Cara Membuka Usaha Di Malaysia

Berbunga Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kesehatan
adalah kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial nan lengkap dan tidak sekadar tidak adanya penyakit maupun kelemahan.[1]
Pemahaman mengenai kesehatan mutakadim gelesot seiring dengan waktu. Berkembangnya teknologi kebugaran berbasis digital sudah memungkinkan setiap cucu adam cak bagi mempelajari dan membiji diri mereka koteng, dan berpartisipasi aktif dalam gerakan promosi kesehatan. Berbagai faktor sosial berpengaruh terhadap kondisi kesehatan, seperti perilaku manusia, kondisi sosial, genetik dan biologi, perawatan kesegaran, dan lingkungan awak.

Definisi

[sunting
|
sunting sumber]

Makna kesehatan telah berkembang seiring dengan waktu. N domestik perspektif model biomedis, definisi mulanya kesehatan difokuskan lega kemampuan tubuh buat berfungsi. Kesehatan dipandang sebagai kondisi jasad nan berfungsi lumrah yang dapat terganggu oleh ki kesulitan mulai sejak periode ke waktu.[2]

Pada perian 1958, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan andai “kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, dan lain hanya bukan adanya penyakit dan kelemahan”.[3]
Meskipun definisi ini disambut baik oleh bilang orang dan dipandang inovatif, definisi ini pun dikritik karena tidak jelas, sesak luas, dan tidak diuraikan dengan terukur.[2]
Beberapa intelektual mengajukan definisi kesehatan yang lain, misalnya “kondisi yang ditandai dengan integritas ilmu tasyrih; kemampuan bagi melakukan peran dalam anak bini, pekerjaan, dan mahajana, yang dihargai secara pribadi; kemampuan untuk menghadapi impitan fisik, biologis, dan sosial; ingatan sejahtera; dan kebebasan dari risiko penyakit dan kematian sebelum waktunya.”[4]

Semakin lama, problem tidak lagi dipandang bagaikan sebuah kondisi, tetapi sebuah proses. Pergeseran tesmak pandang ini juga terjadi pada kesehatan. Lega tadinya 1980-an, WHO memerosokkan perkembangan kampanye promosi kebugaran. Gerakan ini memungkinkan orang-orang meningkatkan lagam atas kesegaran mereka dan memperbaiki status kesehatan mereka masing-masing. Bagi takhlik kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang acuan, sebagaimana definisi WHO mengenai kesehatan, seseorang alias sekerumun turunan perlu memiliki kemampuan untuk mengenali dan takhlik aspirasi, memenuhi kebutuhan, serta memungkiri atau mengatasi lingkungannya. Kesehatan dipandang sebagai mata air kiat untuk nyawa sehari-tahun, enggak tujuan hidup.[5]
Cak bagi mewujudkannya, ada beberapa prasyarat yang wajib dipenuhi, merupakan perdamaian, tempat habis, pendidikan, alat pencernaan, pendapatan, ekosistem yang stabil, sumur daya berkelanjutan, serta kesamarataan sosial dan kufu.[6]

Propaganda promosi kesehatan memungkinkan kebugaran cak bagi diajarkan, dipelajari, dan diperkuat. Kesadaran konsep kesehatan sebagai “kemampuan cak bagi beradaptasi dan mengatur diri sendiri” dan berkembangnya teknologi kesehatan berbasis digital telah membuka bab bagi setiap bani adam kerjakan menilai diri mereka seorang.[7]
Hal ini pun memungkinkan setiap anak adam untuk merasa sehat, bahkan momen mereka memiliki berbagai komplikasi kronis atau ki berjebah internal kondisi setopan.[8]
[9]
Belakangan, istilah “sehat” lagi banyak digunakan privat berbagai konteks organisasi tak hidup yang memengaruhi kepentingan manusia, seperti mana dalam kekerabatan sehat, kota sehat, alias lingkungan sehat.

Determinan sosial

[sunting
|
sunting sumber]

Secara umum, latar belakang dan konteks kehidupan seseorang sangat memengaruhi status kesehatan dan kualitas hidupnya. Kesehatan tidak namun dipertahankan dan ditingkatkan melampaui kemajuan dan penerapan ilmu kesehatan, tetapi juga melewati gaya vitalitas oleh satu individu dan mahajana sekitarnya. Menurut WHO, determinan sosial kesehatan adalah kondisi nan dialami seseorang ketika dilahirkan, tumbuh, berkreasi, jiwa, dan menua, serta serangkaian maslahat dan sistem yang makin luas nan membentuk kondisi spirit sehari-hari. Kondisi ini dibentuk oleh peredaran uang lelah, kekuasaan, dan sumur daya di tingkat global, kebangsaan, dan lokal. Kondisi tersebut sangat bertanggung jawab atas kesenjangan kesehatan, baik di dalam suatu negara alias di antara negara-negara.[10]
[11]

Faktor-faktor kunci makin eksklusif nan memengaruhi apakah seseorang sehat atau tidak sehat meliputi penghasilan dan gengsi sosial, jaringan dukungan sosial, pendidikan dan literasi, ketenagakerjaan/kondisi kerja, lingkungan sosial, lingkungan fisik, praktik kesehatan pribadi dan kelincahan mengatasi masalah, perkembangan masa kanak-kanak yang sehat, kondisi biologis dan genetik, perawatan kesehatan, gender, dan budaya.[12]
[13]

Visualisasi faktor-faktor determinan sosial kesegaran, yang meliputi perilaku orang, kondisi sosial, genetik dan biologi, perawatan kebugaran, dan lingkungan jasad.

Semakin banyak penelitian dan pemberitahuan yang meneliti keterkaitan antara kesehatan dan berbagai faktor, tersurat gaya jiwa, lingkungan, fasilitas peladenan kebugaran, dan ketatanegaraan kesehatan. Pelecok suatu ketatanegaraan distingtif yang dibuat banyak negara kerumahtanggaan beberapa tahun terakhir adalah pengenaan pajak terhadap gula. Minuman manis pun mulai dikenakan pajak dan menginjak ditargetkan maka itu propaganda antiobesitas akibat semakin banyaknya bukti yang menunjukkan hubungan antara minuman bergula tataran dengan kegemukan.[14]

Sebuah studi menyingkapkan bahwa seseorang dapat meningkatkan kesegaran mereka melangkaui tuntunan fisik, tidur yang patut, membatasi konsumsi alkohol, tidak merokok, menjaga jarang raga, dan sarapan dengan rutin.[15]
Lingkungan comar disebut sebagai faktor penting yang memengaruhi status kebugaran anak adam, terjadwal mileu hidup, mileu binaan, dan mileu sosial. Panduan kancah suntuk sudah lalu diterbitkan oleh WHO kerjakan mengedit kondisi medan suntuk sehingga dapat mengebumikan nyawa, mencegah kebobrokan, meningkatkan kualitas hidup, mengurangi kemelaratan, dan membantu mengurangi perubahan iklim.[16]
Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pangsa rekreasi, termasuk lingkungan umbul-umbul, akan menaruh tingkat kepuasan pribadi dan meningkatkan tingkat kegemukan, dan dikaitkan dengan rendahnya kesehatan dan kedamaian secara publik.[17]
Sementara itu, semakin banyak perian nan dihabiskan di lingkungan alam akan berdampak nyata plong kesehatan.[18]

Genetik, atau sifat buah tangan berasal ayah bunda, juga bertindak intern menentukan gengsi kesehatan turunan dan populasi. Hal ini mencengap kecenderungan terhadap kebobrokan dan kondisi kesegaran tertentu, serta resan dan perilaku yang dikembangkan oleh seseorang akibat gaya spirit keluarga mereka.[19]
Perumpamaan teladan, genetik dapat memengaruhi cara seseorang mengatasi stres, baik mental, emosional, atau fisik. Misalnya, kegemukan yaitu masalah signifikan yang berkontribusi terhadap kesehatan mental yang buruk dan menyebabkan stres dalam semangat banyak anak adam.[20]

Kesegaran global

[sunting
|
sunting mata air]

Kesehatan global merupakan penelitian dan tindakan kolaboratif lintas negara untuk mempromosikan kesehatan lakukan semua.[21]
Penyakit kebugaran yang melangkaui batas negara ataupun memiliki dampak strategi dan ekonomi global acap kali ditekankan. Seri
Maklumat Kesegaran Dunia
yang diterbitkan oleh WHO berfokus sreg problem kebugaran global, termasuk akses bakal mendapatkan peladenan kebugaran dan upaya meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang.[22]

Agenda Kesabaran Kesehatan Global (GHSA) merupakan upaya multisektor maka itu kian dari 60 negara dan sejumlah organisasi jagat nan berpusat buat membangun ketahanan kesehatan intern menghadapi ancaman penyakit infeksi.[23]
Padahal, lega tahun 2000, anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan Tujuan Pembangunan Milenium nan weduk tantangan yang akan diwujudkan umat manusia pada tahun 2022. Bulan-bulanan ini kemudian dilanjutkan oleh Tujuan Pembangunan Bersambung-sambung kasatmata 17 target yang akan dicapai pada masa 2030, terdaftar hidup cegak dan sejahtera.[24]

Kesehatan mental

[sunting
|
sunting sumber]

Mental merupakan keseleo satu unsur nan dimasukkan oleh WHO dalam definisi kebugaran. Kesehatan mental alias kesehatan jiwa didefinisikan WHO ibarat “Kondisi kesejahteraan ketika basyar menyadari kemampuannya koteng, boleh memintasi tekanan nyawa yang normal, dapat berkarya secara produktif dan bermanfaat, dan ki berjebah memberikan kontribusi kepada komunitasnya”.[25]
Kesegaran jiwa bukan hanya ketiadaan gangguan jiwa.[26]

Berbagai faktor sosial, serebral, dan biologis menentukan kesehatan sukma seseorang. Kekerasan dan tekanan ekonomi nan persisten berisiko mengganggu kebugaran usia, sementara kekerasan seksual merupakan faktor yang minimum diasosiasikan dengan kesehatan jiwa yang buruk. Faktor bukan yang berpengaruh di antaranya peralihan sosial yang cepat, kondisi kerja yang munjung tekanan, diskriminasi gender, pengucilan sosial, gaya spirit tidak bugar, kebugaran fisik nan buruk, dan pelanggaran milik asasi manusia.[26]

Gangguan sukma hadir dalam heterogen rangka, yang umumnya dicirikan dengan nikah antara pemikiran, persepsi, emosi, perilaku serta hubungan dengan makhluk lain yang terbatas.[27]
Puas 2001, WHO memperkirakan bahwa satu dari empat orang pernah menderita bisikan jiwa alias gangguan saraf pada suatu titik dalam kehidupannya.[28]

Pemeliharaan

[sunting
|
sunting sumber]

Diet

[sunting
|
sunting sumber]

Pendirian utama buat menjaga kesehatan pribadi yakni memiliki diet dan pola makan yang sehat. Diet segak mencakup bermacam rupa makanan nabati dan hewani yang menyediakan nutrien bagi tubuh. Nutrien akan diubah menjadi energi bakal pertumbuhan, kronologi, restorasi, dan pemeliharaan fisik. Nutrien makro dikonsumsi dalam besaran yang relatif ki akbar, yang mencakup protein, fruktosa, dan legit. Nutrien mikro, seperti vitamin dan mineral, dikonsumsi dalam kuantitas yang nisbi lebih kecil tetapi sangat penting bakal proses bodi.[29]
Panduan gizi sederajat ialah panduan makanan fit berbentuk piramida nan dibagi menjadi beberapa bagian. Setiap bagian menunjukkan asupan nan disarankan untuk setiap kelompok kandungan (misalnya protein, nikmat, karbohidrat, dan sakarosa). Konsumsi diet sehat dapat menempatkan risiko penyakit jantung, mencegah jalan sejumlah varietas kanker, dan menjaga berat badan yang sehat.[30]
Diet mediterania umumnya dikaitkan dengan meningkatnya kesehatan karena diet ini mengandung banyak campuran bioaktif seperti senyawa fenolik, isoprenoid, dan alkaloid.[31]

Kursus raga

[sunting
|
sunting sumber]

Latihan fisik meningkatkan atau mempertahankan kesegaran fisik dan kesehatan, serta kesejahteraan secara keseluruhan. Kegiatan ini memperkuat otot dan meningkatkan kinerja sistem kardiovaskular. Menurut Perkumpulan Kebugaran Nasional, ada empat jenis latihan fisik: daya resistan, kekuatan, fleksibilitas, dan keadilan.[32]

Tidur

[sunting
|
sunting sumber]

Jam tidur yang diperlukan oleh setiap kerubungan arwah.[33]
Kehidupan dan kondisi Kebutuhan tidur
Baru lahir (0–3 rembulan) 14 sebatas 17 jam
Orok (4–11 rembulan) 12 sampai 15 jam
Batita (1–2 tahun) 11 sampai 14 jam
Balita (3–4 tahun) 10 sampai 13 jam
Anak usia sekolah (5–12 tahun) 9 sampai 11 jam
Remaja (13–17 tahun) 8 hingga 10 jam
Dewasa (18–64 tahun) 7 sebatas 9 jam
Lanjut usia (65 periode ke atas) 7 hingga 8 jam

Tidur merupakan suku cadang penting untuk menjaga kesehatan. Lakukan anak asuh-anak, tidur lagi terdahulu untuk pertumbuhan dan jalan. Kekurangan tidur dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa komplikasi kesegaran kronis. Selain itu, rungau terbukti berkorelasi dengan peningkatan kerentanan terhadap komplikasi dan memperlambat waktu pemulihan dari penyakit.[34]
N domestik sebuah studi, orang dengan kekurangan tidur yang kronis, yaitu seumpama enam jam tidur n domestik semalam atau kurang, ditemukan empat mana tahu lebih mungkin terserang influensa dibandingkan dengan khalayak-cucu adam yang melaporkan tidur lilin batik selama sapta jam atau lebih.[35]
Karena tidur juga berperan kerumahtanggaan mengatur metabolisme, kehabisan tidur juga dapat main-main n domestik interpolasi berat awak atau, sebaliknya, membendung penurunan berat bodi.[36]
Selain itu, pada periode 2007, Badan Internasional kerjakan Pengkajian Kanker, yang ialah lembaga pendalaman kanker buat WHO, menyatakan bahwa “jam kerja nan mengikutsertakan alai-belai ritme sirkadian kali berkarakter karsinogen bagi manusia.”[37]
Sreg 2022, Yayasan Tidur Nasional menerbitkan rekomendasi terbaru adapun persyaratan durasi tidur berdasarkan usia dan mengikhtisarkan bahwa, “Orang nan terbiasa tidur di luar kisaran formal bisa jadi menunjukkan keunggulan atau gejala kelainan kesehatan yang betul-betul atau, seandainya dilakukan atas kehendak koteng, dapat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan mereka.”[33]
[38]

Intern bekerja

[sunting
|
sunting sendang]

Selain risiko keselamatan, banyak pekerjaan pula berisiko mencadangkan penyakit dan ki aib kesehatan jangka tinggi lainnya. Contoh kebobrokan akibat pekerjaan yang paling awam merupakan beraneka ragam bentuk pneumokoniosis, sebagai halnya silikosis dan pneumokoniosis pekerja rayuan bara (penyakit paru-paru hitam). Asma yaitu kelainan asimilasi lain nan rentan dialami pekerja. Pelaku sekali lagi rentan terhadap penyakit indra peraba, tertera eksim, dermatitis, urtikaria, bakaran surya, dan kanker kulit.[39]
Penyakit terkait pekerjaan lainnya misalnya sindrom lorong karpal dan keracunan timbal.

Karena jumlah jalan hidup di sektor jasa di negara-negara maju semakin banyak, gaya nasib kurang bergerak pula semakin merebak. Hal ini menghadirkan ki kesulitan kesehatan yang berbeda dibandingkan dengan masalah kesehatan plong pabrik manufaktur dan sektor primer. Kebobrokan kontemporer, seperti meningkatnya tingkat obesitas dan ki aib nan berkaitan dengan stres dan pekerjaan terlalu di banyak negara, semakin mempersulit interaksi antara pekerjaan dan kesehatan.

Banyak pemerintah negara yang memandang kebugaran kerja sebagai tantangan sosial dan membentuk organisasi masyarakat cak bagi memastikan kesegaran dan keselamatan pekerja. Di Britania Raya, Eksekutif Kesegaran dan Keselamatan dibentuk.[40]
Darurat di Amerika Serikat, Institut Nasional cak bagi Kebugaran dan Keselamatan Kerja melakukan riset adapun kesehatan dan keselamatan kerja, sedangkan Administrasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja menangani regulasi dan kebijakan nan berkaitan dengan kebugaran dan keselamatan bakal pekerja.[41]
[42]

Teks

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    Organisasi Kesehatan Dunia (2020). “Constitution of the World Health Organization”.
    Basic Documents
    (PDF)
    (edisi ke-49). Jenewa: Organisasi Kesehatan Manjapada. hlm. 1. ISBN 978-92-4-000051-3.




  2. ^


    a




    b




    “Definitions of Health”.
    AFMC. Diarsipkan berpunca varian zakiah tanggal 12 Agustus 2022.





  3. ^


    Organisasi Kebugaran Dunia (1958).
    The First ten years of the World Health Organization. Jenewa: Organisasi Kesegaran Manjapada. hlm. 459. ISBN 9241560142.
    Health is a state of complete physical, mental and social well-being and titinada merely the absence of disease or infirmity“.





  4. ^


    Stokes, Joseph; Noren, Jay; Shindell, Sidney (1982). “Definition of terms and concepts applicable to clinical preventive medicine”.
    Journal of Community Health.
    8
    (1): 33–41. doi:10.1007/BF01324395. ISSN 0094-5145.

    A state characterized by anatomic integrity; ability to perform personally valued family, work, and community roles; ability to deal with physical, biological and social stress; a feeling of well-being; and freedom from the risk of disease and untimely death.






  5. ^


    Organisasi Kesehatan Dunia (1984).
    Health Promotion: A Discussion Document on the Concept and Principles: Summary Report of the Working Group on Concept and Principles of Health Promotion, Copenhagen, 9–13 July 1984. Kopenhagen: WHO Regional Office for Europe.

    Health promotion is the process of enabling people to increase control oper, and to improve, their health. To reach a state of complete physical, mental and social well-being, an individual or group must be able to identify and to realize aspirations, to satisfy needs, and to change or cope with the environment. Health is, therefore, seen as a resource for everyday life, not the objective of living.






  6. ^


    Organisasi Kesegaran Manjapada. “The Ottawa Charter for Health Promotion”.
    WHO
    . Diakses sungkap
    22 Juni
    2022
    .





  7. ^


    Jadad, Alejandro R. (November 2022). “Creating a pandemic of health: What is the role of digital technologies?”.
    Journal of Public Health Policy.
    37
    (S2): 260–268. doi:10.1057/s41271-016-0016-1. ISSN 0197-5897.





  8. ^


    Kotha, S.R.; Jadad, A.R.; Hu, H. (2015). “Creating a Pandemic of Health: Opportunities and Lessons for a University Initiative at the Intersection of Health, Equity, and Innovation”.
    Harvard Public Health Review: A Student Publication. Diarsipkan bermula versi nirmala tanggal 2022-03-07. Diakses terlepas
    22 Juni
    2022
    .





  9. ^


    Jadad, A.R. (2013). “On Living a Long, Healthy, and Happy Life, Full of Love, and with no Regrets, mengangsur Our Last Breath”.
    Verhaltenstherapie.
    23
    (4): 287–289. doi:10.1159/000357490. ISSN 1423-0402.





  10. ^


    Organisasi Kebugaran Dunia. “Social Determinants of Health”.
    WHO
    . Diakses terlepas
    22 Juni
    2022
    .





  11. ^


    Organisasi Kesehatan Dunia. “About Social Determinants of Health”.
    WHO
    . Diakses tanggal
    23 Juni
    2022
    .





  12. ^


    “Social Determinants of Health and Health Inequalities”.
    Government of Canada
    . Diakses sungkap
    22 Juni
    2022
    .





  13. ^


    Lalonde, Marc (1981).
    A New Perspective on the Health of Canadians: A Working Document
    (PDF). Ottawa: Minister of Supply and Services Canada. ISBN 0-662-50019-9.





  14. ^


    Andreyeva, Tatiana; Chaloupka, Frank J.; Brownell, Kelly D. (Juni 2022). “Estimating the Potential of Taxes on Sugar-sweetened Beverages to Reduce Consumption and Generate Revenue”.
    Preventive Medicine.
    52
    (6): 413–416. doi:10.1016/j.ypmed.2011.03.013.





  15. ^


    Wingard, Deborah L.; Berkman, Lisa F.; Brand, Richard J. (November 1982). “A Multivariate Analysis of Health-Related Practices”.
    American Journal of Epidemiology.
    116
    (5): 765–775. doi:10.1093/oxfordjournals.aje.a113466. ISSN 1476-6256.





  16. ^


    Organisasi Kebugaran Manjapada (23 November 2022). “WHO Housing and health guidelines”.
    WHO
    . Diakses tanggal
    23 Juni
    2022
    .





  17. ^


    Bjork, J; Albin, M; Grahn, P; Jacobsson, H; Ardo, J; Wadbro, J; Ostergren, P-Udara murni; Skarback, E (1 April 2008). “Recreational values of the natural environment in relation to neighbourhood satisfaction, physical activity, obesity and wellbeing”.
    Journal of Epidemiology & Community Health.
    62
    (4): e2–e2. doi:10.1136/jech.2007.062414. ISSN 0143-005X.





  18. ^


    White, Mathew P.; Alcock, Ian; Grellier, James; Wheeler, Benedict W.; Hartig, Terry; Warber, Sara L.; Bone, Angie; Depledge, Michael H.; Fleming, Lora E. (Desember 2022). “Spending at least 120 minutes a week in nature is associated with good health and wellbeing”.
    Scientific Reports.
    9
    (1): 7730. doi:10.1038/s41598-019-44097-3. ISSN 2045-2322. PMC6565732alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 31197192.





  19. ^


    Institute of Medicine (US) Committee on Assessing Interactions Among Social, Behavioral, and Genetic Factors in Health (2006). “3. Genetics and Health”. Internal Hernandez, L.M.; Blazer, D.G.
    Genes, Behavior, and the Social Environment: Moving Beyond the Nature/Nurture Debate. Washington DC: National Academies Press.





  20. ^


    Rajan, Tm; Menon, V (2017). “Psychiatric disorders and obesity: A review of association studies”.
    Journal of Postgraduate Medicine.
    63
    (3): 182. doi:10.4103/jpgm.JPGM_712_16. ISSN 0022-3859. PMC5525483alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 28695871.





  21. ^


    Beaglehole, Robert; Bonita, Ruth (Desember 2010). “What is mondial health?”.
    Global Health Action.
    3
    (1): 5142. doi:10.3402/gha.v3i0.5142. ISSN 1654-9716. PMC2852240alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 20386617.





  22. ^


    Organisasi Kesehatan Bumi. “World Health Report”.
    WHO
    . Diakses copot
    22 Juni
    2022
    .





  23. ^


    “Menyeluruh Health Security Agenda”.
    Global Health Security Agenda. Diarsipkan berpangkal versi steril copot 2022-03-31. Diakses tanggal
    24 Juni
    2022
    .





  24. ^


    “About the Sustainable Development Goals”.
    United Nations Sustainable Development
    . Diakses copot
    24 Juni
    2022
    .





  25. ^


    Organisasi Kesehatan Dunia (2004).
    Promoting Mental Health: Summary Report
    (PDF). Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia. hlm. 12. ISBN 9241591595.




  26. ^


    a




    b




    “Mental health: strengthening our response”.
    WHO. 30 Maret 2022. Diakses tanggal
    24 Juni
    2022
    .





  27. ^


    “Mental disorders: Key facts”.
    WHO. 28 November 2022. Diakses tanggal
    24 Juni
    2022
    .





  28. ^


    “Mental disorders affect one in four people”.
    WHO. 4 Oktober 2001. Diakses copot
    24 Juni
    2022
    .





  29. ^


    “Nutrients”.
    WHO
    . Diakses terlepas
    19 Juli
    2022
    .





  30. ^


    “Healthy Eating”.
    New South Wales Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 Februari 2022.





  31. ^


    Garrido M; González-Flores D; Marchena AM; Propr E; García-Parra J; Barriga C; Rodríguez A.B. (2013). “A lycopene-enriched virgin olive oil enhances antioxidant pamor in humans”.
    Journal of the Science of Food and Agriculture.
    93
    (8): 1820–26. doi:10.1002/jsfa.5972. PMID 23225211.





  32. ^


    “Four Types of Exercise Can Improve Your Health and Physical Ability”.
    National Institutes of Health
    . Diakses rontok
    19 Juli
    2022
    .




  33. ^


    a




    b




    Hirshkowitz, Max; Whiton, Kaitlyn; et al. (14 January 2022). “National Sleep Foundation’s sleep time duration recommendations: methodology and results summary”.
    Sleep Health.
    1
    (1): 40–43. doi:10.1016/j.sleh.2014.12.010. PMID 29073412. Diarsipkan dari versi steril tanggal 14 November 2022. Diakses sungkap
    4 February
    2022
    .





  34. ^


    Pilkington, Stephanie (7 Agustus 2022). “Causes and consequences of sleep deprivation in hospitalised patients”.
    Nursing Standard.
    27
    (49): 35–42. doi:10.7748/ns2013.08.27.49.35.e7649. ISSN 0029-6570.





  35. ^


    Rea, Shilo (31 Agustus 2022). “New Research Confirms Lack of Sleep Connected To Getting Sick – News – Carnegie Mellon University”.
    Carnegie Mellon University
    . Diakses tanggal
    19 Juli
    2022
    .





  36. ^


    Patel, Sanjay R.; Hu, Frank B. (2008). “Short Sleep Duration and Weight Gain: A Systematic Review”.
    Obesity.
    16
    (3): 643–653. doi:10.1038/oby.2007.118. ISSN 1930-739X. PMC2723045alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 18239586.





  37. ^


    “IARC Monographs Programme finds cancer hazards associated with shiftwork, painting and firefighting”.
    International Agency for Research on Cancer. 5 Desember 2007. Diarsipkan berasal versi jati tanggal 21 Juli 2022.





  38. ^


    Hirshkowitz, Max; Whiton, Kaitlyn; Albert, Steven M.; Alessi, Cathy; Bruni, Oliviero; DonCarlos, Lydia; Hazen, Nancy; Herman, John; Katz, Eliot S. (Maret 2022). “National Sleep Foundation’s sleep time duration recommendations: methodology and results summary”.
    Sleep Health.
    1
    (1): 40–43. doi:10.1016/j.sleh.2014.12.010.





  39. ^


    “Skin Exposures and Effects”.
    CDC
    . Diakses sungkap
    5 Juli
    2022
    .





  40. ^


    “HSE: Information about health and safety at work”.
    HSE
    . Diakses tanggal
    5 Juli
    2022
    .





  41. ^


    “The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH)”.
    CDC
    . Diakses tanggal
    5 Juli
    2022
    .





  42. ^


    “Occupational Safety and Health Administration”.
    OSHA
    . Diakses tanggal
    5 Juli
    2022
    .




Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]


  • Media terkait Health di Wikimedia Commons



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kesehatan