengan NR tidak selalu akurat. Kelemahan metode ini adalah memerlukan pengamatan nan lama dan intensif, adanya kasus silent heat (erotisme lengang), serta adanya korpus luteum persistent ataupun korpus luteum yang enggak beregresi secara normal (Toelihere, 1981).


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sistem Pencernaan Kandungan Pada Hewan Ruminansia Lengkap



Penanganan Kelahiran Lega Pedet Sapi

Sebelum pedet lahir terlebih tinggal dilakukan membersihkan kandang induk kemudian kandang dilengkapi dengan alas pecah jerami padi. sesuai dengan kebutuhan alias kapasitasnya. Ukuran kandang individual kerjakan pedet umur 0-4 minggu yakni 0,75m x 1,5 m dan umur 4-8 minggu 1,0 x 1,8m. Kapasitas kandang pedet usia 4-8 minggu adalah 1 mZ/ekor, dan spirit 8-12 minggu adalah 1,5 m/ekor. Emak bunting nan mau melahirkan agar di pisahkan berbunga dari sapi yang lain dan ditempatkan dikandang tunggal beranak yang bersih dan telah didisenfektan sehingga pron bila babaran, emak bisa melahirkan dengan sirep minus terganggu maka itu induk bunting lain.

Langkah-langkah sehabis anak sapi lahir :

1. Segera menyucikan balgam yang ada dihidung dan di bacot pedet.


2. Memeriksa apakah pedet mutakadim dapat bernafas. Seandainya ijil mengalami kesulitan bernafas lekas lakukan pernafasan sintetis dengan kaidah menyanggang kedua kaki belakang pedet, sehingga posisi kepala dibawah, selanjutnya sanggang dan turunkan pedet repetitif-ulang (3-5 kali), sehingga balgam yang masih meyumbat rongga hidung dan rongga mulut akan keluar dan pedet dapat segera bernafas. Pendirian enggak dengan menelentangkan padet sedemikian rupa, sehingga kaki-kakinya menentang ke atas.


Kemudian ke dua kaki depannya dipegang dan digerak-propaganda dengan serempak ke atas dan kebawah berulang mungkin, setakat terlihat isyarat bernafas. Atau boleh dilakukan dengan menekan dada berulang-ulang setakat terjadi pernafasan. Adakalanya pernafasan itu terganggu karena adanya balgam nan terdapat didalam mulut dan kerongkongan, maka lidah ditarik keluar dan lendir dikeluarkan semenjak bacot dan tenggorokan dengan menggunakan jari telunjuk.


3. Selepas pedet bisa berdiri, Bebat tembuni (funiculus umbilicalis) kuranglebih 2,5 cm berasal perut kemudian dipotong rendah kian 1 cm di bawah perikatan lawe. Uri boleh disterilkan (disucihamakan) dengan 3 mandu :

  • Ari-ari dicelupkan pada yodium tintur 10% maupun betadine.
  • Lembar pusar disemprot dengan yodium tintur 10%.
  • Memasukkan 5 ml yodium tintur 10% atau betadine ke kerumahtanggaan saudara dengan alat mengindoktrinasi maupun serempak semenjak pot betadine, hingga larutan masuk hingga ke pangkal uri.

4. Induk dibiarkan menjilati anaknya, hendaknya jilatannya lebih langgeng maka di taburkan natrium klorida di jasmani anak sapi. Jilatan indung ini akan kondusif melajukan pernafasan dan semok sirkulasi pembawaan. Apabila induk lain mau menjilati anaknya, lendir pada fisik pedet dibersihkan oleh peternak dengan kain lap bersih dan kering dengan digosokan sebatas seluruh permukaan tubuh pedet tandus.


5. Usahakan peternak menyasarkan pedet puas puting induknya untuk mentusu biar taajul mendapatkan kolostrum, Apabila pedet lahir segar dan abadi biasanya 30 sampai dengan 60 menit setelah lahir sudah boleh berdiri. Ijil musim lahir tidak memiliki keimunan untuk melawan penyakit. Oleh karena itu 30 sampai dengan 60 menit setelah lahir pedet taajul diberi minum kolustrum. Kolostrum adalah susu yang dihasilkan makanya sapi sesudah melahirkan setakat selingkung 5 setakat dengan 6 hari. Kolostrum lampau terdepan untuk pedet setelah lahir karena kolustrum mengandung zat pelindung alias antibodi yang dapat menjaga keluasan pikiran fisik pedet dari masalah.


6. Pemeliharaan pedet memerlukan perhatian dan presisi yang tangga dibanding dengan pemeliharaan sapi dewasa. Hal ini disebabkan karena kondisi pedet yang masih lemah sehingga bisa menimbulkan ponten mortalitas nan tinggi. Kesalahan dalam pemeliharaan anak sapi dapat menyebabkan pertumbuhan pedet tersekat dan lain maksimal.


Baca Juga Kata sandang Nan Mana tahu Bersambung : Signifikasi Fisiologi Hamba allah Dan Hewan Beserta Bidangnya



Tahap-Tahap Kelahiran

Kendatipun aktivitas partus merupakan suatu proses yang berkesinambungan, tetapi sebagai gambaran diskriptif dapat dibagi 3 tahap.

  1. Tahap Mula-mula
    Tahap ini ditandai dengan konstraksi aktif serabut-cendawan urat daging pada dinding makanan (uterus) dan melebarnya (dilatasi) leher makanan (cervix). Kondisi ini terjadi karena adanya perubahan hormonal intern badan emak menjelang kelahiran. Konstraksi uterus terjadi setiap 10 menit sampai 15 menit dan berlangsung hingga 15 hingga 30 ketika. Tahap pertama pada sapi yang baru pertama barangkali melahirkan nampak berlantas bertambah lama daripada sapi nan sudah pernah beranak. Pada tahap pertama ini yang nampak yakni ternak kalihatan gelisah, napsu bersantap turun, sekilas tergeletak sepemakan takut. Menjelang akhir tahap ini ketuban (allantochorion) nampak keluar pecah vagina dan kemudian pecah. Bakal anak sudah mulai memposisikan diri bagi keluar mulai sejak uterus

  2. Tahap Kedua
    Tahap kedua ini ditandai maka itu penyerahan mudigah kedalam parit kelahiran nan berdilatasi, pecahnya kantong ketuban (allantois), kontraksi abdominal maupun perejanan dan pengeluaran embrio melalui vulva. Sepanjang tahap kedua ini, uterus mengalami perejanan 4 sebatas 8, setiap 10 menit dan berlantas 80 sampai 100 ketika. Perejanan berulang-ulang berlangsung terus dan kaki fetus terlihat di vulva. Sewaktu kaki fetus melangkaui vulva, kantong amnion bermula. Peningkatan konstraksi abdominal terjadi lega waktu kepala, pundak dan belakang bakal anak memasuki pelvis. Ketika kepala fetus memasuki vulva, pada saat inilah terjadi perejanan alat pencernaan (abdominal) nan terkuat pada proses partus. Sehabis kepala fetus melintasi vulva, kebanyakan induk istirahat bikin beberapa menit sebelum pula merejan dengan abadi sewaktu dada mudigah berlalu melalui susukan tulang panggul. Pinggul segera menyusul kemasuki kanal kelahiran. Tahap kedua proses kelahiran berlantas 0,5 sampai 3 atau 4 jam. Plong sapi yang mutakadim sering bersalin tahap ini hannya memerlukan secabik hingga satu jam.


  3. Tahap Ketiga
    Tahap ketiga ini ialah tahap terakhir dari suatu proses kelahiran yang ditandai dengan pengeluaran epidermis fetus/ ari-ari (plasenta) dan involusi uterus. Pengeluaran plasenta secara normal selasai dalam beberapa jam setelah pengeluran bakal manusia. Lama musim yang diperlukan yntuk pengeluaran plasenta plong sapi yakni 0,5 sampai 8 jam.


Baca Lagi Kata sandang Yang Barangkali Berhubungan : Makalah Fauna Aves (Kalam)



Godaan Reproduksi Dan Penanganannya


Gangguan Reproduksi Yang Biasa Terjadi Plong Sapi :

  1. Birahi tenang (Silent Heat)
    Birahi tenang atau birahi tidak teramati banyak dilaporkan sreg sapi tikam; sapi dengan birahi tenang mempunyai siklus reproduksi normal, namun gejala birahinya lain terlihat. Birahi tenang akan mengakibatkan peternak tidak boleh mengetahui kapan sapinya birahi, sehingga tak dapat dikawinkan dengan tepat.  Birahi tenang pada sapi karena bilang peluang ialah :
    I. faktor genetis
    II. manajemen peternakan yang terbatas baik
    III. defisiensi komponen-komponen pakan atau defisiensi nutrisi,
    IV. kondisi raga jelek, kebanyakan karena sakat interna (cacing),

  2. Tidak birahi sama sekali (anestrus)
    Tak birahi separas sekali atau anestrus adalah keadaan dimana memang tidak terjadi siklus reproduksi, tidak ada ovulasi, sehingga tidak terjadi gejala birahi separas sekali. Kasus anestrus pada sapi perah layak banyak ditemui, umumnya terjadi sehabis beranak. Anestrus pada sapi perah akibat defisiensi zat makanan umumnya berupa penurunan ovaria (hipofungsi ovaria) boleh mencapai 90% dan akibat adanya peradangan saluran reproduksi 10%.


Baca Kembali Artikel Yang Mana tahu Bersambung : Hewan Vertebrata dan Invertebrata



Situs Legal dan Tekor Lega Fetus


Situs Normal Pada Fetus

1. posisi stereotip fetus sapi (longitudinal anterior)

posisi normal fetus sapi


2. posisi  seremonial fetus sapi (longitudinal posterior)

posisi  normal fetus sapi


Situs Abnormal Pada Bakal anak

Jenis-keberagaman  posisi distokia dan cara penanganannya

1. Pengajuan: Longitudinal anterior

  • Posisi: Dorso sacral
  • Postur: Unilateral shoulder flexion postur
  • Prognosa: Fausta

Penanganan : Ujung kaki yang meluncur diikat dengan utas, dan biarkan menjulur, kemudian direpulsi, perluasan bagian bahunya. Ujung teracak dilindungi sepatutnya lain merusaki saluran reproduksi. Tali ujung kaki kemudian ditarik keluar.


2. Presentasi: Longitudinal anterior

  • Posisi: Dorso sacral
  • Posture : Head neck flexion posture dorsal

Penanganan: salah satu kaki embrio di ikat, dahulu embrio direpulsikan  kemudian diekstensi sehingga posisi penasihat menghadap kea rah vagina. Setelah posisi extended, fetus siap bagi diretraksi keluar. Cara lain jika mudigah tidak dapat dikeluarkan dan masih internal keadaan hidup yakni dengan operasi caesar.


3. Pengutaraan: Longitudinal anterior

  • Posisi: Dorso sacral
  • Posture: Dog sitting
  • Prognosa: Fausta

Penanganan: Kaki diikat dengan tali, direpulsi, perluasan tungkai depan, dibuat dorsalsacral, ekstensi, kemudian diretraksi. Penarikan harus cepat karena umbilicus tergencet,  takdirnya bukan bakal anak akan mati kehabisan nafas.


4. Presentasi: Longitudinal anterior

  • Posisi: Dorso sacral
  • Posture : Vertex Posture
  • Prognosa: Fausta-Infausta

Penanganan: Pelecok satu suku bakal anak diikat, habis janin direpulsikan kemudian dirotasi sehingga posisi kepala tepat sedikit menengadah dan tidak mengganjal lagi pada tulang pubis. Setelah posisi extended, bakal anak siap bakal diretraksi keluar. Cara tidak jika bakal manusia tidak dapat dikeluarkan dan masih dalam keadaan hidup ialah dengan manuver cesar.


5. Penguraian : longitudinal posterior

  • Posisi: Dorso illial
  • Posture: Bilateral hip flexion posture (BreechPosture)
  • Prognosa: Infausta

Penanganan: ikat salah suatu kaki fetus sebagai ideal, lalu dengan bantuan porok kebidanan fetus diekstensi, kemudian di lepaskan kaki belakangnya dan diretraksi perlahan sesuai dengan irama peregangan semenjak induk.


6. Presentasi: Ventro transversal presentation

  • Posisi: chepalo pubic
  • Postur:Dorso illiaca sinister/dexter
  • Prognosa: Fausta

Penanganan: ikat salah satu kaki depan fetus, lau dengan sambung tangan garpu kebidanan fetus didorong (ekstensi), adv amat dirotasi dan siap untuk diretraksi.


7. Presentasi: longitudinal posterior

  • Posisi: Dorso sacrum
  • Posture: Hock flexion posture
  • Prognosa: fausta-infausta

Penanganan: terlebih lampau harus dilakukan palpasi vaginal untuk mendapatkan kaki bakal manusia, pasca- dirasa dapat maka kaki fetus lewat diikat dengan tali, posisi tubuh di repulse lalu diekstensikan bakal beres-beres posisi badan dari embrio. Lalu dengan perlahan dilakukan versio, agar pas posisi depan-belakang, kemudian dilakukan retraksi dengan perlahan sesuai irama penegangan indung.


8. Penyajian: longitudinal anterior

  • Posisi: Dorso sacrum
  • Postur: bilateral hip flexio posture

Penanganan: sreg posisi seperti gambar diatas, maka kejadian pertama yang harus dilakukan yakni mencantumkan kaki depan fetus tersebut, lalu dengan uluran tangan porok kebidanan, posisi fetus direpulsi. Pasca- mengalami repulse maka  hal seterusnya adalah ekstensi, dalam hal ini adalahpembenaranposisi untukkaki birit, setelah posisi sesuai dengan posisi normalmaka dilakukan penarikan fetus ataupun retraksi sesuai dengan kontraksi dari uterus induk.

Mungkin Dibawah Ini nan Kamu Cari